Senin, 28 April 2014

PUISI KUNJUNGAN

kunjungan

suatu kali kutanya
tentang kabar ayah sakit
tiada balasan satu katapun
kuulangi tanya itu
sama seperti kemarin
aku mahfum akan sosok tanpa maklum

suatu minggu kurampas sela waktu
yang sulit dalam kebutuhan anak didik
kularikan laju kunjungan suatu rembang petang
tiada sambutan salam dari ucapan berkali

jelang langkahku beranjak pulang
ada gerakan di belakang sana
ayah bersandar dalam sempoyong
kuhampiri seraya mengulang salam
ada senyum dibibirnya seraya mengumbar tanya
aku jawab untuk besarkan hatinya
matanya berbinar bercerita kabar menantunya kembali dari timur

dikemaskan sarungnya untuk membangkitkan menantu dan anaknya
yang masih tidur sore itu
ayah memaksa untuk mengetuk pintu
berkali kutahan dalam agar dia tak lakukan 
kuhargai upayanya untuk menyenangkanku layak biasa
walau relungku bicara lain tentang senyum masam
suasana yang aku tidak butuh ketika itu
ada ragam dialog ayah yang menyenangkan
dia bugar sore itu, semoga tetap bugar di jelang senja

matang geulumpang dua, 27.04.14

Sabtu, 26 April 2014

SEJARAH

Sejarah

Sejarah dapat membesarkan sosok. Begitu pula sebaliknya, mengkerdilkan, bahkan menghukum tiada akhir. Oleh karenanya, sejarah merupakan salah satu alat ampuh yang dapat dimanfaatkan untuk pencitraan dan pembusukan. Mencermati ketangguhan sejarah, sejak dulu para pembangun dinasti, kerajaan, pemimpin pemerintahan, dan lain sebagainya, memiliki penulis pribadi untuk memproteksi citra buruk yang mungkin terjadi di lingkungan keluarga-nya. Artinya, untuk memahami sejarah sudah selayaknya diduga, sekurang-kurangnya dalam suatu ulasan  terdapat dua kesimpulan berbeda. 23.104.14

Kamis, 24 April 2014

PUISI MENYERUPAI



resap menyerupai

kemarin
dalam dua hari
tatap kami bersama
meresap sekali
ada suatu penyerupaan
 rona pesan yang disampaikan
 dari lampiran di kotanya
sesekali lelaki muda itu ingati perlahan
akan masa depannya
kerongkonganku tersengal
meraba tugasnya menjaga
lubukku yang tak sapa
yang diam berhari

kualasimpang, 24.04.14


Selasa, 22 April 2014

PEREMPUAN KERUDUNG

Suatu ketika, sosok perempuan berkerudung dikejar para jurnalis untuk mendapatkan beberapa informasi penting. Perempuan itu acuh dan melanjutkan langkahnya lebih cepat. "Berhenti," teriak para jurnalis pria itu secara serempak. Tidakpun dia bersuara dan menoleh ke arah teriakan itu. Beberapa jurnalis pria yang semakin penasaran, terlebih lagi ingin menikmati kemolekan wajah perempuan misterius itu, tidak membuang waktu banyak. Langkah mereka semakin mendekat di belakang perempuan semampai yang tinggal beberapa langkah lagi. Kali ini perempuan itu menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang. "Ueeeeekkk," katanya singkat. "Wwoooowww," suara jurnalis pria serempak.

"berhentii.............." kata segerombolan
jurnalis pria membuntuti
"Ueeekkkkk," sapanya
"WWooowww, " teriak gerombolan jurnalis
pria itu serempak.

Minggu, 20 April 2014

PUISI PAGI INI


pagi ini

sekelebat tunda tanya
beberapa pagi
kendati senyum hiasi terawang

bukan tak harap kabar 
bukan pula menutup diri
tiada balas sapa 
lengkapi niat acuhnya



Sabtu, 19 April 2014

KATA BIJAK APRIL 4

Razuardi Ibrahim,  Maret 2014


“kompetitor unggul adalah sosok cepat  menyimpulkan keadaan”
Rajju.18.04.14


KONSEP IKHLAS

Konsep Ikhlas
 
Headline Serambi Indonesia, 19 April 2014
Sejak hari pemilihan umum caleg, Rabu, 09 April 2014 lalu, banyak orang-orang mempersoalkan kesetiaan. Tentunya seputar pencoblosan kertas suara, dalam hal komitmen orang tertentu yang ingkar janji setelah membuat kesepakatan bersama dengan berbagai konsekwensinya. “Kurang ajar memang, uang diambil tapi mereka mencoblos calon lain,” kata seorang yang lagi marah, di tengah kerumunan beberapa warga kawasan Lhokseumawe. Suasana serupa itu marak di berbagai cafe, warung, mesjid, meunasah, dan pusat-pusat konsentrasi lainnya, pada sore hari hingga malam, setelah penghitungan suara. Meskipun aku tak mengenalnya, namun aku mencermati ekspresi seseorang yang berbicara keras itu sebagai orang yang sedang bermasalah dengan ke-ikhlasannya. Betapa tidak, “bantuan diterima juga tapi suara yang dijanjikan jauh di bawah target,”  ujarnya dengan nada tinggi. Agar aku tidak terjebak dengan ungkapan orang itu ditambah beberapa lagi yang lain, aku mengukur perasaannya dengan hal serupa yang pernah juga aku alami.

Aku rasakan mereka lebih beruntung dariku, karena para caleg kecewa tersebut memiliki harapan tertentu meskipun gagal. Kebiasaan memberi bantuan yang aku lakukan tidak berorientasi politis seperti yang mereka bahas sehingga kata pengkhianatan lebih banyak muncul dalam bahasan itu. Orientasi ekonomi yang aku lakukan kepada orang-orang tertentu pun mengalami hal serupa. Manakala aku diusung untuk turut dalam pilkada, sebagian orang-orang yang pernah aku bantu turut membangun provokasi terhadapku, padahal aku tidak mengikat orang-orang itu dengan janji untuk memilihku. “Itu merupakan hak privasi yang tak mesti dipaksa,” kataku pada masa-masa itu. Terdapat perbedaan mendasar antara pengalamanku dengan yang mereka rasakan, yakni kekecewaan dan  ketulusan. Boleh jadi aku keliru dalam menyimpulkan, meskipun kecewa mereka lebih beruntung karena memberi sesuatu namun mendapatkan harapan, sedangkan aku memberi sesuatu dan tidak mengharap sesuatu apapun, tetapi mendulang hujatan. Namun tidak berlebihan dalam ungkapan ini, aku pernah mendapat pemahaman konsep tulus sejak aku aktif di kegiatan kampus dulu. Artinya, konsep ini cukup membantu perasaan tatkala aku mengalami pengingkaran dari kerabat tertentu. Persoalannya, kemasan perasaan seperti apa yang harus tertanam sehingga aku dapat melupakan pemberian yang pernah kulakukan kepada orang tertentu.


Konsepnya sederhana saja, yakni anggaplah segala bentuk pemberian itu laksana membuang hajat yang memang tidak pernah diingat untuk kembali. Aku meyakini, terdapat keikhlasan luar biasa dalam diri setiap orang tatkala membuang hajat.  Jika kecewa tidak terpupuskan juga, tanamkan dalam pikiran bahwa, untuk apa lagi hajat itu bersama kita, toh benda itu sudah menjadi milik makhluk lain. Bahkan benda itupun sudah berkumpul dengan komunitasnya di dalam septick tank.