Sabtu, 06 Juli 2013

KARAKTER KEPEMIMPINAN

Karakter Kepemimpinan

 Di era 2007 hingga 2011, aku dapati suatu karakter kepemimpinan birokrasi yang terkadang lazim. Kepemimpinan yang relatif lazim tersebut yakni pengambangan masalah dalam mendapatkan solusi.  Pemimpin serupa ini biasanya tidak mampu mengambil keputusan dari suatu kebijakan karena keragu-raguan yang selalu menghantui. Dia akan selalu memohon petunjuk kepada atasan agar tidak dipersalahkan jika terjadi resiko dari tindakannya. Mana kala sosok pemimpin serupa ini terjebak dalam suatu pengambilan keputusan, langkah yang dilakukannya pada tahap awal adalah membuat rapat dengan bawahannya untuk melahirkan sebuah solusi. Biasanya solusi produk bersama bawahan itu lebih kepada teknik lempar batu sembunyi tangan. Setelah bertemu dengan atasan, ianya berupaya menyampaikan solusi sebagai karyanya. Namun manakala terjadi bantahan dari pihak atasan, ia dengan serta merta menuduh pihak bawahan sebagai pihak yang keliru berikut konotasi negatif lainnya. Ciri pemimpin serupa ini, yakni tatkala berhadapan dengan atasan berekspresi memelas. Sementara menghadapi bawahan kerap tidak memberi solusi dari persoalan yang akan diselesaikannya.

ATMOSFIR DEFENSIF

Atmosfir Defensif

Di pertengahan tahun 2013, aku mendengar untuk mengamati suatu kondisi  keterkaitan antara aparatur dengan masyarakat dan dunia usaha. Menurut informasi masyarakat, ada suatu tradisi kehidupan masyarakat yang tergolong destruktif, yakni kebiasaan adu domba  sesama (provokatif). Keadaan ini berkembang akibat kebiasaan respon yang tinggi dari masyarakat itu sendiri terhadap berbagai isu yang muncul. Oleh karena kepedulian ini berwujud respon  kecurigaan, kesyirikan, persaingan dan lain sebagainya maka tradisi adu domba telah dimaklumi sebagai suatu keniscayaan. Hal ini menjadi persoalan tatkala pemakluman tradisi sudah merambah ke dalam sistem pola pikir pemerintah berikut aparaturnya. Tidak mustahil akibat pemakluman keniscayaan, terbentuklah kelompok-kelompok defensif untuk penyelamatan eksistensi masing-masing. Tidak saja di lingkup aparatur, tetapi terjadi juga di dua aktor pembangunan lainnya, yakni masyarakat dan pelaku usaha.  Biasanya, kelompok ini terbentuk atas dasar hubungan emosional atau premordialisme. Di lingkup aparatur kelompok defensif terus berkembang hingga memunculkan konsep senioritas. Tidak cukup dengan itu, kreativitas pertahanan kelompok di lingkup aparatur menuntut kehadiran doktrinasi bagi para junior. Jika kelompok ini mampu menyusup dan mempengaruhi kebijakan para pengambil kebijakan daerah maka atmosfir birokrasi yang terbentuk tidak mempunyai arah dan mengambang. Dampak domino dari keadaan ini cukup kuat untuk menjadi alasan terhadap kondisi pengkotak-kotakan di tengah masyarakat dan dunia usaha. Pemunculan sosok pemimpin di jajaran birokrasi produk tekanan saling dukung, pada dasarnya untuk mengamankan kepentingan bersama.

Jumat, 05 Juli 2013

MENGENDALIKAN APARATUR

Mengendalikan Aparatur

Di tahun 2013 masih banyak pekerjaan aparatur dalam hal pelayanan publik yang terbiarkan. Meskipun tanpa pengakuan resmi dari para pihak yang bertanggungjawab, indikasi ke arah ini cukup dapat dimaknai dari ragam info media cetak yang beredar di tengah masyarakat. Pada hakekatnya, ke-terbengkalai-an berbagai pekerjaan andil ketidak-terampilan aparatur pelayanan sektor tertentu. Betapa berita di layar kaca tentang meninggalnya bayi mungil akibat tidak terlayani dengan baik di rumah sakit tertentu, memiriskan perasaan kita. Boleh jadi persoalan ini dikarenakan kemalasan para aparatur pelayanan atau ke-tidakterampilannya. Lebih arif jika kita menganggapnya tidak terampil dalam menjalankan tugas.


Aku sendiri sering berhadapan dengan staf tidak terampil yang konsekwensinya memusingkan kepalaku. Dalam pencermatan yang kulakukan, ke-tidakterampilan aparatur seperti ini biasanya ditutup-tutupi dengan ekspresinya yang lain agar terkesan sibuk. Bagi para atasan yang tidak mampu menyimpulkan keadaan ini tentu terkecoh dari tampilannya. Untuk mengatasi hal ini para pimpinan harus mampu membangun pertanyaan terhadap laporan kerjanya yang selalu dihadirkan untuk menyibukkan para atasan itu. Jika jawaban yang ia berikan mengambang bahkan berbelit-belit, sebaiknya ungkapkan saja, “anda tidak mampu di tempat ini”. Aku pernah menggunakan cara ini ketika aku menjabat pemimpin proyek IPJK di tahun 1994 dan cukup efektif. Di tahun 2013, aku belum atau tidak menggunakannya lagi karena dalam posisi struktural sekarang, kecenderungan penempatan bawahan bukan atas dasar rekomendasi pejabat di atasnya.

HUT KESEBELAS ATAM

Budaya Baju Safari
 
Razuardi Ibrahim bersama pejabat ATAM
pada HUT KE-11 ATAM, 2 Juli 2013, tidak dalam pakaian safari

Hingga  saat ini masih terlihat orang-orang tertentu suka menggunakan stelan safari dalam mempertahankan ekslusivisme-nya. Stelan safari atau baju safari, sebenarnya jenis pakaian resmi tertentu, bercirikan warna seragam kemeja dan celana yang digunakan para pemimpin satuan kerja atau kantor. Kerah stelan pakaian ini mirip jas namun dengan lengan yang pendek. Pada bahagian depannya terdapat empat saku, yakni dua di bahagian atas dan dua di bahagian bawah. Jika ada sosok tertentu memakai stelan ini di tengah kerumunan orang maka sasaran dugaan, orang inilah pemimpinnya. Begitupula, jika ada orang-orang tertentu yang bukan elite memakai baju safari, ianya dipandang aneh dan gila jabatan. Tidak kudapatkan informasi tentang alasan nama stelan pakaian ini dinamakan safari karena masih ada pihak tertentu yang menamakannya dengan istilah jas pancung. Aku hanya teringat pakaian ini mulai ramai dipakai pada tahun 1977, di musim Pemilu Ke-3 Indonesia. Para Camat diberi fasilitas mobil merek VW kodok berwarna oranye lengkap dengan pakaian safari-nya. Mobil VW jatah para camat inipun populer disebut dengan nama Ve We Safari. Acara hiburan yang mengorbitkan banyak artis top papan atas di TVRI-pun di namakan Aneka Ria Safari. Jika tidak berlebihan, dapatlah disimpulkan sementara bahwa kata safari me-nasional di Indonesia pada tahun 1977. Kesimpulan ini beranjak dari awal kata safari itu digunakan atau pertama kali aku dengar yakni di tahun 1971, pada masa Pemilu Ke-2. Usiaku ketika itu baru memasuki 10 tahun dan gemar menonton hiburan kampanye. Di masa itu berbagai pelosok kabupaten-kotamadya ramai dikunjungi Tim Safari Golkar. Namun demikian, baju safari telah berjasa dalam memperkenalkan para elit di jamannya.

PAMERAN BUDAYA ACEH TAMIANG

Razuardi Ibrahim, 28 Juni 2013, dalam pembukaan Pameran Budaya Aceh Tamiang

KRITERIA INFORMAL

Kriteria Informal
Pemimpin Satuan Kerja Awal Millenium Tiga
 
Razuardi Ibrahim, 28 Juni 2013, usai pembukaan
Pameran Perpustakaan di Tamiang

Dalam berbagai kesempatan, khususnya dalam pelatihan pra-jabatan aku sering berujar, bahwa “aparatur gagal adalah sosok pengabdi masyarakat yang tidak memahami tujuan tugas yang dilakukannya”. Ungkapan itu perlu tindak lanjut dalam pemaknaan. Hingga pertengahan tahun 2013, di semua tempat atau daerah, masyarakat telah berani unjuk rasa bahkan demo anarkhis dalam memprotes keadaan. Situasi ini kerap menyulitkan posisi kepala daerah dalam mengambil kebijakan. Kesulitan yang terjadi biasanya terbangun dari kompensasi politis sejak pemilihan kepala daerah. Dalam kondisi politis yang kurang menguntungkan dan berpengaruh terhadap suasana aparatur, pejabat yang dipilih sudah seharusnya sosok petarung dan peredam. Artinya, sosok yang mampu bertarung dalam menyelesaikan masalah serta mampu meredam berbagai persoalan yang ditujukan kepada kepala daerah selaku pemimpinnya. Kebutuhan sosok seperti ini mulai marak di lingkungan kerjaku pada tahun 2000.  

KONTRIBUSI BAHASA CINA

Kontribusi Bahasa Cina
 
Razuardi Ibrahim dalam kerjasama
Honda dengan SMK 2 Tamiang
04 Juli 2013

Menurut Asiong (28/06/2013), warga keturunan Cina kelahiran Kuala Simpang, Aceh Tamiang, bahwa orang-orang Cina di Aceh kebanyakan berasal dari suku Khek, salah satu suku masyarakat keturunan Cina. Sementara Cina di Medan berasal dari suku Ho Khian. Dalam bahasa Khek, eungkot  berarti tulang ikan dan dalam bahasa Aceh berarti ikan. Artinya ada kesamaan nama dalam hal benda ini meskipun sedikit berbeda dalam detail, yakni tulang ikan dan ikan. Dengan demikian bolehlah diduga bahwa kata eungkot dalam keseharian masyarakat Aceh berasal dari bahasa Cina.