Jumat, 04 April 2014

DUA DIALOG PARUH BAYA

Beda Dua Dialog Paruh Baya
 
Salah satu cafe di Jakarta
Di sebuah cafe teras di Jakarta, yang artistik dan terbuka, banyak orang-orang menikmati kopi. Tidak saja anak-anak muda, tetapi komunitas paruh baya bahkan pensiunan pun terlihat duduk santai sambil bercengkerama. Satu kelompok yang terindikasi paruh baya, terdiri dari dua lelaki dan enam perempuan memilih duduk di sebelah mejaku. Gerombolan yang terkesan polos bercerita seenaknya dan asal-asalan itu menyiratkan mereka merupakan kerabat dari generasi yang sama. Sebagian perempuan dari mereka menggunakan jilbab sehingga dapatlah disimpulkan mereka dari golongan muslim. Aku terkesima dengan dialog mereka yang “asal bunyi (asbun)” tetapi layak dicermati meskipun aku membelakangi.

“Kita dilarang oleh agama untuk tidak merusak lingkungan tau....,”  suara salah seorang perempuan di situ tiba-tiba.

“O, iyalah jelas karena dampaknya langsung,” beberapa perempuan lain ramai-ramai merespon.

“Memangnya kalau yang tidak merusak langsung tidak di larang ?,” komen beberapa perempuan saling berebutan dengan nada tinggi.

“Contohnya apa ?,” kata perempuan yang mulai membahas.

“Ya, banyak. Salah satunya minum tuak,” sahut yang lain.

“Lho, jelas ngerusak lah, nelap kok nggak ngerusak” kata yang lain sambil bersorak.

“O, iya, jadi orang berzina di mana rusaknya,” celoteh suara bariton, terindikasi laki-laki.

“Hooiii, laki-laki taunya itu saja,” serempak suara perempuan menyorak.

“Logis kan suka sama suka ?, mana pula ada yang dirusakkan. Malah saling membantu,” bantah suara bariton itu lagi.


Aku merenung seraya menyimpulkan kondisi, khawatir jika ada pihak-pihak tertentu menanyakan hal itu kepadaku. Pertanyaan dari dialog mereka aku simpulkan sederhana saja dengan kalimat, apa yang telah dirusakkan oleh suatu perzinaan”. Jika yang menanyakan dari kerabat sesama muslim, aku akan menjawab, “moral Islam”. Namun jika pertanyaan serupa datang dari kelompok yang melegalkan zina, tentu aku harus banyak memiliki referensi.  

Di sebelahku ada juga kelompok lain, yang membahas tentang hal tidak jauh berbeda. Mereka membahas tentang berita seorang ustad melakukan hubungan seksual dengan santriwati.

            “Tandanya, iman ustad itu tidak kuat,” celoteh seorang pria.

“Iya, semakin tinggi ilmu agama seseorang, semakin tinggi pula godaan terhadapnya,” sambung yang lain.


Aku menyimpulkan  dialog mereka, bahwa menurut kelompok yang satu ini nafsu birahi itu diberikan tuhan hanya sebagai alat ukur untuk menguji ketangguhan iman manusia. Lebih jauh, aku menyimpulkan banyak dialog-dialog awam serupa ini di kalangan masyarakat yang membutuhkan jawaban, bahkan solusi. Ada hal menarik dalam tradisi berkembang dalam masyarakat, manakala dialog-dialog serupa itu didengar khalayak, kelompok itu dianggap telah melakukan kejahatan sehingga tiada terungkap persoalan-persoalan awam serupa itu. Begitulah adanya. Jakarta, 26 Maret 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar