Sabtu, 05 Oktober 2013

LAHAN DI KECAMATAN BENDAHARA

Lahan Produktif Kecamatan Bendahara

Sebagaimana dibicarakan dalam ragam diskusi dan seminar, bahwa di kabupaten Aceh Tamiang marak terjadi pembukaan areal perkebunan baru. Sejarah banyak menceritakan, bahwa aktivitas ekonomi berbasis perkebunan di kawasan ini sudah berjalan sejak masa Kolonial Belanda dulu.  Kondisi kekinian memperlihatkan, bahwa ekonomi berbasis perkebunan ini tetap saja meyakinkan masyarakat sehingga perluasan perkebunan masih menjadi cita-cita yang menjamin ekonomi masa depan. Dampaknya, intervensi usaha perkebunan terhadap sektor tanaman pangan cukup kentara dan kerap menimbulkan masalah baru. Tanaman perkebunan yang paling diminati saat ini adalah kelapa sawit dan karet dalam jumlah luasan yang relatif kecil.
Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara
Aceh Tamiang, 2013

Di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, terdapat lahan negara berupa semak belukar yang mulai digarap masyarakat dengan menanam kelapa sawit. Dalam pencermatan tertentu, lahan terlantar milik negara itu terancam dari aspek pengalihan fungsi, khususnya dalam hal status ke-penguasaannya. Meskipun status kepemilikan lahan yang digarap tersebut tidak serta merta dapat dialih-fungsikan, namun investasi yang dikucurkan dapat menghambat proses pengembaliannya.

Dari pengamatan peta, lahan terlantar tersebut diperkirakan seluas kurang lebih 700 hektar yang berlokasi di tepi muara Sungai Iyu dengan lokasi terpisah. Secara visual, lahan dimaksud dipengaruhi pasang surut air sungai dengan kontur tidak rata. Tanaman belukar yang hidup di tempat itupun beragam, yakni tumbuhan yang tidak berpersoalan terhadap kondisi pasang surut.


Sebagai penyelenggara negara, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berkehendak menyelamatkan aset negara tersebut  melalui  bangkitan produksi komuditas tertentu dari pemanfaatan lahan. Konsep yang diusung adalah penanaman padi untuk peningkatan ketahanan pangan kabupaten yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah. Upaya ini diyakini dapat menjangkau beberapa sasaran yang pada hakekatnya menjaga aset negara serta menggerakkan usaha milik daerah. Dengan kegiatan ini penggarapan lahan liar akan terbendung sehingga kepemilikan lahan negara tetap terjaga. Di samping itu, kegiatan usaha ini akan meningkatkan PAD dan berpeluang membuka lapangan kerja baru bagi Kabupaten Aceh Tamiang.

Jumat, 04 Oktober 2013

PERAHU LOGOg

Goresan tanganku 2009
tentang perjalanan

HUBUNGAN DENGAN BELAWAN

Isu Pemutusan Hubungan Dengan Belawan
 
salah satu pelabuhan rakyat di pesisir Aceh
Sejak tahun 2000, aku sering mendengar ocehan orang-orang tertentu untuk memperkuat ekonomi Aceh dengan kemandirian, tidak bergantung kepada provinsi lain. Banyak seminar membicarakan hal itu bahkan dari pakar ekonomi yang meyakinkan. Pertimbangan membangkitkan ekonomi mandiri Aceh tersebut didasari atas suatu kenyataan bahwa banyaknya komuditas asal Aceh yang diangkut ke luar negeri melalui Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Oleh karenanya menurut sebagian pakar dalam ragam  seminar, salah satu upaya aplikatif untuk mendukung konsep ekonomi mandiri tersebut yakni dengan melakukan ekspor langsung dari pelabuhan-pelabuhan di Aceh ke luar negeri, khususnya ke Penang, Malaysia.

Di tahun 2001, kalau tidak salah, Pemkab Aceh Utara membeli kapal barang yang bertujuan mengekspor barang langsung dari Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, ke Penang. Upacara ekspor perdana-pun dilakukan dengan menghadirkan kerabat pengusaha dan pemerintah daerah dari kabupaten sekitar. Aktivitas perdagangan yang disambut hangat oleh berbagai kalangan waktu itu berakhir pada pelayaran kedua sehingga kapal Marissa, pengangkut barang ekspor,  menemui kenyataannya untuk menganggur. Tidak cukup dengan kenyataan itu, pada tahun selanjutnya muncul lagi ide untuk mengimpor mobil bekas melalui Pelabuhan Krueng Geukueh dan Sabang. Aktivitas inipun berjalan dalam beberapa kali pelayaran saja, setelah itu kandas. 

Pasca musibah tsunami, 2004, BRR Aceh–Nias melakukan kegiatan multi sektoral di Aceh. Rancang bangun infrastruktur ekonomi, termasuk pelabuhan semakin kuat  dijadikan alasan untuk perkuatan pertumbuhan ekonomi Aceh. Berbagai seminar ekonomi dalam era tahun 2005 hingga berakhirnya BRR, 2008, memperkuat pemikiran ekonomi Aceh yang mandiri. Tidak mengherankan, di sepanjang garis pantai Aceh dibangun pelabuhan besar dan kecil.

Sekira tahun 2010, tatkala aku menjabat sebagai Kepala Bappeda Bireuen, aku sering diajak diskusi oleh Bupati Bireuen, Nurdin Abdul Rahman, tentang materi rapat antar kepala daerah, khususnya bupati dan walikota di pesisir utara Aceh untuk menghidupkan kembali Pelabuhan Krueng Geukueh. Isu hangat yang turut menyibukkan beberapa aparatur daerah di sekitar kawasan itu juga kandas tanpa aplikasi. Konsep pemutusan hubungan dengan Belawan yang semakin terusung tidak terwujud seperti pembahasan antar seminar.


Di tahun 2011, aku mendengar kabar dari beberapa kawan bahwa Manajemen Pelabuhan Belawan akan melakukan peluasan areal peti kemas. Perluasan itu dilakukan dengan menimbun areal rawa-rawa dengan investasi relatif besar. Artinya, Pelabuhan Belawan tetap saja mampu menarik perhatian para eksportir tanpa mempedulikan isu pemutusan hubungan dengannya. Aku memahami hal ini sebagai suatu pembelajaran mahal. Belenggu diskusi dalam beberapa tahun untuk membahas isu melelahkan tersebut tanpa menghasilkan tujuan yang jelas. Sementara aspek ekonomi tetap menjalankan perannya sesuai kehendak alam berikut ragam asumsi yang menyertainya. Belum bisa dibantah, Pelabuhan Belawan masih dibutuhkan para eksportir Aceh.

Selasa, 01 Oktober 2013

PUISI SEJIWA

Ibis, 30.09.12

sejiwa busana tanpa duga
sosok tiba dari timur dinanti
sejak enam puluh hari
medaki puncak malam
aura menggapai aura
tiada galau dalam tatap

pagi sesunggukan
 mengenyam sarapan tadi malam
lepasan yang tenteram
ekspresi murni 

Jakarta 30.09.13

TATKALA TUPAI MENGGUNCANG KELAPA

Tatkala Tupai Mengguncang Pohon Kelapa
                       
Suatu ketika seekor tupai terkesan sesumbar, bahwa dia sukses menguncang pohon kelapa. Keadaan cuaca saat itu sangat tidak menguntungkan bagi sebagian pepohonan. Angin kencang menumbangkan banyak pohon kelapa atau mematahkan ranting pohon-pohon tertentu. Dedaun  pohon pisang tercabik dan berkibar, jika tidak ditumbangkan angin. Namun, dengan bangganya hewan pengerat yang juga pemakan kelapa itu mengumumkan bahwa dia telah mengguncang pohon kelapa. Sebagian makhluk yang memahami ketidak-mungkinan kemampuan tupai memilih diam. Di sisi lain, kisah sesumbar tupai dimanfaatkan makhluk pendukung untuk meperluas berita. Tidak terlalu lama, sebagian makhluk di ekosistem itu mengakui tupai sebagai makhluk kecil yang kuat sebagai penggoncang pohon kelapa. Sepakat makhluk serta intervensi pengkultusan di dalam ekosistem itu, menetapkan tupai sebagai pemimpin.
 
Razuardi Ibrahim di PKA-6
28 September 2013

Suatu ketika kemarau datang, kawasan mengalami kekurangan air. Ragam makhluk dalam ekosistem memohon kepada pemimpin, tupai, agar memberi air kepada mereka yang hanya tinggal satu solusi saja, yakni menjatuhkan buah kelapa untuk diperoleh airnya. Tupai yang ditetapkan sebagai pemimpin gagal membuktikan kemampuannya menggoncang pohon kelapa. Sementara buah kelapa tetap saja melekat di tangkainnya. Ketidak-hebatannya mulai terbukti dan tuntutan pendukung mulai terabaikan dalam lompatan kegirangan dari pelepah ke pelepah. Sesekali tetesan air kelapa yang diminumnya di atas pohon tercicipi juga oleh yang lain di bawah sana. Begitulah kinerja pengkultusan tanpa bahtah yang lebih berpeluang kepada penciptaan iklim kepapa-an tanpa arah tuntutan.

TATKALA MULUT CECAK BERDARAH

Tatkala Mulut Cecak Berdarah


Suatu ketika, seekor cecak memangsa nyamuk yang kenyang darah. Tubuh nyamuk tambun darah itu pecah di mulut cecak pemangsa sehingga mulut hewan inipun berselemak darah. Adalah kebiasaan reptil ini memangsa nyamuk atau serangga kecil lainnya sebagai bahan makanan, namun cecak bukanlah jenis hewan pemakan darah. Tatkala seseorang melihat mulut cecak itu penuh darah, tersimpullah dalam pikirannya bahwa cecak merupakan makhluk pemakan darah. Orang itu bercerita kepada khalayak, bahwa cecak binatang menakutkan serupa monster. Cerita dari mulut ke mulut itu meluas ke komunitas yang hidup di pemukiman moderen yang bersih nyaris tanpa nyamuk  dan serangga, andil tingginya disiplin petugas fogging. Kesimpulan tentang cecak berikut peng-waspada-an terhadap makhluk ini semakin merasuk ke dalam pola pikir. Begitulah kinerja berita tanpa selisik yang lazim berkembang pada masyarakat transisi dari iklim tradisional ke atmosfir moderen. 

SUREYOR INDONESIA

Rapat Di Surveyor Indonesia

Surveyor Indonesia, 1 Oktober 2013
Di hari Republik Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2013, kami menyelesaikan rapat di Surveyor Indonesia, Jakarta, tentang langkah-langkah penyelesaian pengelolaan sumur minyak tua di Aceh Tamiang. Rapat yang dihadiri Bupati Aceh Tamiang, Hamdan Sati dan Razuardi Ibarihim membahas rencana tidak lanjut bersama tim Surveyor Indonesia yang diwakili Yusep, Firza, Safrafuddin dan Imam. Kesepakatan kerja yang akan dilakukan meliputi penjadwalan tentative, yakni :

Razuardi Ibrahim memberi penjelasan
potensi Aceh Tamiang, Jakarta, 30 September 2013
§  Pengambilan data dimulai tanggal 21 sampai dengan 31 Oktober 2013;
§  Template kontrak Kabupaten Blora mulai tanggal 1 Nopember 2013;
§  Pengolahan data mulai tanggal 2 Nopember sampai dengan 1 Desamber 2013, yakni data sekunder, administrasi dan data teknis;
§  Penyusunan dokumen yang akan diajukan ke Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, tanggal 2 Desember 2013.

Jakarta, 30 September 2013
Sehari sebelumnya, 30 September 2013, rapat mendengar masukan dari Pemkab Aceh Tamiang dilaksanakan juga di kantor ini. Penjelasan yang aku berikan menjadi bahan diskusi dari rekan-rekan dari Surveyor Indonesia.