Minggu, 25 Agustus 2013

MOTIF SEURUWAY DAN BIREUEN

Motif Seuruway Dan Bireuen

Pada Minggu, 25 Agustus 2013, aku mengunjungi Istana Seuruway di Aceh Tamiang. Bangunan tempat kediaman bangsawan di masa lalu itu masih terlihat kokoh berdiri. Meskipun pada bagian tertentu telah rusak dimakan usia. Rumah panggung itu beratapkan genteng dan berdinding papan.  Ketika aku memasuki halaman, terlihat empat wanita paruh baya sudah menanti karena lebih dahulu dikabari camat setempat, Asra. Ke-empat wanita itu merupakan pewaris dari Kerajaan Seuruway,  yang memang pernah berjaya di masa sebelum kolonial menguasai nusantara. Mereka mempersilahkan aku dan beberapa rekan untuk duduk di lantai berlapis tikar yang disediakan,  dengan santun.
 
Motif ayu-ayu Seuruway, 25 Agustus 2013
Tidak berapa lama aku duduk bercerita, penghuni rumah mulai memasuki kamar untuk mengambil bahan kerajinan motif perlengkapan pelaminan masa lalu. Kain produk kerajinan itu dominan berwarna kuning. Meskipun rada lusuh, karya motif itu masih menyisakan nilai-nilai artistik. Umumnya, motif yang disulam bercorak tumbuh-tumbuhan yang berbeda dengan motif Aceh lainnya.
 
Motif ayu-ayu Menasah Meucap, 2008

Namun demikian, aku kaget juga ketika membolak-balikkan tumpukan kain bermotif, terlihat potongan kain yang biasa disebut di Aceh pesisir dengan ayu-ayu, mirip dengan motif di Meunasah Meucap Bireuen. Warna dominannya pun sama, yakni merah buah jemblang. Perbedaan ke-dua produk ini, Seuruway dan Meunasah Meucap, yakni bentuk ayu-ayu dan cara membuat sulaman. Produk sulaman Seuruway menggunakan benang yang dipatahkan mengisi pola motif, sedangkan produk Meunasah Meucap menggunakan sulaman benang berwarna dan diperkuat dengan ikatan  benang sulam bersilangan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar