Rabu, 06 November 2013

PUISI ANYER

Razuardi Ibrahim, dalam nyanyian Anyer, 2 Nopember 2013

anyer
2-3 Nopember 2013

lama alpaku dari wajah-wajah itu
yang bahana saat sua malam itu
pejantan tangguh kerap canda di bangku ajar
sungguh mereka santun terima
aku langkahi laut

pantai anyer cerita dalam cahaya
terangi raut para perindu
akan kisah usil masa lalu
yang tiada tara bernilai
derap satu masih terasa di nadi
teriak bersama, aku dalam rangkulmu

LAMPIAS KEMARAHAN

Lampias Kemarahan

Aku mendengar cara orang-orang mengungkap kemarahan terhadap yang lain relatif berbeda. Setidak-tidak terdapat tiga cara orang melampiaskan kemarahannya yang aku cermati dalam puluhan tahun, yakni sejak aku mulai bekerja sebagai pegawai negeri sipil, 1990.
 
raqai, 4 Nopember 2013

Pertama, yakni dengan memperlihatkan emosi bahkan berupaya menghadirkan kekuatan fisik untuk penyelesaian kemarahan itu. Ekpresi serupa ini mudah diselesaikan karena persoalan mudah dipahami dan mudah dicarikan solusi. Kedua, yakni dengan berpura-pura santun namun berupaya keras agar orang yang tidak disenanginya itu bermasalah akibat tebaran isu pembusukan. Ekspresi kedua ini relatif sulit karena musabab kemarahan tidak terungkap jelas. Ketiga, yakni dengan ekspresi penghindaran, tidak ingin untuk bertemu atau dipertemukan dengan kata lain memutuskan tali silaturahmi. Ekspresi ketiga ini sebenarnya tidak  berpengaruh kepada kedua pihak, asal dari keduanya tidak memunculkan masalah baru. Lantas, aku merenung sejenak memperhatikan seorang kerabat, Raqai, adik kelasku di Fakultas Teknik Unsyiah. Aku menyaksikan ekspresinya ketika dimarahi seniorku Rachmatsyah Nusfi pada, 4 Nopember lalu. Dia diam saja, tanpa komentar perlawanan. Raqai seorang pelukis yang juga pecinta alam, sama profesi dengan Rachmat. Aku memaknai, bahwa ada karakter marah tertentu yang tidak menimbulkan marah balasan yang aku simpulkan karena sama profesi dan tingkat senioritas. 

ISU NARKOBA TERHADAPKU

Isu Narkoba Terhadapku

kondisi mataku, 5 Nopember 2013
Pada malam Senin, 3 Nopember 2013, aku dipanggil Bupati Hamdan Sati untuk minum kopi di Starbuck, Jakarta.  Bersama aku turut Rachmatsyah Nusfi, karena bersama pulang dari pertemuan Anyer Kaft sore itu. Ketika baru beberapa menit duduk di tempat itu, Bupati Hamdan berseloroh kepada Rachmat, “sudah kau bilang mat ?,” tanyanya kepada Rachmat. “Belum,” kata Rachmat. Setelah beberapa lama mereka berkelakar dengan bahasa yang kurang kupahami, akhirnya Bupati Hamdan bersikap untuk menanyakan sesuatu hal kepadaku, “gini sek, aku juga kaget ada yang memberitakan kepada aku bahwa kau pemakai sabu ya,” katanya sambil menjelaskan beberapa ciri padaku yang mengindikasikan pengguna narkoba. Aku tidak kaget dengan berita serupa itu, karena ketika hendak pelantikannku, selebaran bahkan koran yang mengbarkan aku korupsi puluhan milyar beredar di kabupaten itu. Tentu aku jawab juga pertanyaan Bupati Hamdan, “ya biasalah, macam-macam aksi orang untuk mengungkap ketidaksetujuan terhadap kita, tinggal kita saja yang cerna gejala apa seperti ini” kataku. Alasan Bupati Hamdan yakni gigi depanku yang patah dan berlobang di tengah merupakan ciri pengguna sabu.
 
kondisi gigiku, 5 Nopember 2013
Seingatku, ketika jelang akhir bekerja di Bireuen pernah juga diberitakan tentang aku memakai sabu. Hal itu disampaikan oleh Samsul Juli, kerabatku yang juga ketua asosiasi salah satu kontraktor di Bireuen. “Kata orang itu dia berani sumpah melihat Pak Raju memakai sabu, seusai shalat Jumat,” cerita Samsul. Aku penasaran ingin mengtahui sosok orang penebar berita serupa itu, namun Samsul tetap merahasiakannya hingga narasi ini kutulis. “Menurut orang itu, mana mungkin Pak Raju kuat sekali kerja, tentu pakai sabu,” jelas Samsul lagi. Di tahun 2011 itu aku sudah mulai berfikir untuk tidak terusik dengan isu semacam itu hingga aku temukan satu nama penebar cerita itu di Bireuen, yakni WEA, kontraktor muda yang baru mengenal alam.


Aku menyimpulkan sementara, berbagai isu berpeluang untuk menerpa seseorang dalam rangka memupus ragam kompetensi yang dimiliki sesuai profesinya. Namun sebagai objek terpaan isu yang tidak berdaya melawan dengan kemampuan debat berkepanjangan, sebaiknya diam seraya membangun pembuktian yang beresensi pembantahan. Konon lagi isu pengguna sabu yang dapat dibuktikan seketika lewat pemeriksaan laboratorium. Terpenting dari pengalaman ini, tentang diperlukannya strategi membangun mindset publik dalam hal berkompetisi. 

Senin, 04 November 2013

STATUS PARA ALUMNI KAFT

Status Para Alumni Fakultas Teknik
 
Madi, alumni angkatan 1983

Menurut  dekan, alumni Fakultas Teknik Unsyiah mencapai 7.500 orang di usia setengah abad. Tentu dalam jumlah sebesar ini, para alumni memiliki status yang berbeda dalam menghadapi masa mencari kerja. Hal ini menjadi persoalan terpendam dan terungkap tatlkala berlangsungnya diskusi dalam Pertemuan Kaft di Anyer, 2-3 Nopember 2013. Aku mencoba menginventarisir status dari beberapa alumni junior yang hadir, tanpa metode formal. Lumayan juga, aku dapat mengungkap dalam diskusi sore dan mendapat respon dari beberapa rekan yang berbisnis jasa di Jakarta, salah satunya Mahdi, alumni Teknik Mesin angkatan 1983. Kelompok status alumni yang aku paparkan antara lain, (1) para akademisi, (2) pelaku dunia usaha, (3) birokrat, (4) LSM, (5) politikus dan (6) penganggur. Mahdi berkomentar, bahwa sebaiknya Kaft berupaya membesarkan kelompok pelaku dunia usaha. “Bukan kontraktor seperti yang lazim terjadi saat ini,” katanya. Aku berujar pada Mahdi untuk membahas apa yang disampaikannya, bersama beberapa pemikir Kaft di Dewan Pimpinan Pusat Kaft Aceh.

REST AREA

Di Rest Area, Tangerang, 031113

Sepulang dari Anyer menuju Jakarta, kami singgah di rest area, kawasan persinggahan untuk rehat di tepi ruas jalan itu. Lokasi itu berada di kawasan Tangerang, Provinsi Banten. Tempat itu tidak luas, sekira 10 hektar saja. Keberadaan rest area itu tentunya untuk memfasilitasi para pelintas menikmati waktu istirahatnya setelah lelah dalam perjalanan. Namun dalam kesaksianku, lokasi kecil itu ramai disinggahi berbagai kendaraan dan orang-orang. Aku berdikusi dengan Rachmat dan Mahdi dan mencoba membangun kesimpulan bersama."Tempat ini sedang bergerak menjadi kota kecil".

CATATAN ANYER

Razuardi Ibrahim, Anyer 031113
Catatan Anyer Kaft Summit
2-3 Nopember 2013


Akhirnya kita mesti mengakui bahwa kita butuh jaminan hidup masa depan. Persoalannya, belum kelihatan gambaran itu sehingga tamatan perguruan tinggi berebut menjadi kontraktor, pemborong bangunan. Alasan terhadap pilihan ini tidak lain dan tak bukan karena lapangan kerja lain terbatas, begitu pendapat sebagian rekan di Anyer Kaft Summit. Tentu persoalan ini tidak layak terbiarkan berkepanjangan. 

MENILAI PROFESSOR

Menilai Professor di Warung Kopi

Sekira pertengahan April tahun 2013, aku memenuhi ajakan beberapa rekan untuk minum kopi di Banda Aceh.  Orang-orang banyak bercerita bahkan memperolok-olok tentang kinerja para professor di lingkup aparatur Pemerintah Aceh beberapa tahun terakhir. Kata banyak orang, mereka tidak mampu melakukan aplikasi tugas pokok yang menjadi tanggungjawabnya di masing-masing institusi yang dipercayakan sehingga dianggap gagal. “Padahal mereka merupakan guru besar di perguruan tinggi terkenal di daerah ini,” ungkap beberapa pegawai berseragam warna khaki di warung kopi kawasan Ulee kareng, tempat mangkal aparatur minum kopi sambil menghujat keadaan setelah apel pagi.
kolaborasi antar angkatan alumni FT, 7 September 2013
Dalam bahasan di warung kopi itu, sebagian aparatur berkomentar, “mengelola pemerintahan tidak dapat dibandingkan langsung dengan tingkat pendidikan”. Kemampuan aparatur dalam melakukan eksekusi kegiatan pemerintahan yang sudah terpola sejak awal bekerja, tidak dimiliki oleh para akademisi kampus. Sementara, kemampuan teoritis yang melekat pada diri masing-masing professor tidak pula serta merta dapat dijadikan ukuran kemampuan untuk melakukan langkah eksekusi.

Pada pertemuan Kaft di Anyer, Banten, 2-3 Nopember 2013, beberapa alumni junior yang bekerja di luar Aceh mengeluhkan juga tentang keadaan ini. Artinya, mereka masih peduli terhadap perkembangan kampus Unsyiah, khususnya Fakultas Teknik. “Bertahan di kampus dengan memproduksi lulusan berkualitas jauh lebih mulya dari pada menjabat di birokrasi,” kata salah seorang dari para junior itu.  Tidak itu saja, kegagalan mereka berpengaruh terhadap kompetensi kampus berikut para alumninya,” sambung yang lain.


Ketika itu aku coba menyimpulkan sementara, bahwa variabel pengalaman yang membangun keterampilan juga merupakan pendidikan bagi aparatur selama perjalanannya. Persoalannya, pengalaman ini tidak terukur dan belum diakui sebagai nilai tambah dalam kriteria kompetensi. Minimal kesimpulan tanpa penelitian ini dapat menetralisir perasaanku terhadap hujatan beberapa orang di tempat itu terhadap beberapa professor yang aku yakini telah membangun kompetensi perguruan tinggi di Aceh.