Sabtu, 08 Maret 2014

JOKOWI

Jokowi
 
Razuardi Ibrahim dan Jokowi, Sabtu 08-03-14
Ketika menunggu masuk ke pesawat, aku duduk di kursi panjang yang disediakan di ruang tunggu Airport Kuala Namu, Medan. Sabtu (08/03/14), hari ini, aku ke Jakarta untuk suatu tugas bersama Bupati Hamdan Sati, namun aku lebih duluan berangkat sedangkan Bupati besok, minggu. Sepintas  aku lihat banyak orang-orang berkerumun, berhenti dan berjalan ke arah pintu masuk pesawat. Ada juga penumpang lain yang bangkit dari kursinya untuk berfoto dengan satu sosok yang dikerumuni tersebut. Keadaan itu tidak menyita perhatianku sambil mengambil posisi membelakangi kerumunan yang perlahan mendekat ke kursi di belakangku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapa seseorang dengan memanggil nama pasaran-ku, “bang esek,” katanya setengah berteriak. Aku menoleh, ternyata sosok yang memanggilku Pak Dicky Sondani, Kapolres Aceh Tamiang, sedang dalam rombongan Jokowi, Gubernur Jakarta. 
Jokowi dan Dicky Sondani, 08.03.14
Dia menyalamiku sambil memperkenalkan  aku dengan Jokowi. “Ini Sekda saya pak,” kata pak Dicky tentang aku kepada Jokowi seraya menerangkan pula bahwa Jokowi adalah temannya. Aku melihat Jokowi memang sosok bersahaja dan membiarkan dirinya ditarik sana sini untuk difoto oleh siapa saja yang meminta. Aku mengucapkan selamat kepadanya dan diapun menyapaku dengan sebutan yang disampaikan Kapolres saat memperkenalkan tadi. “Mau kemana Pak Sek,” tanya Jokowi singkat kepadaku. Akupun menjawab singkat tujuan keberangkatanku dan dia juga mengatakan tujuan keberangkatannya, “Pakan Baru,” katanya.


Jumat, 07 Maret 2014

PUISI JUMAT TANYA

jumat tanya

jum'at lalu ada tanya
namun tanpa gubris
kayaknya terganggu sesuatu
yang tak terpenuhi
dan memang tak mampu terpenuhi
berat terpaan orang-orang bernafsu
yang kadangkala sempurnakan hujatan 

ada seutas janji lalu
namun suasana tak kuat
ada racikan amarah
terpaan harapan sirna
jum'at ini ada tanya lagi
himpitan sibuk
tanpa gubris juga

kualasimpang-07.03.14


Rabu, 05 Maret 2014

UNGKAPAN SEKETIKA

rapat dolomit, 26.02.14

"Kualitas aura sosok mampu pupuskan ragam jasa yang pernah ada pada sosok lain"

di jurusan arsitek-ft-unsyiah-razuardi ibrahim, 05.03.14

Selasa, 04 Maret 2014

PUISI BELENGGU TERAWANG

belenggu terawang

cuaca gerah juga hari ini
gelagat macet ibukota
ada titik ceria paksa
terikat rona kolab
yang tak balas sapa

sesak juga dada
berbaur kerja 
pun belenggu terawang indah
mahfum akan suasananya

bandaaceh-04.02.14 

Minggu, 02 Maret 2014

INSTRUMEN POLA PIKIR

Instrumen Pengubah Pola Pikir


Bukti proses pembelajaran tidak hanya di sekolah, kampus, lembaga pendidikan atau institusi lainnya, ternyata sulit terbantahkan. Setidak-tidaknya, begitu yang aku dapati selama perjalananku menjadi pegawai negeri sipil, sejak 1990. Meskipun di beberapa negeri instrumen ini hanya tinggal beberapa item saja, namun mencermati jumlah instrumen yang masih eksis di negeri berkembang semakin penting dilakukan. Hal ini dapat dijadikan ukuran kemajuan pola pilkir sistem yang layak dipahami bagi yang memerlukan. Aku menginventarisir instrumen ini dengan tujuan pembelajaran informal sehingga peningkatan pemakluman diri dapat dilakukan relatif lebih mudah. Beberapa instrumen tersebut antara lain :

1.      Selebaran
2.      Media cetak
3.      Spanduk
4.      SMS
5.      Internet
6.      Demo atau pengerahan massa
7.      Dialog warung kopi atau tempat keramaian lainnya
8.      Dan lain sebagainya yang belum aku ketahui.


Aku semakin menarik terhadap apa yang aku inventarisir ini dan berniat untuk mencermati lebih lanjut tentang sistematika tata kerjanya. Terlebih lagi aku ingin menghubungkan tentang pengaruh berbagai instrumen tersebut dengan perubahan pola pikir yang terjadi.

CURIGA

Curiga

Banyak para pihak menyelesaikan masalahnya dengan membangun kecurigaan baru. Tidak sulit membuktikan hal ini dalam komunitas di negeri berkembang. Ketika aku berdiskusi dengan beberapa rekan tentang pekembangan Islam, mereka lazim memberi alasan bahwa hambatan besar dalam pengembangan Islam yakni peranan kelompok ekternal yang kuat menekan, contohnya provokasi yang dilancarkan lewat internet, film, media cetak, dan lain sebagainya. Adalagi kondisi curiga yang terbangun di lingkungan pemerintah, yakni kecurigaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dalam hal anggaran pembangunan. Namun setelah aturan otonomi daerah digelindingkan, kecurigaan yang terbangun sejak lama terjawab sudah. Banyak kegiatan yang tidak terukur dan terarah setelah urusan pengelolaan pembangunan diatur sendiri oleh masing-masing daerah. Artinya, kecurigaan bukanlah alat untuk penyelesaian masalah namun dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi pencapaian target tertentu.


PEMBELAJARAN ALAM

Pembelajaran Alam



Aku dilantik menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tamiang pada hari Senin, 13 Mei 2013, di Gedung DPRK Aceh Tamiang.  Beberapa hari sebelumnya, banyak beredar isu tentang penolakan orang luar untuk menjadi pejabat di tempat itu. Tidak cukup dengan itu, pihak tertentu membuat selebaran tentang penolakan tersebut dan dibagi-bagikan ke semua orang, termasuk kepada aku sendiri. Waktu itu aku menetap di Hotel Arya karena rumah dinas jabatan belum tersedia sehingga orang-orang yang ingin bertemu dan berkenalan denganku datang ke hotel yang lumayan representatif di Kualasimpang. Aku biasa duduk dan makan malam di Cafe Alfin, penyedia ikan bakar segar di sana. Begitupula untuk sarapan atau minum kopi, aku biasa menikmatinya di cafe depan Kantor Bupati Aceh Tamiang. Tentunya dengan aktivitas serupa itu, aku memiliki peluang berteman dengan banyak orang, dari kelompok masyarakat biasa hingga pejabat daerah. Menariknya, setelah aku berbincang atau berkelakar dengan orang tertentu tidak jarang SMS dari orang tak dikenal menghampiri layar hape-ku. Pesannya beresensi agar aku berhati-hati dengan orang yang tadi bersamaku dan tidak jarang pula dengan kalimat yang menjelek-jelekkan. Sejak itu aku mulai membatasi diri untuk rehat atau minum kopi di cafe dan menyimpulkan, “janganlah orang baik  menjadi buruk karena berbincang denganku”. Pernah aku tanyakan soal ini kepada Idris Berdan (Wak Reh), kerabat yang kukenal sejak 2006 melalui Hamdan Sati. Ia berkomentar singkat, “kalo disini gak usah heran Sek, itu hal biasa,” ujarnya. Gejala seperti itu aku rasakan selama kurang lebih tiga bulan sejak aku bertugas di kabupaten ujung timur Aceh tersebut. Untuk arifnya, aku memaknai gejala ini sebagai proses pembelajaran alam yang cukup berarti bagi perjalanan antar generasi.