Sabtu, 03 November 2012

POLITIK PEMUPUSAN CITRA

Razuardi Ibrahim dan Bupati Nurdin meninjau asset, 2011
Politik Pemupusan Citra
Sepengetahuanku, politik merupakan alat untuk mencapai tujuan tertentu. Aku hanya berpegang sebagaimana diajarkan waktu di SMA dan di fakultas dulu, dalam mata pelajaran kewiraan. Namun demikian pada tahun 1995 di saat aku sukses memulai membangun jembatan Teupin Gapeuh, Aceh Utara, para seniorku sering berpesan untuk menjadi pejabat kita harus memiliki kemampuan politik di samping kemampuan teknis yang kita dapatkan di bangku kuliah. Aku tidak suka dengan ungkapan seperti itu karena lebih memusingkan kepalaku dari pada kenyamanan bekerja. Pernyataan para seniorku mungkin ada benarnya, karena mereka sering memperebutkan posisi ketua organisasi di tingkat kabupaten untuk memperkuat posisi jabatannya di struktur pemerintahan. Begitupun, aku tetap tidak tertarik dengan hal serupa itu. Tapi ada pesan lain dari para senior-senior tersebut bahwa setidak-sukanya kita dengan pemikiran politik, tetap saja nilai politik membelenggu para pejabat publik. Waktu itu aku mulai menterjemahkan bahasa para senior itu ke dalam suatu persaingan kepentingan. Dengan ungkapan dalam hati bahwa jika kehadiran kita mengusik kepentingan orang lain maka respon pihak tersaingi akan memperburuk pencitraan terhadap kita.   
Aku mengalami pemupusan citra atau sering orang bilang, pembusukan, di Bireuen sejak aku akrab mendampingi Bupati Nurdin Abdul Rahman, 2009. Sebelumnya Pak Nurdin, panggilan aku kepada beliau, bertindak sendiri tanpa teman yang mendampingi. Kami sering duduk hingga pukul 02.00 WIB saban malam jika beliau berada di Bireuen. Banyak hal yang dikeluhkan padaku khususnya tentang administrasi, asset daerah, kompetensi orang-orang baik di lingkup aparatur maupun di luar, dan lain sebagainya. Aku sering menggiring pemikiran positif dalam menyikapi berbagai hal yang dirasakan sulit oleh Pak Nurdin, dengan tujuan agar Pak Nurdin tidak terjebak dalam persoalan di kemudian hari. Sebagai contoh, manakala investor kebun sawit dari Malaysia datang membuat kontrak kerja sama dengan Pemkab Bireuen aku menyarankan agar perusahaan itu tidak langsung bekerjasama dengan Bupati Bireuen. Karena jika terjadi hambatan yang tertera dalam pasal demi pasal dalam kontrak tersebut, Pak Nurdin akan terbawa-bawa. Aku menyarankan agar perjanjian kerjasama ini dilakukan antara investor dengan perusahaan daerah saja.
Hari demi hari, aku sering ke lapangan bersama Pak Nurdin sehingga isu berkembang, bahwa aku dan Pak Nurdin merupakan kesatuan yang sulit terpisahkan. Waktu itu aku masih menjabat sebagai Kepala Bappeda Bireuen yang dapat mengakses langsung ke Pak Nurdin setiap waktu. Tetapi yang aku rasakan bukanlah karena jabatan itu aku akrab dengan beliau, lebih jauh dari itu Pak Nurdin sering mengajakku berdiskusi tentang banyak hal seputar buku baru dan persiapan beliau dalam berbagai presentasi di tingkat propinsi, nasional, bahkan internasional. Hal ini tentu tidak menutup kemungkinan tentang adanya pihak-pihak  merespon negatif terhadap kedekatanku dengan beliau.  Tidak jarang PakNurdin menceritakan SMS yang dikirim beberapa orang ke HP-nya tentang moral dan kinerjaku dan selalu diceritakannya kepadaku, namun tidak aku tanggapi. Adalah kebiasanku mengacuhkan berita menyesatkan serupa itu seperti masa-masa sebelumnya karena dalam pikiranku cara pembusukan dengan cara menyembunyikan identitas akan menjebak kita dalam situasi yang tidak elegan. Sering aku mengalihkan pembicaraan kepada konsep-konsep konstruktif yang lebih menantang untuk masa depan bersama. Di antaranya menggerakkan potensi etos kerja masyarakat Bireuen yang dapat diandalkan melalui program instant.
Suatu hari, aku di-SMS Pak Nurdin dengan suatu pertanyaan yakni, “apakah yang saya lakukan tidak ada lagi yang baik di Bireuen ?,” tanyanya. Pak Nurdin menjelaskan bahwa dalam tiga kali pertemuan dengan para jurnalis Bireuen hanya beberapa informasi saja yang positif, selebihnya berita yang diekspose beberapa media dari pertemuan tersebut selalu memojokkan kinerja beliau. Beberapa saat aku datang ke Meuligoe untuk membesarkan perasan beliau dengan memberikan beberapa solusi.  Aku menyarankan agar pemerintah daerah mampu mengimbangi pemberitaan di masyarakat dengan menerbitkan surat kabar atau apapun namanya.  Beliau menyatakan setuju serta memerintahkanku untuk menyusun kerangka acuan kerja.
Pebruari 2009 edisi perdana tabloid Narit terbit yang didistribusi ke seluruh desa, Muspida, satuan kerja, dan lain sebagainya. Pemberitaan tabloid ini tentunya subjektif dengan membangun citra positif kepada Pemkab Bireuen. Kondisi pembusukan terhadapku semakin keras di segala lini, di kedai dan warung, di lingkup aparatur, dan lain sebagainya. Actor gerakan pembusukan itu kukenal baik di lingkup aparatur maupun di lingkup jurnalis. Aku menyadari posisiku selaku bamper pak Nurdin cukup membutuhkan pertahanan diri dari aspek moral dan mental. Dalam pikiranku, orang tertentu boleh tidak menyenangi bahkan menurunkan citra Pak Nurdin di mata masyarakat dengan mengusung issue kabupaten yang terpuruk akibat jalan di tempat, tetapi tidaklah etis jika kelompok itu mengekspose Bireuen yang buruk di mata masyarakat lain di luar Bireuen.
Kelompok pelaku pemupusan citra semakin eksis dan meluas di lapisan masyarakat dengan mengusung isu kegagalanku di Kawasan Industry Bireuen, di Cot Batee Geulungku. Sebagian orang datang padaku menanyakan tentang besaran uang yang kuperoleh dari rencana pembangunan kawasan itu. Aku menyuruh mereka memeriksa di bagian keuangan Setdakab saja. Aku berharap agar informasi yang mereka peroleh tentang aku tidak mendapatkan uang dari rencana itu, dapat mewarnai pemikiran mereka tentang konsep kelompok tertentu untuk suatu rencana pembusukan. Tidak cukup di situ, mereka mencoba membangun issue baru tentang sosokku yang bekerja sebatas cerita tanpa aksi. Isu serupa ini cukup menantang bagiku namun menguras energi lumayan besar. Aku menyikapinya juga dengan diam, namun membangun pembuktian lewat kerja besar dengan ide bangkitan kawasan, yakni kawasan industry peternakan terpadu di Gandapura.
Sering aku ke Gandapura dalam rangka duduk ngobrol dengan masyarakat di sana, di sekolah mukim yang difasilitasi sebuah LSM. Aku juga banyak bercerita tentang Gandapura sebagai gerbang timur ekonomi Bireuen yang harus bangkit. Semangatku melambung tatakala PT Syaukath Sejahtera positif membangun pabrik kelapa sawit di kecamatan itu. Malam hari selepas tugas di Bireuen, aku mengunjungi Gandapura ditemani Pak Ismail Adam untuk bahas tentang kesiapan masyarakat dalam menyambut kehadiran pabrik besar tersebut. Pertengahan 2010, masih banyak hal yang harus disiapkan, mulai dari Amdal hingga implementasi lapangan. Pada pertengahan 2011, areal beserta PKS mulai berwujud dan aku dimintakan ekspose di Koran Serambi Indonesia. Sebagian masyarakat mulai menanyakan hal itu kepadaku, khususnya tentang kapan kawasan itu direncanakan. Aku puas atas pertanyaan mereka seraya menjelaskan bahwa membangun tidak mesti dengan kekuatan financial pemerintah saja, boleh dari donatur mana saja seraya aku jelaskan juga bahwa tugas pemerintah lebih kepada memfasilitasi dan meregulasi hasrat dunia usaha. Terlebih lagi kepuasanku memuncak, tatkala salah seorang di antara mereka mengakui telah silap menilaiku akibat isu yang dikembangkan jurnalis tertentu.
Kurang lebih satu tahun aku membantu percepatan kawasan Gandapura tersebut, sejak pembebasan lahan yang dilakukan camat setempat. Beberapa malam aku mengajak Pak Nurdin untuk mengunjungi Gandapura guna memberi penjelasan kepada tokoh masyarakat di sana. Gairah melawan isu semakin memuncak, seakan tiada lelah karena titik terang terhadap bangkitan kawasan semakin menjelma. Saban hari aku bersama rekan kerja di Bappeda menyiapkan peta-peta yang dibutuhkan untuk penjelasan kepada masyarakat. Aku mendapat rekan kerja baru yang handal dari pihak PT Syaukath Sejahtera, yakni Pak Heri dan Pak Hanafi yang selalu memberi aku semangat yang luar biasa.
Jelang peresmian, saat pabrik masih uji coba, aku s udah menjabat sebagai Sekdakab Bireuen, aku bersama Bupati Nurdin, Dandim Bireuen, Letkol Inf M Arfah, Kapolres Bireuen, AKBP Yuri K, Danyonif 113 JS, Mayor Triadi M, dan beberapa rekan lain mengunjungi pabrik. Aku puas sekali manakala Apa Yan dan petugas lapangan PT Syaukath Sejahtera datang menyapa ramah kepadaku. Keesokan harinya, aku menceritakan perjalanan ini kepada beberapa pejabat Pemkab Bireuen dan beberapa jurnalis. Umumnya mereka bertanya, “ada apa di Gandapura itu ?”. Aku bilang, “PT Arun sudah pindah ke tempat itu “.  Mereka tidak paham maksudku, namun aku melihat rona beberapa wajah di antara mereka yang menyiratkan menerima sebuah kegagalan pemupusan citra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar