Sabtu, 03 November 2012

PERSIAPKAN KADER

ALIM MUFID
Mempersiapkan Kader Bireuen Masa Depan

RAJA TOMOK
Beberapa malam aku duduk dengan Avid Daud, pemimpin kelompok muda kreatif di Bireuen di tahun 80-an. Aku sudah sejak lama berkontribusi dan berdiskusi dengan sosok ini hingga ianya hijrah ke Jakarta pada pertengahan 1999.  Aku dengan Bang Avid-panggilan akrab pendiri komunitas Benfica Bireuen-banyak kecocokan, pada umumnya berbasis kegiatan ke-manusiawi-an dan seni. Tentang majunya aku dalam pemilukada 2012 ini, bang Avid khusus pulang dari Jakarta untuk memperbincangkan hal ini kepadaku sampai larut malam di rumah dinasku selaku Sekda Bireuen di Pulo Kiton, Bireuen. Banyak informasi saling tukar antara aku dengan Bang Avid, tapi kami sepakat bahwa saat ini merupakan masa sulit bagi kita untuk memenangkan Pilkada. Apalagi aku mengusung isu anti korupsi dan kebersamaan dalam berkreativitas yang dirasakan kurang populer saat ini. Tapi ada cerita lain yang Bang Avid sendiri sepakat denganku, yakni pembelajaran publik melalui proses pemilukada dengan dana minim serta ide memberi apresiasi kepada para pendukung. Bang Avid juga banyak mendengar tentang pasangan Husra (Husaini-Razuardi) merupakan pasangan “nujoh ureueng gasien,” kata Bang Avid seraya tertawa. Akupun menyela, “kan boleh bang ureueng gasien kalon piasan ureueng kaya”. Entah karena jawaban konyol seperti itu Bang Avid tetap saja membantu kampanye lewat facebook.
Orang-orang banyak berharap Bang Avid bisa eksis di Bireuen musim pilkada 2012 ini, namun banyak pula yang ingin mendapat dukungan dari Bang Avid untuk memenangkan election musim ini. Dia menceritakan itu padaku, hingga suatu malam di bulan Desember 2011 dia mendesakku untuk menjawab pertanyaannya tentang aku maju pilkada tanpa minta dukungan apapun darinya, khususnya moril. Meskipun kami sudah pernah membahas hal ini jauh sebelumnya, Bang Avid tetap saja penasaran tentang isu beredar yakni, kolaborasi aku dan Husaini. Aku hanya menjawab dengan datar, bahwa pilkada ini adalah hal biasa bukan hal luar biasa yang ekslusif. Dia maklum dan bercerita masa depan Bireuen yang pernah dicita-citakan para tokoh saat Bireuen hanya sebuah perwakilan kabupaten, yakni Bireuen yang memiliki sosok handal pro rakyat.
Bang Avid memang sering mondar-mandir Jakarta-Bireuen sejak akhir 2011 untuk suatu kegiatan eksplorasi pasir besi di Mon Klayu, pantai Gandapura. Setiap kali pertemuan, kami hampir tidak pernah membahas urusan politik karena kami memang tidak menyukai topik ini. Cerita dominan hanyalah kisah konyol kawan-kawan beberapa tahun silam yang kami nikmati untuk terbahak bersama. Kulihat jalan pikiran Bang Avid saat itu khawatir terhadap masa depan karierku selaku pejabat struktural tertinggi di Bireuen. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk membahas bahwa kecenderungan sistem telah berkembang mindset politis. Bang Avid kurang paham yang kumaksud dan bernafsu melanjutkan cerita. “Indikasinya mudah bang, orang-orang yang datang ke saya sering bercerita lain di hadapan orang lain, ya sesuai kepentingan,” jelasku singkat. Bang Avid mengakui kondisi ini dan dialaminya sejak beberapa bulan di Bireuen.
Hari pemilihan, 25 Juni 2012, Bang Avid bersamaku di mess Ganesa di Komes Bireuen, sarapan pagi sambil cerita-cerita konsep masa depan. Bang Avid dan aku meyakini aku akan kalah dalam pemilihan ini karena persaingan kuat di lapangan hanya pada pada pasangan calon yang mampu menampilkan kegiatan rutin dan sibuk. Bang Avid juga mengakui bahwa aku sebagai pasangan miskin tidak popular untuk masa sekarang. Tapi dia puas melihat aku bercanda dengan rekan-rekan di mess pagi itu sambil berucap, “kalau seluruh masyarakat liat Pak Raju sekarang pasti pilih pak Raju,” katanya. “Kenapa ?,” tanyaku merasa aneh. “Iya saya liat Pak Raju nggak penasaran dengan TPS dan Cuma sibuk menghitung honor saksi TPS,” katanya bercanda. Memang pagi itu aku hanya sibuk menelpon Mukhlis Rama untuk menanyakan kesiapan pembagian dana panjar bagi masyarakat yang bertugas sebagai saksi di seluruh TPS, tempat pemungutan suara. Aku khawatir kalau-kalau ada petugas timses kami yang tidak mengambil dana untuk makan siang akan menimbulkan masalah baru.  
Sejak awal memang dapat dipastikan bahwa pasangan yang unggul adalah pasangan yang mampu membangun pencitraan lewat berbagai fasilitas karena urusan naluriah lebih dominan dari sekadar mengusung konsep nuraniah dalam perpolitikan saat ini. Sore hari pemilihan aku dan Bang Avid mendengar cerita beberapa rekan bahwa di TPS tertentu terjadi pertengkaran. Namun aku dan Bang Avid tetap saja mengakui bahwa bekerja untuk suatu konsep nuraniah akan memberikan kepuasan tersendiri. Konsep ini mampu mengkomodir berbagai kepentingan dan hak masing-masing elemen masyarakat di Bireuen.
Beberapa malam setelah pilkada dan KIP menetapkan pemenang, beberapa orang-orang lama di Bireuen datang ke mess di antaranya, Keuchik Min, Raja Tomok, Alim Muvid, Samsul Juli, Mukhlis Rama, Yanfitri, dan beberapa lagi yang tidak kuingat bercerita tentang kondisi Bireuen. Bahasan ini sebenarnya tidak menarik bagiku karena berkutat seputar naluriah belaka, yakni proyek dan rekaan pejabat structural pemerintahan yang akan diposisikan di lingkup secretariat Pemkab Bireuen. Di sela-sela bahasan, Keuchik Min berteriak keras, “tahun 2017 kita maju berdua Pak Raju ya,” katanya. Sekejab aku membantah, “tidak Keuchik, tugas kita mempersiapkan sosok muda Bireuen di masa itu,” kataku dan disamput positif oleh Keuchik Min dan lainnya.  
Keesokan harinya Bang Avid tiba dari Jakarta, aku ceritakan konsep penyiapan kader masa depan Bireuen untuk 2017. Ianya senang mendengar cerita itu sembari melengkapi apa yang aku ceritakan. Aku menjelaskan ke Bang Avid bahwa perlu mempersiapkan kader di tiga lini untuk Bireuen 2017, yakni kader aparatur, politik, dan dunia usaha. Persiapan mendasar dari konsep ini adalah mempersiapkan mental dan moral dari kader-kader yang dipersiapkan. “Tidak perlu banyak,” kata Bang Avid. “Iya biar seleksi alam yang menentukan,”sambutku.
Dalam analisa ringan yang kami bahas subuh itu, cukup lima puluh orang saja orang-orang muda Bireuen berusia 30-an saat ini. Sepuluh orang aparatur diarahkan kompetensinya untuk menjadi pemimpin daerah, sementara sisanya dipasarkan untuk menduduki lembaga legislative. Moral dan mental mereka diarahkan kepada pengelolaan daerah dengan professional. Di samping itu, tingkat kepedulian daerah ditanamkan sebesar mungkin. “Kita berharap adanya suatu pemandangan saling mengakui keunggulan masing-masing orang dari system kader untuk menentukan sosok yang cocok mengelola daerah,” kataku menjelaskan. Bang Avid cukup respon tentang hal yang kusampaikan .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar