Kamis, 13 September 2012

TULISAN ILMIAH

Razuardi, 1983  



MEMBUAT JUDUL KARYA ILMIAH (SKRIPSI)


Bagian 1
Sekilas Definisi Karya Tulis Ilmiah

1.1       Definisi
Tulisan ilmiah merupakan suatu produk karya tulis yang bertujuan mengungkap kondisi  permasalahan, yang diperkuat data dengan sumber yang jelas, metodologi yang diperkuat literatur, sehingga dapat disimpulkan untuk pengungkapan hubungan kausalitas antara data dengan permasalahan yang ditulis.
Jasin, M, 1992, mengemukakan bahwa pengetahuan masuk kategori ilmu pengetahuan, bila kriteria berikut terpenuhi, yakni teratur, sistematis, berobjek, bermetoda, dan berlaku secara universal. Selanjutnya, beliau mengatakan, pemecahan segala masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.
1.2       Tujuan Penulisan Karya Ilmiah
Menurut Suryabrata, 1995, pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun atas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasar atas dasar empiris. Selanjutnya menurut Suryabrata, laporan ilmiah hasil penelitian memenuhi syarat keterbukaan ilmu pengetahuan sehingga ilmuwan lain dapat memahami, menilai, bahkan menguji kembali  hasil penelitian itu.
Penulisan karya ilmiah bertujuan untuk menjaga kelangsungan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu agar perjalanan ilmu pengetahuan tidak berhenti sepanjang masa. Para penulis karya ilmiah harus memahami teknik penulisan ilmiah, pengelolaan data, metodelogi, referensi kepustakaan, pemberian judul, tata bahasa, sehingga mudah dipahami berbagai pihak yang membacanya. Contoh karya ilmiah yang digunakan hingga saat ini, seperti penemuan masa lalu oleh ilmiawan di abad terdahulu. Di antaranya, Newton, Boyle, Galileo, dan sebagainya.
1.3       Jenis Tulisan Ilmiah
Beberapa jenis tulisan ilmiah yang beredar di Indonesia dan telah memenuhi standar penulisan ilmiah baik di dalam, maupun di luar negeri yakni :
·         Buku hasil temuan
·         Jurnal
·         Paper atau makalah atau kertas kerja
·         Laporan penelitian laboratorium, lapangan, dan lain-lain
·         Skripsi atau tugas akhir bagi pendidikan strata 1(S1)
·         Tesis atau tugas akhir bagi pendidikan strata 2 (S2)
·         Disertasi atau tugas akhir bagi pendidikan strata 3 (S3)
·         Dan lain-lain
1.4       Unsur Pokok Dalam Penulisan Ilmiah
Tulisan ilmiah merupakan karya yang mampu dibuktikan kebenarannya melalui alasan-alasan tertentu. Karya tulis ini ada yang berbasis sains dan teknologi, juga ada yang berbasis sosial. Namun demikian,  dalam penulisan ilmiah beberapa unsur pokok penting yang tidak dapat diabaikan yaitu :
1.     Informasi masalah, ditentukan oleh penulis berdasarkan pemilihan masalah yang dirasakan perlu untuk diungkap dalam rencana penulisan.
2.     Data yang valid produk peneltian, primer atau skunder, diperoleh dari lapangan atau informasi sesuai dengan metode penelitian yang didasari ketentuan penelitian ilmiah.
3.     Pendapat atau teori terdahulu berdasarkan literatur, diperoleh dari kepustakaan sesuai dengan hipotesa penulis untuk memperkuat misi penulisan.

4.     Metodologi pemecahan masalah, diperoleh dari kepustakaan namun disesuaikan dengan hipotesa dan masalah yang akan dipecahkan dalam penulisan.
5.     Kesimpulan yang didasari ulasan, analisis, bahasan.
1.5       Sistematika (Outline)  Penulisan Ilmiah
Dalam penyusunan laporan atau karya tulis ilmiah, Suryabrata, 1995, mengatakan bahwa banyak tatatulis penulisan ilmiah yang telah diusulkan orang atau profesi, yang masing-masing dapat dianggap merupakan suatu sistem yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan dan alasan tertentu. Sistem mana yang digunakan tidak merupakan soal, yang penting sekali ialah suatu sistem dipilih hendaknya diikuti secara baik, sehingga terdapat konsistensi dalam laporan itu.
Oleh karena kecenderungan tulisan ilmiah lebih mengutamakan hubungan sebab akibat maka kesepakatan sebagian para ilmiawan mengatur tatacara penulisan dengan mengharuskan adanya unsur-unsur yang dijadikan bahan tulisan. Sekurang-kurangnya, penulisan ilmiah dikelompokkan ke dalam lima bahagian yang terdiri dari :
A          Outline untuk kelompok penelitian, bagian pokok terdiri dari lima bab yaitu:
§  Bab      I           Pendahuluan;
§  Bab      II           Tinjauan Kepustakaan;
§  Bab      III          Metode Penelitian;
§  Bab      IV         Hasil dan Pembahasan: dan
§  Bab      V          Kesimpulan dan Saran.
B          Outline untuk kelompok perencanaan, bagian pokok terdiri dari lima bab yaitu:
§  Bab      I           Pendahuluan;
§  Bab      II           Tinjauan Kepustakaan;
§  Bab      III          Metode Perencanaan;
§  Bab      IV         Hasil Perhitungan dan Pembahasan; dan
§  Bab      V          Kesimpulan dan Saran.
C          Outline untuk kelompok studi literatur, bagian pokok terdiri dari lima bab yaitu:
§  Bab I                Pendahuluan;
§  Bab II                Telaah Kepustakaan;
§  Bab III               Metode Studi;
§  Bab IV              Pembahasan; dan
§  Bab V               Kesimpulan dan saran.
1.6       Penggunaan Bahasa Indonesia
Tulisan ilmiah menggunakan Bahasa Indonesa fasif, yang bertujuan untuk mengedepankan objektivitas dari tulisan itu sendiri. Penggunaan bahasa yang dilakukan haruslah dengan Bahasa Indonesia sesuai standar tatabahasa yang digunakan dalam dunia akademis.












Bagian 2
Outline Skripsi/Tugas Akhir (TGA)

Skripsi atau ada juga lembaga pendidikan tertentu menamakan dengan tugas akhir (TGA), yaitu suatu karya tulis yang diwajibkan kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan sejumlah pelajaran pada sistem pembelajaran pasca Sekolah Menengah Atas (SLA).  
Skripsi disusun atas tiga bagian yaitu pembukaan, pokok, dan penutup. Outline laporan yang menjadi penekanan syarat akademik di sini adalah penulisan bagian pokok, sedangkan bagian pembukaan dan penutup dibahas lebih lanjut pada Bab IV. Penulisan bagian pokok dibedakan menurut bentuk penelitian, perencanaan, dan bentuk studi literatur. Jumlah halaman penulisan skripsi bagian pokok ini dibatasi antara 20 – 40 lembar.
2.1       Ringkasan/Abstrak
            Bagian ringkasan yang ditempatkan di awal penulisan sebelum daftar isi harus memuat penjelasan secara ringkas mengenai latar belakang, masalah, metode penelitian, hasil-hasil utama, kesimpulan dan saran. Abstrak harus ditulis dengan padat dan singkat, dalam satu alinea, sebanyak-banyaknya antara 250-300 kata, tidak melebihi satu halaman, dan diketik berjarak satu spasi.
2.2       Bentuk Penelitian
            Penelitian merupakan kegiatan penelusuran data yang akan ditulis menjadi suatu bentuk karya ilmiah. Out put suatu penelitian adalah data. Sementara data dalam penelitian dapat digolongkan ke dalam data primer dan skunder. Data primer yaitu data yang diuji langsung oleh peneliti, sedangkan data primer merupakan data yang diperoleh setelah diolah melalui metode tertentu. Oleh karenanya, pelaksanaan penelitian distandarkan dengan metode tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan bila ada pihak tertentu berkenan melakukan penelitian ulang akan didapat hasil yang sama atau mendekati.
            Outline bagian pokok terdiri dari lima bab yaitu:
§  Bab      I           Pendahuluan;
§  Bab      II           Tinjauan Kepustakaan;
§  Bab      III          Metode Penelitian;
§  Bab      IV         Hasil dan Pembahasan: dan
§  Bab      V          Kesimpulan dan Saran.
Isi masing-masing bab diuraikan secara rinci sebagai berikut ini.
a.     Bab I    Pendahuluan
Isi bab pendahuluan adalah memberikan gambaran umum kepada pembaca agar mengerti dan mampu menilai hasil tulisan tanpa harus membaca semua tulisan lainnya dalam buku tersebut. Pendahuluan ditulis tanpa heading (pasal) dan jumlah halaman penulisan Bab I ini antara 2-3 lembar.
Isi pokok dari bab ini minimal terdiri dari beberapa alinea yang antara lain seperti tersebut di bawah ini.
1.     Alinea yang menjelaskan latar belakang tentang pemilihan masalah yang diteliti. Alinea ini menjawab pertanyaan mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.
2.     Alinea yang menjelaskan tentang tujuan dan ruang lingkup penelitian. Alinea ini menjawab pertanyaan apa yang ingin dicapai dengan melakukan penelitian dan sampai sejauh mana hasil penelitian yang ingin dicapai.
3.     Alinea yang menjelaskan tentang hipotesis penelitian, apabila penelitian tersebut memiliki hipotesis. Alinea ini berisikan dugaan kebenaran sementara yang akan dihasilkan oleh penelitian dan dugaan kebenaran sementara ini yang akan dibuktikan oleh penelitian tersebut.
4.     Alinea yang menjelaskan tentang metodologi penelitian secara ringkas dan umum. Alinea ini berisikan teori, rumus, data, metode, model, alat, lokasi, waktu dan hal-hal lain yang digunakan untuk dapat mencapai tujuan penelitian.
5.     Alinea yang menjelaskan tentang hasil, kesimpulan dan saran yang dapat diberikan oleh penelitian. Alinea ini berisikan hasil, kesimpulan dan saran yang utama atau yang ingin ditonjolkan atau yang dapat memberi gambaran implikasi atau manfaat penelitian.
Pada proposal penelitian, alinea yang menjelaskan tentang hasil ini berisikan kalimat-kalimat tentang hasil yang diharapkan dari penelitian tersebut.
b.    Bab II Tinjauan Kepustakaan

Tinjauan kepustakaan bertujuan memberikan landasan teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Jumlah halaman penulisan Bab II antara 3-12 lembar.
Isi-isi pokok dari bab ini antara lain seperti tersebut di bawah ini.

1.     Kerangka teori yang digunakan meliputi anggapan-anggapan dasar, rumus-rumus, dan cara-cara perhitungan yang akan menunjang pengolahan data dan diskusi.
2.     Hasil-hasil penelitian terhadap masalah serupa yang telah diteliti.
3.     Teori-teori yang dipakai atau dipetik dari literatur-literatur lain yang bersifat kritis harus mempunyai kaitan erat dengan permasalahan yang ditinjau dan akan terpakai untuk pengolahan data dan pembahasan dalam Bab IV.

Pelaksanaan penulisan bab ini adalah sebagai berikut :
1.     Tinjauan kepustakaan ditulis dengan pasal/paragraf yang dapat memperjelas pembahasannya. Tiap paragraf harus ada rujukannya dan harus ditulis menurut cara yang terdapat pada buku panduan penulisan skripsi ini. Uraiannya harus sejalan dengan topik skripsi/TGA. Uraian ini tidak boleh sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain meskipun untuk topik/tema TGA yang sama.
2.     Jenis kepustakaan yang dipakai di antaranya jurnal, majalah, prosiding, kumpulan hasil penelitian lainnya, disertasi, thesis, dan skripsi serta buku-buku teks. Sangat dianjurkan untuk mereview tulisan TGA mahasiswa sebelumnya dengan topik/tema yang bedekatan/berkaitan.

c.     Bab III   Metode Penelitian

Metode penelitian berisikan tata cara pelaksanaan kerja sesuai dengan ketentuan umum atau standar dan pelaksanaan khusus yang dilaksanakan oleh mahasiswa sendiri. Jumlah halaman penulisan Bab III antara 3-12 lembar.

Isi-isi pokok bab ini adalah sebagai berikut ini.

1.     Sumber data;
2.     Material/bahan yang digunakan;
3.     Situasi dan lokasi objek/material;
4.     Jadwal penelitian;
5.     Prosedur penelitian;
6.     Rancangan yang digunakan;
7.     Alat-alat yang dipakai dalam penelitian; dan
8.     Cara pengolahan data atau analisis data untuk mendapatkan hasil penelitian

d.    Bab IV  Hasil dan Pembahasan

Tujuan bab ini adalah mengungkapkan hasil penelitian dan menghubungkannya dengan isi Bab II dan Bab III sehingga diperoleh suatu pembahasan. Jumlah halaman penulisan bab IV antara 10-25 lembar.

Isi-isi pokok antara lain mencakup beberapa hal berikut ini :

1.     Hasil-hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk uraian (narasi) yang dilengkapi dengan table atau gambar/grafik.
2.     Hasil-hasil atau pembahasan harus dinyatakan dalam satuan-satuan terukur yang mudah dimengerti.
3.     Sajian hasil dan data menurut urutan yang logis.
4.     Pada bagian pembahasan diungkapkan prinsip hubungan antara variable-variable dengan hasil yang diperoleh dan generalisasi/kecenderungan yang ditunjuk oleh hasil perhitungan, penafsiran hasil, dan fakta-fakta kepustakaan.
5.     Tulisan ini harus memperlihatkan pengecualian-pengecualian atau ketimpangan yang ada.
6.     Tulisan ini juga memperlihatkan persamaan dan perbedaan dengan pekerjaan serupa lainnya.
7.     Isinya memperlihatkan implikasi tioritis dan praktis.
8.     Kaitan hasil temuan-temuan dengan kenyataan yang ada dalam dunia konstruksi secara nyata baik dari segi teknik maupun manajemennya.
9.     Pada bagian akhir bab ini, perlu disimpulkan hasil pembahasan dan diskusi.
10.  Kesimpulan yang ditarik harus secara hati-hati dan sederhana.  Jangan menarik kesimpulan umum dari data yang sangat terbatas.
11.  Bila perlu menguji hipotesis maka hasil penelitian dapat juga dikaitkan dengan perhitungan statistik.
12.  Hasil-hasil penelitian yang kemungkinan akan sejalan atau berbeda atau bahkan bertentangan dengan temuan atau pendapat orang lain dibahas/didiskusikan.
13.  Untuk memperjelas dan memudahkan pembahasan maka gambar-gambar/grafik yang merupakan kesimpulan atau rangkuman perlu ditampilkan langsung dalam bagian hasil penelitian, jangan ditempatkan di lampiran.
14.  Setiap tabel dan gambar harus diberi nomor dan nama yang jelas sesuai dengan ketentuan yang ada pada buku panduan penulisan skripsi ini.
15.  Semua gambar/grafik dan tabel yang  ditampilkan perlu diberi ulasan atau penjelasan dalam isi buku skripsi/TGA.
16.  Hasil dan pembahasan boleh tidak dipisahkan dalam pasal/sub-bab yang berbeda atau dengan kata lain pembahasan boleh juga ditulis dalam pasal/sub-bab yang menjelaskan hasil.

e.     Bab V   Kesimpulan dan Saran

Bab kesimpulan dan saran ini berisikan antara lain beberapa hal seperti uraian berikut ini.
1.     Kesimpulan ditarik penulis dari hasil pengujian/penelitian yang telah didiskusikan pada Bab IV, khususnya bagian pembahasan hasil. Hal yang masuk dalam pembahasan tidak tepat ditampilkan dalam bab kesimpulan. Jumlah halaman penulisan Bab V antara 1-3 lembar.
2.     Kesimpulan adalah bagian yang sebelumnya telah dibahas/didiskusikan berdasarkan hasil penelitian.
3.     Ungkapan dalam bagian kesimpulan berbentuk kalimat biasa dan tidak merujuk langsung pada nomor pasal, persamaan, atau gambar.
4.     Pada bagian saran perlu ditulis keinginan penulis untuk menyempurnakan penelitian yang dilakukan atau ingin dilanjutkan oleh peneliti lain.
5.     Saran boleh tidak ditulis bila tidak mampu dibuat.

2.3       Bentuk Perencanaan
Penulisan ilmiah yang berorientasi kepada perencanaan tentu memerlukan data-data pendukung untuk direncanakan. Instrumen penting dari perencanaan ini adalah metode perencanaan yang pernah dilakukan oleh para perencana terdahulu dan dapat dibuktikan secara ilmiah.
            Outline bagian pokok terdiri dari lima bab yaitu:
§  Bab      I           Pendahuluan;
§  Bab      II           Tinjauan Kepustakaan;
§  Bab      III          Metode Perencanaan;
§  Bab      IV         Hasil Perhitungan dan Pembahasan; dan
§  Bab      V          Kesimpulan dan Saran.
Tata cara dan isi penulisan Bab I, Bab II, Bab V dapat dirujuk pada bentuk penelitian dengan penyesuaian-penyesuaian seperlunya untuk bentuk perencanaan. Isi-isi pokok Bab III dan Bab IV menurut uraian berikut ini.
a.     Bab III Metode Perencanaan
Dalam bab ini diungkapkan prosedur pemecahan masalah yang menjadi tinjauan, sumber data, situasi dan lokasi objek, material atau bahan yang menjadi perencanaan. Di samping itu, perlu dijelaskan cara pengumpulan data, teori dan rumus, metode perhitungan, model-model atau langkah-langkah untuk analisis data.
b.    Bab IV  Hasil Perhitungan dan Pembahasan
Bab ini berisikan hasil-hasil perhitungan yang telah disajikan dalam bentuk tabel ataupun gambar/grafik yang disertai dengan ulasan/penjelasan. Hasil-hasil perhitungan harus dinyatakan dalam satuan-satuan yang terukur dan mudah dimengerti.
Dalam bagian pembahasan dikemukaan prinsip hubungan dan kecendrungan-kecendrungan yang ditunjuk oleh hasil perhitungan dengan sumber kepustakaan yang pernah ada. Dikemukakan implikasi teoritis ataupun praktis dari hasil pembahasan. Untuk tiap bagian yang dibahas, pada bagian akhirnya perlu diikhtisarkan secara jelas pendapat penulis.

2.4       Bentuk Studi Literatur
Studi literatur merupakan upaya penulisan karya tulis melalui pengumpulan pendapat atau hasil penemuan para peneliti terdahulu untuk dibandingkan atau ditelaah. Penulisan karya ilmiah serupa ini lebih menekankan kepada metode studi yang diterapkan sehingga pemilihan literatur terdahulu yang menjadi objek dalam penulisan terpilih, telah terproses dalam sistem pengujian kebenaran.
            Outline bagian pokok terdiri dari 5 bab yaitu:
§  Bab I                Pendahuluan;
§  Bab II                Telaah Kepustakaan;
§  Bab III               Metode Studi;
§  Bab IV              Pembahasan; dan
§  Bab V               Kesimpulan dan saran.
Isi-isi pokok diuraikan berikut ini, sedangkan tujuan dan pelaksanaan penulisan tiap bab sama dengan uraian/ketentuan yang tercantum pada bentuk penelitian.
a.     Bab I          Pendahuluan
Bab ini berisikan landasan pemikiran atau latar belakang pemilihan masalah, batasan/pokok masalah, tujuan dan manfaat peninjauan serta metodologi pembahasan masalah.
b.    Bab II          Telaah Kepustakaan
Bab ini mereview berbagai teori dan langkah-langkah kemajuan ilmu menyangkut masalah yang ditinjau yang telah dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai literatur.
c.     Bab III         Metode Studi
Dalam bab ini dikemukakan prosedur pemecahan masalah yang menjadi tinjauan, rincian cara-cara pengumpulan data atau fakta dan metode hasilnya.
d.    Bab IV        Pembahasan
Bab ini berisikan tinjauan kritis masalah atau teori yang menjadi pokok dalam membahas masalah yang dikaitkan dengan perkembangan masalah yang ditinjau. Dalam bab ini terlihat jalan pemikiran dan kecermatan penulis dalam membenarkan atau mendukung bahkan membantah pendapat orang lain berdasarkan data-data sekunder atau informasi lainnya dari berbagai sumber kepustakaan.
e.     Bab V         Kesimpulan dan Saran
Di sini disimpulkan pendapat penulis berdasarkan hasil bahasan yang diungkapkan dalam Bab IV yang dikemukan juga saran-saran penulis.

















Bagian 3
Pembuatan Judul  Karya Ilmiah
07 Juni 2011- hermes
           Semua berita dapat diangkat menjadi tulisan ilmiah, sejauh memenuhi persyaratan yang diatur dalam melakukan narasi ilmiah. Tulisan ilmiah terikat dengan data, fakta, dan terpenting mampu mengungkap metodologi yang telah diakui secara ilmiah melalui literatur para penulis terdahulu. Namun kadangkala orang awam sering terjebak dengan kesulitan dalam memberi judul terhadap masalah yang diketahuinya.
         Menurut Ismail, 1995, judul dari suatu tulisan ilmiah perlu jelas sehingga dengan melihat sepintas pada judul, pembaca hendaknya telah dapat memastikan apakah itu termasuk atau tidak dalam disiplin keilmuannya. Di samping itu beliau juga menerangkan, bahwa judul tulisan ilmiah terdiri dari sejumlah kata dan tidak perlu judul itu berbentuk sebuah kalimat.
         Banyak pendapat dan metoda para pakar untuk menulis judul suatu karya ilmiah. Ada yang hanya menulis satu kata saja, tulisan tertentu dapat digolongkan ke dalam kategori ilmiah. Biasanya karya ilmiah dengan judul satu kata tersebut mencakup ulasan menyeluruh dari objek yang ditulis. Buku dengan judul seperti ini lebih mudah ditebak keseluruhan isinya dan kerap dijadikan referensi untuk mendukung berbagai tulisan ilmiah lainnya. Contohnya, buku yang berjudul “Bambu”. Dari judulnya saja para peminat baca dapat berangan-angan untuk mendapatkan informasi tentang tumbuhan jenis rumput tersebut. Para peminat lebih awal membayangkan tentang keberadaan informasi bambu dari buku itu. Begitu juga buku-buku lain dengan judul singkat, seperti “Beton”, “Baja”, “Lele”, dan lain sebagainya.
         Bagi awam yang sedang kuliah atau berkewajiban menulis karya ilmiah, biasanya penulisan dibatasi oleh berbagai aturan yang mengharuskannya mencoba-coba merangkai kata untuk sebuah judul. Tak jarang para pemula mengalami kesulitan dalam mengungkap suatu hal menjadi suatu judul. Padahal tidaklah demikian, asal saja para awam tersebut mampu mengungkap permasalahan yang akan ditulisnya, kemudian mampu mengaitkan  dengan kondisi yang terjadi. Artinya, ada suatu ungkapan dalam judul karya ilmiah ini yang menggambarkan hubungan dari dua atau lebih isu yang akan diulas. 
         Perlu diingat pula bahwa karya ilmiah merupakan karya tulis yang diharapkan memberikan kesimpulan pada akhir keseluruhan ulasan. Oleh karenanya, dari judulnya saja para pembaca berharap agar setelah membaca karya ilmiah diperoleh kesimpulan.
Judul yang dipilih biasanya mencerminkan isi keseluruhan buku yang penulisan bagian pokoknya atau sistematikanya dibedakan menurut bentuk penelitian, perencanaan, dan bentuk studi literature. Suatu catatan dalam penyusunan judul hingga isi buku, yakni perlu dihindari kalimat yang meragukan dalam setiap ungkapan karya ilmiah.
         Ungkapan judul karya ilmiah yang sederhana dan mudah dipahami yaitu dengan mengulas hubungan dua kondisi sebab akibat dari suatu permasalahan. Awal dari judul dapat ditulis : 
§  Perencanaan Strategis Terhadap.......................
§  Pengaruh..........Terhadap...........Pada Lokus
§  Hubungan...............Dengan.............Pada............
§  Penentuan................Dengan............Pada............
§  Perbandingan.................Dengan...........Untuk...........
§  Penetapan...........Berdasarkan..........Untuk..........
§  Dan lain lain
3.1       Mengawali Judul Dengan Kata Perencanaan
Misalnya, dalam suatu desa isu bekembang bahwa masyarakatnya bodoh akibat berpendidikan rendah,  bahkan telah menjadi anekdot terhadap desa tersebut bagi kawasan sekitar. Masalahnya adalah, “Pendidikan Masyarakat Rendah” dan bodoh adalah akibat dari kondisi. Keinginan dari penulis atau perencana adalah akan “ditingkatkannya” kondisi pendidikan agar masyarakat tidak bodoh lagi. Sementara, upaya untuk melakukan hal tersebut adalah dengan “perencanaan”. Karena dalam persepsi perencanaan sosial sedikit berbeda dengan perencanaan fisik yang cenderung pasti maka langkah yang diterapkan merupakan strategi untuk lebih mudah dilakukan pendekatan kepada implementasi. Oleh karenanya, perencanaan yang dilakukan diungkap dalam suatu teknik “perencanaan strategis.”  Dengan demikian, didapatlah beberapa kata penting yakni,
“pendidikan masyarakat rendah”
“ditingkatkannya”
“perencanaan strategis”
 dirangkai dengan menambah kata penghubung “terhadap” dan kata kerja “upaya” pada kalimat tersebut sehingga menjadi Perencanaan Strategis Terhadap Upaya Peningkatan Pendidikan Masyarakat di Desa ……………… Kecamatan ………….. Kabupaten ………….”
Dari judul yang disajikan, terlintas dalam pikiran pembaca tentang suatu rencana strategis terhadap upaya peningkatan kecerdasan masyarakat melalui pendidikan. Penulisan ilmiah serupa ini biasanya menggunakan sistematika perencanaan yang menekankan pada metode perencanaan.
.
3.2       Mengawali Judul Dengan Kata Pengaruh
Dari suatu suasana lapangan di Desa Kayem Saket, terdapat berita tentang mewabahnya penyakit menular, puru, yang sangat mencemaskan. Sementara isu berkembang tentang banyak sebab yang mengakibatkan suasana menjadi tak menentu. Menurut sebagian besar masyarakat penyakit tersebut mewabah karena berkeliarannya babi hutan di desa tersebut. Dalam hal ini kata kunci yang dapat dirangkai adalah,
“Penyakit menular puru”
“Bekeliaran babi hutan”
“Desa Kayem Saket”
Jika dirangkai kata-kata tersebut dengan diawali kata pengaruh, didapatlah ungkapan judul sebagai berikut :
“Pengaruh Babi Hutan Berkeliaran Terhadap Penularan Penyakit Puru Di Desa Kayem Saket”. Dari judul ini terkesan adanya suatu penelitian terhadap mewabahnya penyakit puru yang disebarkan melalui babi hutan. Pada akhir tulisan para pembaca berharap adanya kesimpulan terhadap hubungan sebab akibat dari dua kondisi ini.
3.3       Mengawali Judul Dengan Kata Hubungan
Dalam suatu desa terjadi debat berkepanjangan yang pada akhirnya para petinggi harus memutuskan untuk mencari suatu hubungan sebab akibat. Dari sebuah berita diperoleh informasi bahwa di Desa Besi Keras telah terjadi konflik berulang antara pihak lelaki dan perempuan meski telah sering didamaikan. Para petinggi desa merasa aneh, sebab kekerasan yang terjadi seputar kesewenangan kaum lelaki, kerap menusuk kaum perempuan dengan bermacam benda  tatkala sedang beringas.
Dari beberapa kata kunci sesuai dengan yang ingin diketahui tentang hubungan situasi dapat ditulis :
“Desa Besi Keras”
“konflik berulang”
“menusuk kaum perempuan”
Jika dihubungkan, judul tulisan ilmiah yang akan mengungkap hubungan sebab akibat dari suasana yang terjadi adalah :
“Hubungan Kesewenangan Kaum Lelaki Dengan Penusukan Kaum Perempuan Terhadap Konflik Berulang Di Desa Besi Keras”
Tulisan dengan dudul di atas hendak mengungkap penelitian kesewenangan kaum lelaki di desa tersebut dengan kebiasaan menusuk kaum perempuan. Kejadian berulang terhadap peristiwa seperti yang diceritakan membangun rasa keingintahuan pembaca kepada kesimpulan tulisan. Saat membaca judul boleh saja pembaca berasumsi bahwa tindakan tersebut merupakan tradisi masyarakat di tempat itu, atau cara pembelajaran bagi kaum perempuan, dan lain sebagainya. Namun yang dipersoalkan mengapa mesti berulang. Tulisan dengan judul seperti ini lebih berorientasi kepada penelitian sosial. 
3.4       Mengawali Judul Dengan Kata Penentuan
Mengawali judul karya ilmiah dengan kata penentuan berpeluang  munculnya ilustrasi bagi pembaca terhadap suatu hal yang akan ditentukan. Biasanya karya ilmiah serupa ini akan memberi kesimpulan tentang suatu indeks, angka keamanan, koefisien, dan lain sebagainya.
Dari suatu berita diperoleh suatu permasalahan tentang pentingnya penentuan indeks suatu objek yang akan digunakan untuk menganalisa atau menghitung suatu nilai. Contoh beritanya, harga kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen sangat fluktuatif sehingga para petani kerap merasa dirugikan. Alasan yang diberikan para eksportir luar daerah adalah kadar air komuditas tersebut yang cukup tinggi. Sementara, standar pembelian kakao dunia hanya memperkenankan kadar air kakao kering maksimal 10%. Pihak pemerintah daerah telah berupaya keras untuk memproteksi harga kakao masyarakat agar tetap stabil sesuai dengan standar pembelian di pasar internasional. Namun upaya tersebut relatif sulit karena ketiadaan data kadar air secara umum yang dapat dijadikan nilai tawar dari produk andalan itu. Kata kunci penting yang terdapat dalam pemberitaan tersebut yakni :
“kadar air kakao kering”
“harga kakao”
“stabil (itas)”
Penentuan Kadar Air Rata-rata Kakao Kering Untuk Menjamin Stabilitas Harga Di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
Judul seperti ini memberi gambaran tentang suatu hasil peneltian terhadap kadar air rata-rata kakao di Kecamatan Juli. Ketentuan ini merupakan kesimpulan yang diharapkan untuk dilakukannya konversi harga kakao Juli dengan harga kakao berstandar kadar air   pasaran.
3.5        Mengawali Judul Dengan Kata Perbandingan
Dalam suatu tender proyek pembangunan jalan terjadi protes keras dari para peserta. Pasalnya para peserta menggunakan analisa berbeda sehingga menghasilkan nilai penawaran yang berbeda pula. Dalam aksi yang rada baku hantam, para panitia merasa disudutkan karena tidak menjelaskan analisa yang mesti dipakai pada saat penjelasan teknis jelang pemasukan penawaran. Ke-dua analisa yang diperdebatkan dan memiliki perbedaan tersebut yakni analisa BOW dan SNI. Para pengambil kebijakan memutuskan agar dilakukannya klarifikasi terhadap dua metoda perhitungan, untuk didapatkan nilai analisa yang paling menguntungkan negara.
Kata penting dari kasus di atas, yakni :
“analisa BOW dan SNI”
“menguntungkan negara”
Judul yang diperoleh dalam merangkai kata kunci dari kasus di atas adalah :
“Perbandingan Nilai Analisa BOW Dengan SNI Terhadap Keuntungan Negara.”  Tulisan dengan judul seperti ini memberi gambaran tentang suatu kesimpulan dari dua hal yang dibandingkan. Informasi yang diharapkan adalah suatu standar analisa yang akan dipakai untuk menentukan kelayakan nilai. Penelitian yang dilakukan lebih kepada studi literatur sehingga sistematika penulisan dapat mengacu kepada outline studi literatur.
3.6       Mengawali Judul Dengan Kata Penetapan
suatu berita menceritakan, bahwa Desa Meusaho sering diributkan oleh kasus ternak kambing yang selalu memakan tanaman palawija  sebahagian penduduk. Debat yang saban waktu terjadi sering memojokkan para petinggi desa dalam hal tak mampu bersikap. Warga petani mendesak agar dibuatkan peraturan hewan piaraan itu diikat dan jika dilanggar mesti dikenakan sanksi yang keras.  Sementara, para peternak menolak dengan alasan kebun harus dipagar, karena hewan tak mungkin diikat selamanya. Kebingunan para petinggi desa semakin memuncak tatkala harus menentukan dasar ketetapan yang akan dijadikan peraturan desa tersebut. Persoalannya, kedua kepentingan usaha masyarakat tersebut telah banyak membantu ekonomi desa.
Kata kunci yang dapat dirangkai menjadi judul tulisan ilmiah adalah sebagai berikut  :
“Desa Meusaho”
“petani”
“peternak”
“kepentingan”
“peraturan”
            Dengan demikian, judul terpilih  yang terbangun dari rangkaian kata-kata kunci di atas adalah :
Penetapan Peraturan Desa Meusaho Berdasarkan Tingkat Kepentingan Petani dan Peternak
Dari judul yang terbangun dapat memberi kesan kepada pembaca, bahwa akan ditetapkannya suatu peraturan di Desa Meusaho untuk kemaslahatan para petani dan peternak. Kesimpulan pembaca terhadap judul ini, adalah lahirnya suatu ketetapan desa yang didasari dua kepentingan aktivitas masyarakat. Judul ini boleh berupa penelitian lapangan dengan dukungan data primer, bahkan tidak tertutup kemungkinan merupakan studi literatur dengan membandingkan pelaksanaan aturan di tempat lain dengan kasus serupa.







DAFTAR PUSTAKA
§  Ismail, M A, 1995, Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah dan Cara Menulis Laporan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
§  Jasin Maskoeri, 1992, Ilmu Alamiah Dasar, Rajawali Pers, Jakarta
§  Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2007, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, Indonesia Tera, Jakarta
§  Suryabrata, S, 1995, Metodologi Penelitian, PT Raja Grafindo, Jakarta





Kamis, 06 September 2012

FOTO KENANGAN

Bersama Presiden Megawati, 25 Juli 2002

Bersama Akbar Tanjung, LAN, 2002

Bersama Gus Dur, 2002

Bersama Peserta Seminar di Davao

Bersama Menteri Pariwisata Johor, Malaysia, 2009

Peserta Dari Aceh, Yusni Saby, Najamuddin, Soraya K, Razuardi, Bupati Nurdin, 2011

Menerima Sertifikat dari Pemimpin JICA, Jepang, 2011

Latar Belakang Ruang Seminar Davao, 2011

SEJARAH MELAYU


Aku bersama tim kementerian pariwisata Johor menuju makam Tun Sri Lanang di Samalanga, Bireuen

Reka Rupa Tun Sri Lanang

Tun Sri Lanang, seorang raja pertama Samalanga yang dinobatkan pada 1615 M, merupakan pemimpin Islam yang adil disertai keunggulan mengungkap sastera Melayu di zamannya, abad-17. Ketokohan sosok pemimpin yang kaya dan rendah hati ini patut menjadi tauladan bagi generasi Melayu kemudian.

Upaya yang layak dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Bireuen adalah menggalang berbagai potensi untuk membangun kembali pencitraan budaya Islam Melayu yang terakomodir dalam lintasan sejarah perjalanan Datok Bendahara Tun Sri Lanang patut mendapat respon semua kalangan.

Hingga saat ini banyak khalayak mempertanyakan rupa wajah Sang Pemimpin yang melegenda itu. Di samping kendala teknologi di zaman itu, dokumen berupa naskah tentang gambaran wajah Tun Sri Lanang juga sulit ditemukan.

Oleh karenanya, Aliansi Penulis Bireuen merasa tertarik untuk melakukan reka rupa terhadap sasterawan ini, melalui pendekatan penelaahan foto keturunan, keluarga, kisah karakter pribadi, dan seminar kecil di lingkup seniman lukis Bireuen.

Setidak-tidaknya, penelusuran ini menghasilkan sketsa wajah dan dapat berperan dalam diskusi lanjutan bagi peminat atau pihak-pihak yang berkeinginan untuk mengetahui tentang rupa dari Tun Sri Lanang.

Informasi Pendukung

Dalam menelaah sosok tokoh yang hendak direka wajahnya, diperlukan informasi tentang asal muasalnya. Tun Sri Lanang bangsawan Melayu yang bangga berasal dari komunitas Melayu, terindikasi dari upayanya melahirkan kisah raja-raja Melayu dalam karya tulisnya berjudul Sulalat al Salatin, sudah semestinya didukung dengan informasi dari berbagai refrensi yang dirilis para pakar terdahulu. Berberapa informasi penting berkenaan karakter orang Melayu dipaparkan secara ringkas di bawah ini.

Informasi Asal Bangsa Melayu

          R.H. Geldern, seorang ahli prasejarah dan menjadi guru besar di Iranian Institute and School for Asiatic Studies telah membuat kajian tentang  asal usul bangsa Melayu. Sarjana yang berasal dari Wien, Austria ini telah membuat kajian terhadap kapak tua (beliung batu). Beliau menemui kapak yang diperbuat daripada batu itu di sekitar hulu Sungai Brahmaputra, Irrawaddy, Salween, Yangtze, dan Hwang. Bentuk dan jenis kapak yang sama, beliau temui juga di beberapa tempat di kawasan Nusantara. Geldern berkesimpulan, tentulah kapak tua tersebut dibawa oleh orang Asia Tengah ke Kepulauan Melayu tersebut.
          J.H.C. Kern ialah seorang ahli filologi Belanda yang pakar dalam bahasa Sanskrit dan pelbagai bahasa Austronesia yang lain telah membuat kajian berdasarkan beberapa perkataan yang digunakan sehari-hari terutama nama tumbuh-tumbuhan, hewan, dan nama perahu. Beliau mendapati bahwa perkataan yang terdapat di Kepulauan Nusantara ini terdapat juga di Madagaskar, Filipina, Taiwan, dan beberapa buah pulau di Lautan Pasifik. Perkataan tersebut antara lain ialah, padi, buluh, rotan, nyiur, pisang, pandan, dan ubi. Berdasarkan senarai perkataan yang dikajinya itu, Kern berkesimpulan bahwa bahasa Melayu ini berasal daripada satu induk yang ada di Asia.
          Pakar lainnya, W. Marsden, dalam kajiannya mendapati bahwa bahasa Melayu dan bahasa Polinesia (bahasa yang digunakan di beberapa buah pulau yang terdapat di Lautan Pasifik) merupakan bahasa serumpun. Di samping itu, E. Aymonier dan A. Cabaton mendapati bahwa bahasa Campa serumpun dengan bahasa Polinesia, manakala Hamy berpendapat bahwa bahasa Melayu dan bahasa Campa merupakan warisan daripada bahasa Melayu Kontinental. Di samping keserumpunan bahasa, W. Humboldt dalam kajiannya mendapati bahwa bahasa Melayu (terutama bahasa Jawa) telah banyak menyerap bahasa sanskrit yang berasal dari India.
Berikut ini akan diperlihatkan cara perpindahan orang Melayu dari Asia Tengah tersebut.

(a) Orang Negrito

      Menurut pendapat Asmah Haji Omar sebelum perpindahan penduduk dari Asia berlaku, Kepulauan Melayu (Nusantara) ini telah ada penghuninya yang kemudian dinamai sebagai penduduk asli. Ada ahli sejarah yang mengatakan bahawa mereka yang tinggal di Semenanjung Tanah Melayu ini dikenali sebagai orang Negrito. Orang Negrito ini diperkirakan telah ada sejak tahun 8000 SM (Sebelum Masehi). Mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka memburu binatang. Alat perburuan mereka diperbuat daripada batu dan zaman ini disebut sebagai Zaman Batu Pertengahan. Di Kedah sebagai contoh, pada tahun 5000 SM, yaitu pada Zaman Paleolit dan Mesolit, telah didiami oleh orang Austronesia yang menurunkan orang Negrito, Sakai, Semai, dan sebagainya.

(b) Melayu-Proto

         Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu ini berasal dari Asia Tengah, perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan pada tahun 2500 SM. Mereka ini kemudian dinamai sebagai Melayu-Proto. Peradaban orang Melayu-Proto ini lebih maju sedikit daripada orang Negrito. Orang Melayu-Proto telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah, dan alat perhiasan. Kehidupan mereka berpindah-randah. Zaman mereka ini dinamai Zaman Neolitik atau Zaman Batu Baru.

(c) Melayu-Deutro

         Perpindahan penduduk yang kedua dari Asia yang dikatakan dari daerah Yunan diperkirakan berlaku pada tahun 1500 SM. Mereka dinamai Melayu-Deutro dan telah mempunyai peradaban yang lebih maju daripada Melayu-Proto. Melayu-Deutro telah mengenal kebudayaan logam. Mereka telah menggunakan alat perburuan dan pertanian daripada besi. Zaman mereka ini dinamai Zaman Logam. Mereka hidup di tepi pantai dan menyebar hampir di seluruh Kepulauan Melayu ini.
          Kedatangan orang Melayu-Deutro ini dengan sendirinya telah mengakibatkan perpindahan orang Melayu-Proto ke pedalaman sesuai dengan cara hidup mereka yang berpindah-randah. Berlainan dengan Melayu-Proto, Melayu-Deutro ini hidup secara berkelompok dan tinggal menetap di sesuatu tempat. Mereka yang tinggal di tepi pantai hidup sebagai nelayan dan sebahagian lagi mendirikan kampung di tepian  sungai dan lembah yang subur. Hidup mereka sebagai petani dan berburu binatang. Orang Melayu-Deutro ini telah pandai bermasyarakat. Mereka biasanya memilih seorang ketua yang tugasnya sebagai ketua pemerintahan dan sekaligus ketua agama. Agama yang mereka anut ketika itu ialah animisme.

Informasi Genetika Manusia 

          Perilaku manusia, kepribadian, karakteristik fisik tubuh, dan karakteristik wajah, merupakan konsekuensi dari gen yang diwarisi  orang tua masing-masing individu. Sebagai contoh, bentuk hidung,  mulut dan telinga, warna mata dan rambut, letak telinga, semua ditentukan oleh gen yang diperoleh pada tahap embrio. Hal ini juga berlaku untuk beberapa karakteristik lain seperti lesung pipi di pipi dan dagu, bahkan pembentukan kerutan aneh yang mungkin juga muncul dalam diri seseorang  atau saudara-saudaranya yang lain.
          Warisan gen ketika dilahirkan juga memutuskan individu tertentu  rentan sementara yang lain tidak, terhadap penyakit tertentu. Rekayasa genetika kini telah maju ke tahap di mana ia dapat secara selektif meningkatkan sifat-sifat yang diinginkan dan menekan atau memberantas yang merusak. Hal ini signifikan pada tahap pembentukan janin. Para ilmuwan sekarang dapat mengidentifikasi apakah embrio  tertentu membawa beberapa sifat yang mengancam hidup atau penyakit yang melemahkan, sehingga dapat mengambil tindakan korektif di tahap awal. Seseorang mungkin saja membawa gen yang tidak diinginkan dan tidak terpengaruh kepadanya, tetapi dapat diturunkan dan berwujud pada beberapa generasi jauh sesudahnya. Informasi genetika turut menyimpulkan bahwa pada diri seseorang terdapat sifat gen yang dominan dan resesif (sifat yang tidak terlihat). Sifat resesif ini kadang kala bisa muncul pada keturunan selanjutnya.
          Peranan genetika dalam mencirikan rupa dan postur manusia relatif mudah terindikasi sehingga pendekatan penggolongan ras lebih mampu diungkap secara visual. Pembuktian tentang penentuan keturunan sangat ditentukan oleh sifat gen bawaan semakin tak terbantahkan. Oleh karenanya, berkat kehandalan zaman modern, teknologi genetika manusia diyakini mampu menghapus ancaman sifat yang tidak diinginkan terhadap generasi yang akan dilahirkan. 
          Tetapi ada kekerasan menentang rekayasa genetika pada dasar agama dan sekuler. Banyak yang percaya bahwa bermain-main dengan DNA dan genetika adalah pelanggaran etika dan menginjak ranah reserved ketat untuk Pencipta. Lebih jauh lagi mereka melihat ini sebagai melampaui batas martabat manusia.
          Orang yang mengungkap semua ini adalah Gregor Mendel, yang dikenal sebagai bapak genetika. Setelah cukup meneliti, ia mengembangkan suatu model warisan manusia. Dia menyimpulkan bahwa unit diskrit dikenal sebagai gen bertanggung jawab untuk warisan berbagai sifat turunan.
Berbagai penjelasan di atas dapat dikaitkan dengan asumsi terhadap ragam ras yang membentuk ras Asia Tenggara yang memiliki ciri tersendiri.

Informasi Konsep Ras dan Etnis

          Ilmu pengetahuan lazim mengaitkan konsep ras warisan fisikal dan etnik dengan warisan kebudayaan. Praktik mengaitkan konsep ras, warisan fisik dan etnis dengan warisan budaya individu itu sudah diterima  secara meluas. Namun demikian perlu diingat, batas dalam sesuatu kumpulan etnik dan ras tidaklah begitu jelas dan tetap seperti yang diandaikan oleh banyak orang. Kedua konsep ini sering tumpang tindih dan dalam banyak perkara maknanya kabur.
          Individu daripada kumpulan ras dan etnik yang berlainan dapat berassimilasi dan Individu dari kelompok ras dan etnis yang berbeda juga bisa menikah yang menghasilkan percampuran ras. Percampuran ras ini menyebabkan ciri-ciri warisan fisikal sesuatu kaum, seperti warna kulit, anatomi, dan sebagainya, berubah. Di Malaysia, orang Melayu didefinisikan berdasarkan konsep etnis, bukan ras.
          Dampak percampuran beberapa ras telah menyebabkan ciri-ciri fisikal orang Melayu menjadi kabur. Malahan pernikahan campur antara China dengan India di Malaysia pun melahirkan anak yang menyerupai 'orang Melayu' dan hal ini juga memberikan kesan kekaburan kepada yang menyerupai 'orang Melayu' dan hal ini juga memberikan kesan ambiguitas ke batas ras orang Melayu.
          Dari segi budaya juga, orang Melayu, India, Cina, Kadazan-Dusun, Iban, Bidayuh, dan sebagainya banyak meminjam unsur budaya, seperti bahasa, pakaian, makanan, agama, dan sebagainya antara satu sama lain.
          Pembahasan di atas, tentang aplikasi konsep etnis dan ras di Malaysia, menjelaskan bahwa manusia mempunyai ciri keberagaman yang tidak terbatas. Ciri-ciri sesuatu kumpulan manusia memiliki fitur variasi yang tidak terbatas pada fitur sesuatu kelompok tertentu dan sering tumpang tindih dengan kumpulan-kumpulan yang lain. Hal ini menunjukkan, walaupun masyarakat awam mengaitkan konsep ras dan etnik dengan persamaan ciri-ciri warisan fisikal dan budaya, namun batas-batas grup ini sebenarnya ditentukan oleh satu aturan persetujuan sosial dalam masyarakat itu sendiri, tanpa mengira ketulenan batas fisikal dan etnik yang dapat diperhatikan. Logika analisis ini telah menyebabkan teori hubungan ras dan etnik berpegang kepada pendapat yang menyatakan bahwa konsep ras dan etnik lebih bersifat sosiopolitik, bukan saintifik ala biologi itu.
          Meskipun konsep ras dan etnis lebih bersifat sosiopolitik dalam masyarakat Melayu, namun pendekatan informasi yang diberikan memperkuat alasan bahwa tradisi mempertahankan kultur tiada lain disebabkan oleh karakteristik yang sama dalam masyarakat Melayu itu sendiri. Kesamaan karakteristk ini biasanya lebih terbangun akibat kesamaan postur di kalangan masyarakat.

Informasi Teori Ras

          Orang dengan mudah menentukan asal seseorang dari raut wajah. Minimal dari kelompok besar seperti, orang Eropa, Afrika, dan Cina. Meskipun dalam kesaksian itu sulit menentukan asal yang tepat seperti Eropa Timur, Barat, dan lainnya. Begitupula tatakala bangsa Eropa menyaksikan sosok Asia Tenggara. Tidak terlalu sulit menebak komunitas itu, kecuali negeri asal seperti Malaysia, Indonesia, Pilipina, dan sebagainya. Di sinilah teori ras itu berperan menginformasikan ciri asal sosok yang tengah dibicarakan.
          Dari beberapa ras, Mongoloid merupakan ras yang sering dijumpai dalam bahasan tentang asal muasal bangsa di Asia. Ras Mongoloid adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania. Anggota ras Mongoloid biasa disebut "berkulit kuning", namun ini tidak selalu benar. Misalkan orang Indian di Amerika dianggap berkulit merah dan orang Asia Tenggara seringkali berkulit coklat muda sampai coklat gelap atau sering juga disebut sawo matang.
          Ciri khas utama anggota ras ini ialah rambut berwarna hitam yang lurus, bercak Mongol pada saat lahir dan lipatan pada mata yang seringkali disebut mata sipit. Selain itu anggota ras manusia ini seringkali juga lebih kecil dan pendek daripada ras Kaukasoid
Biasanya oleh para pakar, ras Mongoloid dibagi lebih lanjut menjadi:

  •  Ras Asia Utara
  •  Ras Asia Tenggara
  •  Ras Indian Amerika

Ras Asia Tenggara dianggap anggota ras Asia Utara yang telah menetap di daerah tropis dan beradaptasi terhadap iklim setempat. Menurut Luigi Luca Cavalli-Sforza, daerah perbatasan tempat permukiman antara ras Asia Tenggara dan ras Asia Utara ialah sungai Yangtze di sebelah selatan Tiongkok. Namun berkat invasi dan juga migrasi dari China Utara, maka anggota ras Asia Utara juga sudah banyak tersebar di Asia Tenggara.
          Sedangkan anggota ras Asia Tenggara telah menyebar di Asia Tenggara, Oseania dan bahkan di pulau Madagaskar lepas pantai Afrika bersamaan dengan penyebaran bahasa Austro-Asia dan bahasa Austronesia. Di Asia Tenggara bahkan mereka telah sebagian besar menghapus keberadaan ras Australoid. Keberadaan mereka hanya tinggal di beberapa tempat saja, misalkan orang asli di semenanjung Malaka dan orang Negrito di Filipina. Perkembangan bahasa juga sering memperkuat alasan tentang penyebaran ras di daratan Asia. Rumpun bahasa Melayu-Polinesia adalah sebuah cabang utama dari bahasa Austronesia yang mencakup semua bahasa Austronesia yang dipertuturkan di luar Taiwan dan memiliki jumlah penutur sekitar 351 juta jiwa. Secara luas Bahasa-bahasa Melayu-Polinesia (MP) terbagi dalam 2 subkelompok utama, Melayu-Polinesia Barat dan Melayu-Polinesia Tengah bagian Timur.
          Zaman dahulu sebelum bahasa penduduk non-Han Tionghoa Taiwan dipelajari secara baik, bahasa Austronesia disebut sebagai bahasa Melayu-Polinesia secara keseluruhan.
          Bahasa-bahasa Melayu-Polinesia cenderung menggunakan reduplikasi (pengulangan keseluruhan atau bagian kata) sebagai kata plural, dan seperti bahasa-bahasa Austronesia lainnya memiliki entropi rendah; yang, teks itu sungguh terulang-ulang dalam ucapan pada frekuensi suara. Kebanyakan juga tak punya konsonan rangkap. Kebanyakan juga hanya memiliki sekelompok kecil huruf hidup, kelima huruf hidup seperti a, i, u , e, dan o ialah yang biasa dipakai.

Rumpun bahasa adalah sekumpulan bahasa-bahasa yang mempunyai perintis yang sama yaitu bahasa purba dari rumpun tersebut. Seperti halnya rumpun biologis, bukti akan keterhubungan antara bahasa-bahasa serumpun dapat diamati dari karakteristik bahasa-bahasa tersebut. Sebuah rumpun bahasa yang dapat diidentifikasi dengan tepat adalah sebuah kesatuan filogenetis yang berarti bahwa semua dari anggota rumpun bahasa tersebut diturunkan dari sebuah perintis dan semua bahasa turunannya dimasukkan ke dalam rumpun tersebut. Sebagian besar bahasa-bahasa di bumi adalah anggota dari sebuah rumpun bahasa, namun demikian ada juga bahasa-bahasa (seperti bahasa isolatyang keterhubungannya dengan bahasa lain tidak diketahui atau dipertentangkan.
          Konsep akan rumpun bahasa didasarkan dari anggapan bahwa seiring dengan berjalannya waktu sebuah bahasa akan perlahan-lahan pecah menjadi bermacam-macam logat yang masing-masing pada akhirnya menjadi sebuah bahasa baru. Namun, persilsilahan bahasa lebih kabur daripada persilsilahan biologis karena bahasa dapat lebih mudah bercampur (baik karena kontak bahasa, penaklukan, atau perdagangan) sedangkan spesies biologis umumnya tidak dapat bersilang seperti itu. Pada kasus bahasa kreol  dan bahasa campuran lainnya, merupakan perintis dari bahasa tersebut berjumlah lebih dari satu. Namun kasus seperti ini bukanlah mayoritas dan kebanyakan bahasa yang ada di muka bumi ini dapat di golongankan secara jelas.
          Bahasan di atas turut memperkuat alasan bahwa komunitas Asia Tengggara berasal dari Asia Utara yang berkolaborasi dengan masyarakat yang lebih dulu menempati. Dengan demikian, gambaran postur, warna kulit, dan bentuk wajah ras Melayu masa lalu tidak jauh berbeda dengan yang disaksikan saat ini.

Metode Kerja

  1. Pengumpulan informasi sosok Tun Sri Lanang dari para penulis terdahulu baik dari dalam maupun dari luar daerah Aceh. Kegiatan in bertujuan untuk mendapat gambaran tentang sosok Tun Sri Lanang dari aspek kepribadian. Minimal kegiatan ini menghasilkan suatu imej tentang ekspresi wajah dari suatu kepribadian. Misalnya, tidaklah mungkin seorang raja dermawan, bahkan sasterawan memiliki air muka yang kurang bersahabat.
  2. Membuat Syair dan Lagu. Hal ini bertujuan menggambarkan tentang sosok yang sedang dibayangkan dan dengan nyanyian yang dapat dirasakan ke dalam sketsa.
  3. Pengumpulan Foto Keluarga Tun Sri Lanang. Kegiatan ini lebih kepada untuk melakukan pendekatan bentuk wajah secara umum dari anggota keluarga.
  4. Seleksi Wajah. Aktivitas ini bertujuan untuk menyeleksi bentuk-bentuk wajah dominan dari seluruh anggota keluarga sehingga memudahkan penentuan reka rupa.
  5. Teliti Wajah. Kegiatan ini bermaksud mencermati secara detail unsur-unsur panca indera yang akan dikaitkan dengan beberapa informasi ilmiah seperti ras dan genetika.
  6. Membuat Sketsa Wajah. Pembuatan sketsa wajah ini didasari atas kesimpulan dari bentuk wajah, unsur panca indera yang dominan pula. Jumlah sketsa yang dibuat, diupayakan sebanyak mungkin sehingga muncul lebih banyak kemungkinan untuk dipilih.
  7. Menilai Sketsa. Sejumlah sketsa wajah Tun Sri Lanang yang telah tergambar didiskusikan sesama tim kerja untuk dicocokkan dengan foto-foto anggota keluarga yang tersedia.
  8. Memilih alternatif sketsa wajah. Dari beberapa sketsa yang dianggap mirip dengan wajah keluarga secara umum dipisah kan untuk diteliti lagi dan dicocokkan dengan keberadaannya sebagai sosok pemimpin dengan pendekatan kepribadian.
  9. Seminar dan  Penilaian. Kegiatan ini telah melibatkan beberapa pelukis senior yang berdomisili di pesisir utara Aceh, Bireuen dan Lhokseumawe.
  10. Penetapan Sketsa Wajah. Kegiatan ini merupakan produk dari seminar reka rupa untuk dipilih satu wajah yang representatif dari reka rupa Tun Sri Lanang
  11. Membuat Lukisan Foto. Kegiatan merupakan kegiatan puncak dari program reka rupa Tun Sri Lanang, yaitu pelukisan wajah dengan teknik lukisan foto.

Hasil Pencermatan      

          Dari hasil pengamatan terhadap foto keluarga (keturunan) Tun Sri Lanang dapat disimpulkan sementara  sebagai berikut :

  1. Bentuk wajah dari keluarga Tun Sri Lanang umumnya oval
  2. Bentuk mata lancip (tidak bundar), dan datar tidak dalam.
  3. Alis mata lengkung dan tidak rapat dengan mata
  4. Warna biji mata hitam, tidak biru atau coklat.
  5. Sorot mata teduh bersahabat, tidak tajam
  6. Tulang pipi tidak menonjol
  7. Bibir bahagian atas tipis, dan bagian bawah lebih tebal
  8. Ciri wajah layaknya raut wajah ras melayu umumnya