Minggu, 04 Agustus 2013

MESJID KARYA RACHMAT

tulisan ini sudah pernah aku tayangkan di media online

Mesjid Kota Lhokseumawe, Karya Rachmatsyah Nusfi

Goresan Landmark Antar Zaman

Jarang orang bertanya tentang para pencipta dari suatu objek ternikmati baik dalam bentuk elemen estetika maupun dalam bentuk karya seni lainnya. Intervensi mainset terhadap perilaku manusia seperti ini kerap memupuskan apresiasi bagi para pencipta. Tidak jarang pula, para plagiator mengklaim karya tertentu merupakan hasil pemikirannya. Begitupun, sistem informatika masih diam tanpa bantah untuk mengungkap perjalanan kreativitas para pendahulu, khususnya di Aceh.

Banyak karya penyair, pelukis, komponis, penulis, dan pengukir Aceh yang luar biasa pada zamannya terlupakan begitu saja. Kiranya perlu dilakukan upaya menggerakkan sistem agar selalu memberi pengakuan terhadap sosok pencipta melalui berbagai cara.  Keberadaan para penulis, setidak-tidaknya dapat memberi kontribusi terhadap gejala kontraproduktif serupa itu.

Tak mudah terbantahkan, Aceh hari ini memiliki dua pengenal kawasan (landmark) Islami produk dua sosok dari abad berbeda. Sosok pertama, de Bruin, arsitek Belanda pendesain Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, berhasil memperkenalkan kubah di akhir abad ke-19 ke masyarakat Aceh, setelah Gubernur Swart memerintahkannya untuk membangun kembali masjid tradisional yang dibakar.

Sosok kedua, Rachmatsyah Nusfi, pedesain Masjid Islamic Centre Lhokseumawe, hadir dengan goresan mengagumkan di awal abad ke-21. Kedua mesjid tersebut telah mampu membangun citra kawasan di dua kota berjauhan dengan dua langgam (style) yang berbeda pula.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang dapat disaksikan hari ini telah mengalami perluasan beberapa kali dengan alasan peningkatan kapasitas, namun tidak menghilangkan ciri asal produk goresan arsitek Eropa tersebut. Langgam yang ditampilkan pada masjid kebanggaan rakyat Aceh itu merupakan keberhasilan kolaborasi tiga karya besar arsitektur dunia yakni, Eropa, Cina, dan India (Gujarat).   Tersirat, masjid yang berdaya tampung 7.000 jamaah saat sekarang, menyampaikan pesan tersendiri lewat sosoknya. Keharusan masjid mengadopsi kubah India menggejala ke seluruh pelosok negeri, meski bukan akibat tekanan dari suatu aturan.

Di sisi lain, para seniman berkesimpulan bahwa pesan lain yang disampaikan masjid agung tersebut yakni perjalanan masuknya Islam ke Serambi Mekah. Dalam keadaan diam sosok tempat ibadah itu memperkuat ilustrasi bahwa Islam masuk ke bumi Iskandar Muda melalui India yang sering disebut sebagian orang dengan teori Gujarat.

Tidak jauh berbeda dengan Rachmatsyah Nusfi, tatkala diminta untuk mendesain sebuah masjid agung berkapasitas 10.000 jamaah di Kota Lhokseumawe, pesisir utara Aceh. Pelukis otodidak yang telah banyak memberi kontribusi terhadap bangunan besar di Aceh itu segera membentuk kelompok kerja dari berbagai komunitas. Tanpa mengabaikan teori Gujarat, Rachmatsyah berkeyakinan bahwa besar kemungkinan Islam tersebar ke Aceh melalui Persia. Namun banyak kendala yang mesti diselesaikannya, salah satunya menghadirkan kubah yang mampu bercerita kepada zaman tentang perjalanan Islam ke Aceh.

Dalam pencarian bentuk kubah yang mengakomodir perjalanan sejarah masuknya Islam ke Kerajaan Pasai, Rachmatsyah  melakukan telaahan  dan survei ke beberapa situs sejarah di bekas kerajaan Islam tersebut. Meskipun bekas daerah kerajaan ini tidak meninggalkan masjid yang dapat dijadikan acuan,  namun peninggalan hikayat, sejarah, dan benda-benda sejarah lainnya dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi upaya rancang-bangun sebuah masjid agung di Kota Lhokseumawe.

Berbekal keahliannya sebagai seorang civil engineer berkolaborasi dengan bakat alami sebagai pelukis, Rachmat dengan mudah mengekspresikan hasil perjalanan pencarian bentuk kubah yang semula tidak diperhitungkan sebagai sebuah produk mahakarya. Diyakininya bahwa ketangguhan desain masjid akan  ditentukan oleh kegagahan mahkotanya yaitu kubah.


Menurut Rachmat, lengkung kubah ini mengakomodir bentuk kubah yang lazim digunakan masyarakat Persia. Sementara, pada bidang permukaan kubah tidak dibiarkan kosong masif tanpa tekstur penghias. Motif pengisi tekstur permukaan kubah diakomodir dari ragam hias yang berkembang di Aceh, khususnya peninggalan Kerajaan Pasai. Bahagian bawah kubah dihiasi motif bunga yang terhubung tegak antara satu dengan lainnya. Ide pembuatan motif pada bagian bawah kubah ini diilhami oleh pintalan taplak meja yang biasa digunakan masyarakat Aceh untuk menghiasi meja tamu. 

Pada puncak kubah, Rachmat melengkapi dengan penangkal petir yang dibentuk serupa boh ru, perlengkapan raja-raja atau hulubalang Aceh terdahulu yang diikatkan dengan sutera kuning bersama kunci peti kerajaan yang diselempangkan di pundak. Akan tetapi boh ru pada mesjid ini diberi motif bunga-bungaan yang banyak dijumpai pada benda-benda kuno peninggalan masa Kerajaan Aceh.

Jumlah kubah pada masjid tersebut yakni sembilan buah. Meskipun berbentuk sama, kubah-kubah tersebut terdiri dari tiga tipe ukuran. Tipe pertama, yakni kubah utama dengan posisi tepat di tengah bangunan, berukuran paling besar sebanyak satu unit dengan diameter 19,5  dan tinggi 21,68 meter. Tipe kedua berdiameter 12,17 setinggi 13,9 meter, sebanyak empat buah. Sementara tipe ketiga berdiameter 8,64 dengan tinggi 8 meter sejumlah empat buah.

Kubah-kubah ini terbuat dari glassfibre reinforcement cement (GRC) yaitu suatu produk material konstruksi dari campuran, semen, pasir halus,  serat fiber, dan bahan  perekat.

Saat ini model kubah karya Rachmatsayah telah menghiasi banyak masjid lain di Bireuen, Aceh Utara, bahkan di Banda Aceh. Konsep lengkung Persia berkolaborasi dengan motif Aceh dan pintalan taplak meja, menjadikan sosok kubah temuannya itu mampu menyaingi tampilan kubah produk de-Bruin. Artinya bentuk kubah yang mencirikan Aceh Style ciptaan arsitek lokal mampu menyusup di hati masyarakat.

Suatu hal telah terjadi dalam aspek sosial, jika hendak dicermati lebih jauh. Protes Rachmatsyah terhadap teori Gujarat yang diekspresikan de-Bruin lewat kubah hitam Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, telah direalisasikannya. Begitulah protes melalui karya para seniman, tanpa demo dan saling hujat.

Razuardi Ibrahim



Tidak ada komentar:

Posting Komentar