Senin, 10 Juni 2013

PELETAKAN BATU PERTAMA MAKODIM TAMIANG


Peletakan batu pertama rencana pembangunan Makodim Aceh Tamiang diselenggarakan pada Jumat, 07 Juni 2013. Peletakan batu pertama tersebut dilakukan oleh Pangdam Iskandar Muda, Mayjend TNI Zahari Siregar dan Bupati Aceh Tamiang, Hamdan Sati. Lokasi Makodim baru tersebut terletak di Kecamatan Kejuruan Muda, yakni kecamatan perbatasan timur di kabupaten itu. Luas tanah lokasi tersebut yakni 60.000 m2. Dengan dibangunnya Makodim di kawasan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara dinilai strategis dari aspek pembinaan teritorial. 

mendengar pemaparan oleh Kazibang, Jumat 7 Juni 2013

MEWAKILI BUPATI

mewakili bupati, Senin 10 Juni 2013 

Hari ini lumayan gerah. Matahari terik menyinari ibukota Kabupaten Aceh Tamiang, Karang Baru. Senin, 10 Juni 2013, aku mewakili Bupati Hamdan Sati untuk hadir di DPRK Tamiang dalam rangka Sidang Paripurna LKPJ dan Proleg. Tiga sidang yang dapat dihadirkan pada hari ini dari empat sidang yang direncanakan. Pertama, pendapat fraksi-fraksi tentang laporan pembelanjaan tahun 2012. Kedua, pendapat fraksi-fraksi terhadap rancangan kanun daerah. Selanjutnya, yang ke-tiga yakni jawaban bupati terhadap pendapat fraksi pada sidang pertama. Sedangkan sidang ke-empat yang gagal adalah jawaban bupati tentang pendapat fraksi pada sidang ke-tiga. Seyogianya, sidang ke-empat ini dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB, namun karena anggota legislatif yang hadir tidak memenuhi kuorum maka sidang ditunda. Kehadiranku ini merupakan pengalamanku yang pertama di legislatif Aceh Tamiang.

mendengar pemandangan umum fraksi, Senin, 10 Juni 2013

Minggu, 09 Juni 2013

RUMAH ACEH TMII

lukisan rumah Aceh, 2013

Rumah Aceh di Taman Mini Menurut Rachmat

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan kawasan wisata yang berisikan berbagai bangunan tradisional dan adat yang terdapat di seluruh nusantara. Tidak ketinggalan, pada kawasan seluas 150 hektar itu terdapat rumah tradisional Aceh beserta bangunan pelengkap lainnya. TMII yang dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975 tersebut saat ini menjadi ajang pembelajaran arsitektur, terlebih lagi bagi para mahasiswa peminat di bidang itu.

Menurut Rachmatsyah Nusfi, arsitek tradional Aceh, rumah Aceh di Taman Mini Indonesia Indah sejak awal pembangunannya sudah salah dari aspek proporsional, “di samping terlalu besar dari ukuran rumah masyarakat Aceh secara umum,” katanya.  “Rumah itu terbatas untuk pajangan belaka,” katanya.

“Kehadiran rumah Aceh tersebut tidak dapat dijadikan representasi rumah tradisional Aceh,” ungkap Rachmat. Menurut pengakuannya, maksud kehadiran rumah Aceh sebagai pengenalan rumah tradisional di tingkat nasional, akan tergiring keliru berkelanjutan jika diperuntukkan sebagai bahan kajian akademis. “Karena pembuatan rumah Aceh yang ada di Taman Mini itu tidak didasari atas rumus atau satuan ukuran tertentu,” kata Rachmat. Menurut Rachmat, sebenarnya rumah Aceh itu bukan rumah adat, hanya rumah tradisional yang merupakan bangunan golden section, yakni rumah yang memiliki satuan ukuran standar matematis.

“Keberadaan arsitektur rumah Aceh lazim direspon secara tendensius oleh kalangan tertentu,” kata Rachmat dalam setiap seminar arsitektur di Banda Aceh. “Padahal jika dikaji, pembuatan rumah Aceh sarat logica dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis,” katanya.


Namun demikian, ianya memaklumi perjalanan suatu proses pengungkapan arsitektur lazim dipengaruhi pemikiran sesaat yang berbeda. “Menurut tingkat pemahaman komunitas tertentu,” jelasnya.  Dalam menyikapi keadaan, Rachmat berharap kepada pemerintah yang berwenang untuk merenovasi bangunan rumah tradisional itu, agar dapat melakukannya sesuai dengan kaedah-kaedah yang telah mentradisi di kalangan para tukang pembuat rumah (utoh). “Agar dapat melanjutkan perjalanan arsitektur sebagai aset bangsa,” pungkasnya. 

APRESIASI SASTRA

Dalam sastra roman Melayu, ungkapan bahasa lazim dipengaruhi dialek yang kadang kala sukar dipahami para pembaca umumnya. Tatabahasa yang dituliskan boleh ditafsirkan akibat pengaruh perkembangan satra Indonesia terhadap gaya bahasa Melayu. Hal ini bukanlah hal keliru karena tuntutan dari karya ini nikmat dibaca oleh pihak tertentu.

 

Menembus Kaseh

          Se-masa dengan kisah kejayaan Bendahara Johor 1613 M, Tun Sri Lanang, terkisah pula jalinan dua insan Datok Merindu Aruma Rungga bersama Putri Tunggal Sari Ratna Mutu Manikam dalam pesta budak-budak menari. Pujangga tak bernama ini berharap hikayat ruman sejarah ini berulang pada masa empat abad kemudian. Alkisah, Datok sangat senang pada delapan hari bulan Juni bertepatan 29 Rakjab kerana ada kesempatan pertemuan keduanya. Ia melarikan kereta cepat sekali dari arah timur tempat itu untuk menikmati rona indah pipi kekasehnya, Putri Tunggal Sari Ratna Mutu Manikam binti Datok Saif bin Saliman. Semula Putri sedikit marah dalam perjumpaan itu. Tapi tatapan matanya tajam menembus dada Datok tatkala seliseh jalan di bilik pesta. Sesekali Datok melirik kekasehnya yang duduk berselang oleh beberapa kursi puan-puan. Datok menerawang kepada hal-hal keelokan tubuh Putri dalam mata melolong. Utaknya berfikir keras sekejab itu seraya senyum dalam arti yang tidak tercakap. Jemarinya meremas geram, laksana memecahkan bola. Putri yang hari itu memakai baju kurung renda oranye sungguh elok dan membuat hati Datok meronta ingin tuai hasrat bersama. Tak lama Datok bercakap-cakap usai  pidato, Putri datang duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Jari Putri terhimpit telapak tangan Datok entah sengaja atau tidak. Putri menarik dengan sungging bibir antara marah-marah tidak. Dalam penantian pulang Putri berdiri di sisi membelakang Datok yang lagi duduk bersama seorang kerani pesta asal Buket Tekung, Aswin Panjang bin Guru Toyor. Datok yang sedang bergelora dada mengusap bahagian belakang Putri sekadar melepas rindunya berbulan. Putri mengerti ihwal perasaan Datok tanpa meronta. 

             Dalam terik mereka bersepakat mencari santapan siang bersama beberapa Cek Gu perempuan. Datok memilih duduk di hadapan Putri pada meja makan panjang. Putri cekatan memesan santapan semuanya sambil mengatur duduk penyantap. Dipilihnya duduk sebahu dengan kesasehnya, Datok Merindu Aruma Rungga. Mereka banyak saling canda yang dinikmati rekan lainnya. Ketika pulang Putri mengajak Datok singgah ke rumahnya, tapi keadaan Datok letihlah amat. Putri maklum dan tidak marah serupa masa lalu-lalu.   

Selasa, 04 Juni 2013

SASTRA BUNGA SETAMAN

Sastra negeri seberang

Kisah Datok dan Putri
 
bunga setaman untuk Putri Tunggal Sari

“Aku palak,” kata Datok Merindu Rungga Aruma (RA). “Tidak ada urusan palak,” sahut Putri Tunggal Sari Mutu Manikam (SMM). Mereka berdebat hingga larut malam di dua perjalanan berbeda, ke timur dan ke barat. Datok Merindu RA memang teramat gusar rembang petang itu kerana Putri Tunggal SMM menghindar jadwal lawatannya. Namun dalam usia jauh beda dengan kekasihnya itu, Datok Merindu RA tidak kuasa menunjukkan gusar berlebih. Ada pasal mendasar atas gusarnya kerana Putri Tunggal SMM membantah tudingan. Hingga maklumat esok hari Datok dan Putri saling bantah dan bela diri atas ihwal perasaan keduanya. “Selamat bermalam minggu,” kata Putri menutupi perbicangannya tengah malam. Selayak namanya, Datok Merindu Rungga Aruma berkata dalam hati,”tak berbanding aruma bunga setaman ini dengan aruma Putri Tunggal

HUT SATPOL DAN WH

HUT SATPOL PP DAN WH TAMIANG

HUT Satpo PP dan WH Tamiang, Senin 030613

TURNAMEN TELAGA MUKU

Turnamen Sepak Bola di Telaga Muku
 
Razuardi Ibrahim menyerahkan hadiah pada Turnamen
Sepak Bola Masyarakat Telaga Muku, Tamiang, 300513

Kamis, 30 Mei 2013, aku diundang Tgk Don dan Datok di Telaga Muku untuk hadir dalam penutupan pertandingan sepak bola. Hari terakhir itu berhadapan dua kesebelasan yakni Manyak Payed versus Telaga Muku. Dalam pertandingan seru yang dipadati ribuan penonton tersebut, kesebelasan Manyak Payed menang 1-0 atas tuan rumah. Lapangan kecil di desa pantai kabupaten Tamiang tersebut riuh rendah dari sorai pengunjung. Sekira jam 18.00 WIB, tatkala penutupan, aku dipersilahkan memberi sambutan pada acara itu. Tidak cukup dengan pidato singkat dariku selaku wakil pemerintah daerah, aku juga dipersilahkan menyerahkan hadiah kepada juara pertama. Terkesan masyarakat desa Telaga Muku cukup ramah dalam menyambutku. Begitupula petugas dari Koramil dan Kapolsek yang bertugas pada hari meriah itu.