Minggu, 06 April 2014

TRADISI PANTUN TAMIANG

Tradisi Pantun Tamiang

Setelah mendiami Aceh Tamiang beberapa bulan, aku merasakan terdapat hal yang cukup menarik untuk diungkap. Tidak berbeda dengan pekerja seni lainnya, ketertarikan yang dirasakan adalah menyaksikan masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi Melayu dalam event tertentu. Budaya Tamiang relatif sama dengan budaya Melayu pada umumnya, khusunya budaya Melayu Deli, Serdang, dan Kepulauan Riau. Menurut sejarah, Tamiang merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang berada dalam wilayah  Aceh Darussalam. Banyak tradisi seni di daerah ini yang mirip dengan kesenian yang ada di Deli serta kawasan budaya Melayu lainnya. Salah satunya tarian Zapin yang ada di Riau, Deli, dan di Semenanjung Malaka. Dengan demikian, Zapin Melayu yang ada di Tamiang sudah menjadi bahagian dari kekayaan khasanah budaya Aceh yang lazim ditampilkan dalam setiap pertunjukan.
Razuardi Ibrahim, 06.04.14
Kualasimpang
Persamaan antara seni budaya Aceh pesisir timur, barat dan utara dengan seni budaya Tamiang, yakni beresensi sarat dengan nilai-nilai religius bernafaskan Islam. Hal ini sejalan dengan penjelasan di banyak literatur, bahwa kebudayaan Melayu merupakan interpretasi kultur Islami di Asia Tenggara. Oleh karena itu, pakaian untuk tampilan seni budaya Tamiang lebih bernuansa Melayu yang Islami, didominasi warna kuning seperti pakaian Melayu pada umumnya.
Indikasi lain terhadap berkembangnya kultur Islam dalam budaya Tamiang dapat disaksikan pada seni bertutur. Seni yang digolongkan ke dalam sastra ini tentunya memaklumkan kepada semua tentang kepiawaian menyusun tatabahasa yang baik dan indah didengar. Perkembangan sastra yang digolongkan sebagai syair ini merambah hingga ke millenium ke-tiga sekarang dan mampu menyusup ke dalam pola pikir generasi sekarang, khusunya dalam karya seni pantun. Sebagai warisan tradisi Melayu, dalam menyambut tamu masyarakat Tamiang biasa melakukannya dengan berbalas pantun. Ketangkasan para pemantun ini cukup diminati untuk disaksikan, bahkan kerap menjadi event yang ditunggu. Biasanya pula, dalam seni tutur ini terungkap tingkat kecerdasan para pemantun karena pemantun dari pihak tamu dan pihak tuan rumah saling mengadu kecepatan mengolah kata untuk menjawab dialog yang terjadi seketika.
Mencermati animo generasi sekarang yang lazim mengungkap sesuatu dengan pantun, meskipun melalui peralatan teknologi mutakhir, tentunya pemikiran dapat diarahkan untuk mengemas upaya mempertahankan tradisi leluhur yang sudah teruji ini. Kehandalan pantun dari pemupusan perjalanan akibat kecanggihan budaya moderen dapat dijadikan tolok ukur terhadap kekuatan nilai seni dalam mengarungi zaman. Karang Baru, o6.o4.14



Tidak ada komentar:

Posting Komentar