Sabtu, 04 Mei 2013

MUTUALISMA SARAPAN PAGI


Mutualisma di Sarapan Pagi
 
Pedagang sarapan pagi Aceh, 2013


Di pertengahan tahun 1989, aku pernah ke tempat Nek Bunda, orang-orang Meunasah Timue menyebutnya Cut Bunda, pagi-pagi dan sarapan di sana. Tetapi keluarga nenekku itu membeli saban pagi atau tidak memasak untuk sarapan. Makanan sarapan itu dibeli dari para penjual yang menggunakan gerobak di seputaran Keudee Matang Geulumpang Dua. Ada nasi gurih, lontong, nasi sate, nasi bebek, pulut, dan lain sebagainya. Waktu itu aku tidak begitu perhatian dengan keadaan sarapan pagi yang harus dibeli atau dimasak di rumah. Pada tahun 2002, aku menginap di rumah Tante Dali, termasuk adik sepupu ayahku, di jalan Langgar Kota Bireuen yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari tempat Nek Bunda. Lama aku nginap di situ, karena transportasi antar kota mogok dengan batas waktu yang tidak pasti. Tante Dali pun saban pagi menyuruh Ibel untuk membeli sarapan pagi dari pedagang gerobak di seputaran Bireuen. Kali ini aku mulai berpikir tentang pembelian sarapan di setiap pagi. Aku coba hubungkan antara pembelian sarapan pagi dengan penjual di gerobak-gerobak itu. Para pedagang bekerja sejak jam setengah enam pagi hingga pukul 09.00 atau pukul 10.00 WIB.  Sementara, keluarga Tante Dali tidak direpotkan dengan harus bangun pagi-pagi untuk masak. Waktu itu aku berkesimpulan, bahwa interaksi pembeli dan pedagang, khususnya sarapan pagi sudah mentradisi di Bireuen dan Matang Geulumpang Dua. Oleh karena itu tidak mengherankan, jika para pedagang sarapan pagi menjamur di kedua tempat itu, dengan suasana saling menguntungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar