Jumat, 04 April 2014

MANAJEMEN KONFLIK LINGKUP APARATUR

Manajemen Konflik Lingkup Aparatur

Manajemen serupa ini berpeluang terjadi di berbagai organisasi. Istilah ini biasa kudengar pada kawan-kawan yang eksis di organisasi politik. Namun demikian, aku juga pernah merasakan manajemen serupa ini pada tempat aku bekerja dulu, di penghujung tahun 1990-an. Indikasi yang aku rasakan ialah ketidak-nyamanan suasana kantor, akibat peningkatan kecurigaan sesama kepala seksi, level kedua setelah pimpinan. Pada mulanya, aku tidak mahfum terhadap kondisi yang semakin jauh dari senda gurau sebagaimana hari-hari kemarin. Suatu kali aku dipanggil pimpinan untuk suatu tugas terkait kerja seksi yang aku pimpin. Atasanku itu memberi tugas yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Di sela-sela perintahnya, dia menceritakan tentang ketidak-mampuan beberapa kepala seksi lainnya. Tentu aku mengilas kembali kondisi hubungan sesama kepala seksi yang mulai tidak harmonis ini. 
Razuardi Ibrahim, 2007

Suatu kali beberapa kawan mulai heboh membahas kondisi sesama yang  mulai memanas. Sebagaimana biasa, aku tidak terlalu peduli dengan bahasan kontra produktif seperti itu, selain mencari informasi tentang kualitas sosok pimpinan dari aspek teknis sebagaimana tugas pokok dan fungsi dari institusi kami. Banyak kelemahan akademis darinya yang dikhawatirkan akan mengancam jabatannya. Beberapa minggu kemudian, setelah beberapa kawan menyampaikan pembicaraan pimpinan dengannya tentang black campaign terhadapku, mahfumlah aku tentang suasana kantor yang terjadi. Aku simpulkan, bahwa atasan itu sedang melakukan kompensasi diri untuk menutupi berbagai kelemahannya melalui penciptaan konflik internal. Dalam institusi teknis yang melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat, manajemen serupa ini sangat mempengaruhi kinerja. Meskipun demikian, setidak-tidaknya pengalaman ini menjadi pembelajaran baru bagiku pribadi dan layak kuceritakan kepada generasi aparatur mendatang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar