Senin, 19 Agustus 2013

CAKAP TAK SERUPA BIKEN


Cakap Tak Serupa Biken


Sekarang ini sering orang memperebutkan opini tentang pencitraan diri. Tentu dalam berbagai hal yang mungkin dijadikan sarana dalam pencitraan. Termudah dalam hal ini yakni uang yang cukup untuk membeli ragam alat pencitraan itu. Sebagian orang di tingkat warung kopi mengakui bahwa perdagangan citra sosok berkembang pesat sejak reformasi menggelinding. Namun belum ada pembuktian akademis tentang hal itu. Sebelumnya, pencitraan sosok sangat ditentukan oleh kompetensi zaman, seperti keaktifan dalam mengelola masyarakat, membangun kepercayaan publik dalam sistem daerah atau nasional, menggalang kekuatan politis dari pengambil kebijakan dan lain sebagainya. Perolehan citra serupa ini masih dapat terkalahkan oleh pengakuan ketokohan yang terbangun secara otomatis dalam tradisi masyarakat tertentu dan sulit terbantahkan karena sarat solusi persoalan masyarakat tanpa pamrih. Dalam pencermatan sederhana  perbedaan kedua kondisi ini cukup mendasar, yakni komitmen. Pendapat sebagian orang, pencitraan yang diperoleh melalui eksploitasi kompetensi zaman masih diragukan dalam hal komitmen ini karena sarat kepentingan dan pragmatis. Tidak jarang sebagian masyarakat berkomentar, bahwa sosok tertentu berubah tatkala tujuannya tercapai yang biasa diartikan dalam bahasa lain, melanggar komitmen. Terakhir aku dengar dari kawan-kawan di Tamiang, sosok seperti itu sebagai manusia cakap tak serupa biken.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar