Minggu, 05 Mei 2013

SASTRA BERMUTU



penggalan terjemahan dari
The Reality Heart

Jelang siang kucoba menghubunginya via telepon perekam tak langsung. Lama rekaman suaraku itu mendapat respon darinya. ”Dimana Sef, lagi apa ?”, begitu ungkapku melalui telepon perekam itu. Setengah jam kemudian telepon perekamku menerima rekaman suaranya, ”aku lagi bertugas di lapangan, Fattey mengirim nomor rekening untuk pengiriman uang”, katanya. Aku senang juga mendapat balasan itu. Beberapa kali kami berkomunikasi tapi tak langsung. Banyak kusampaikan kondisi kerongkonganku yang masih tercekik, iba mengingatnya. Tiba-tiba, ”maafkan aku Zel, setelah aku ukur-ukur, aku tak bisa jauh darimu. Dan setelah kubanding-banding, aku lebih mampu jauh dari anakku ketimbang engkau Zel. Aku sayang engkau Zel ya”, rekaman suara dari Sefney mengungkap. Aku terdiam sendiri di ruang yang kebetulan lagi sepi pelanggan. Pikiranku menerawang jauh ke seluruh sosok Sefney, tawanya, tatapannya, matanya, dan sebagainya. Sejenak darahku terkesiap, pikiranku terganggu isak tangisnya. Rasanya ingin kusaksikan segera Sefney tertawa lebar menikmati guyonanku agar batinku yang terusik suasana isak-tangisnya terobati. ”Sore kita ketemu Sef ya, dadaku masih sesak Sef”, pintaku padanya via telepon. ”Ya, Zel”, jawabnya singkat namun teramat berguna bagiku. Cepat-cepat kubalas berita itu, ”Terima kasih Sef”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar