Minggu, 04 Agustus 2013

TEKNISI JUFRIZAL

Di bulan Juni 2013, aku bertemu Jufrizalsyah di airport Sukano-Hatta, sama-sama hendak pulang ke Banda Aceh. Kawan-kawan di Fakultas Teknik mempopulerkannya dengan nama Wak Jub. Ia mahasiswa teknik mesin angkatan 1978, yang aku kenal sejak 1981 ketika Wak Jub sibuk memperbaiki sesuatu di Radio Kampus. Aku memperhatikan ianya bekerja serius di lantai dua bagian belakang gelanggang mahasiswa Prof A Majid Ibrahim, Darussalam, Banda Aceh. Sejak saat itu aku menyimpulkan, bahwa Wak Jub merupakan salah seorang mahasiswa teknik yang cukup berbakat di bidangnya.
Jufrizalsyah, 2013
(sumber foto: facebook) 
Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, terhitung sejak ianya meninggalkan kampus, sekira tahun 1986. Ketika kami bertemu, pertanyaan kedua dari Wak Jub kepadaku yakni tentang keberadaan Rachmat karena menurutnya mereka pernah sama-sama merencanakan sistem jaringan listrik di Aceh Tenggara. Setelah kujawab, kami banyak bercerita tentang pengalaman masing-masing di ruang tunggu bandara ibukota itu. Suatu hal yang cukup menarik manakala Wak Jub menceritakan tentang sistem manajemen kontrol PDAM Banda Aceh yang diciptakannya. Cerita Wak Jub menjadikan pikiranku tentang apa yang kusimpulkan puluhan tahun silam. Selanjutnya, ia juga menyatakan bahwa jika ada aliran air yang konstan di Tamiang, ia dapat merakit generator tenaga air di tempat itu. "Bengkel-bengkel di sana pun bisa kita ajarkan untuk membuat generator mini itu," katanya meyakinkan. Aku percaya dan melihatnya dalam-dalam sambil menerawang ke masa di kampus dulu. Sekarang Wak Jub bekerja di PDAM Banda Aceh, sebagai salah satu direktur. Kesimpulanku kali ini berbeda dengan puluhan tahun silam dan kukaitkan dengan apresiasi yang semestinya dia terima. Sudah saatnya, Fakultas Teknik memberi pengakuan terhadap Wak Jub sebagai salah seorang lulusan berpotensi untuk suatu penguatan pengakuan bahwa lulusan FT Unsyiah mampu mengembangkan diri di lapangan kerja.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar