Jumat, 02 November 2012

SUADI SANG KEPALA

H Suadi BIE
H Suadi, BIE, 1989.

Aku meyakini, bahwa aku mampu mengambil keputusan dalam kebijakan proyek tidak terlepas dari kontribusi H Suadi, BIE, selaku kepala dinas tempat aku berbakti sebagai tenaga honorer. Sosoknya berwibawa, penuh percaya diri. Banyak kepercayaan dalam bidang teknis sipil di Dinas PU Aceh Utara yang didelegasikan kepadaku. Ujian pertama saat aku sebagai tenaga honorer (Pebruari 1989), yakni mengukur, menggambar, dan menghitung rencana anggaran biaya untuk jembatan kecil di lintasan jalan Mobil Oil, Point A, Aceh Utara. Waktu yang diberikan relatif singkat, yakni 2 hari. Saat pertemuaan dengan petinggi perusahaan asing itu, untuk mendiskusikan hasil kerjaku, Pak Suadi mengangguk-angguk meyakinkan. “Bagus anak muda,” katanya memberi semangat, selepas para petinggi itu pulang. Sejak itu, aku mendapatkan kepercayaan penuh dalam hal pemeriksaan hasil perencanaan  konsultan.

Suatu hal yang membesarkan hatiku saat itu, manakala Republik Indonesia marak dengan bantuan negara Eropa, seperti dari IGGI, sejenis bantuan untuk prasarana perkotaan, aku ditunjuk sebagai counterpart mewakili pemerintah daerah. Bergabung dengan tim kerja asal Eropa suatu hal baru bagiku, meskipun aku diwawancarai oleh para engineer yang lebih dulu direkrut. Konsultan Eropa yang menjadi representatif bantuan tersebut, yakni DHV consultant, yang waktu itu dipimpin oleh Mr Deeble dari Belanda. Klasisifikasi proyek yang ditangani kala itu berbasis sanitasi, termasuk drainase perkotaan. Nama proyek tersebut Small Town Sanitation Project (STS).

Mr Deeble, 1989

Hari pertama aku bergabung dengan mereka, tanggalnya aku lupa namun tahunnya aku ingat 1989, tiga bule ditambah satu orang Indonesia, Ir Dang Uro Winara, mengelilingiku menanyai banyak hal  seputar kemampuan teknis. Mereka merasa asing tentang nama universitas tempat aku kuliah, Syiah Kuala, seperti tertera dalam curriculum vitae-ku. Aku merasa dikecilkan oleh mereka waktu itu, hingga akhirnya mereka menyerahkan satu peta Kota Bireuen yang harus aku tentukan batas wilayah tangkapan air serta titik aliran terjauh, untuk desain drainase kota. “Tomorrow morning you explain it to me,” kata Pak Deeble mengakhiri uji kelayakan staf. “Thank you,” kataku meninggalkan mereka. Tanpa pikir panjang aku menemui rita untuk meminta beberapa warna stabillo boss, sebagsa kelir pewarna cair yang tersedia di kantor itu. Hingga sore aku menyelesaikan tugas itu. Keesokan harinya, pagi jam 07.00 WIB, aku menemui Pak Deeble yang juga ahli pengairan untuk memperlihatkan hasil kerjaku. “Wow, nice,” katanya, saat melihat peta kubentangkan di meja meeting di ruang kerjanya. Lantas dia memanggil Pak Dang Uro untuk sama berdiskusi tentang hasil kerjaku, peta daerah tangkapan air yang aku tampilkan beraneka warna.  

Berita hasil kerjaku itu diberitakan mereka ke Pak Suadi, bahwa aku dapat mendampingi mereka untuk perencanaan. Akupun diberi fasilitas sepeda motor oleh Pak Suadi, untuk kelancaran kerja.  Pada tahun 1990, aku dipecayakan untuk merencanakan waduk pengumpul air hujan (lebih populer disebut tando III) di Kelurahan Simpang 4, Lhokseumawe, penyelesaian engineering design-nya oleh rekan-ku dari PIM, Ir Syafrizal. Kepala dinas yang ahli pengairan ini juga banyak mengajarkanku tentang filosofi administrasi proyek, bagaimana berbagi dengan bawahan, bertindak dalam proyek, dan lainnya. Semoga pembelajaran yang dilakukan Pak Suadi untuk penciptaan mindset-ku menjadi amalan baginya. 

Razuardi Ibrahim bersama tim kerja STS Project, 1989

Tidak ada komentar:

Posting Komentar