Sabtu, 02 Maret 2013

SINOPSIS TUN SRI LANANG



Sinopsis Tun Sri Lanang
Tun Sri Lanang bernama asli Tun Muhammad bergelar Dato’ Bendahara Tun Muhammad dan Orang Kaya Seri Paduka Tun Seberang. Sebelum memimpin Negeri Samalanga 1615-1659 M, merupakan seorang Bendahara (Perdana Menteri) Kerajaan Pahang.
Kisah Tun Sri Lanang bergulir ketika negeri-negeri di dataran Malaka jatuh dalam jajahan Portugis sekitar 1511 M. Sejak saat itu, kekacauan melanda kawasan negeri melayu dan telah menyebabkan kebesaran kesultanan Islam Malaka hancur bercerai. Sehingga, banyak para petinggi kerajaan menyelamatkan diri ke sejumlah negeri Islam. Di antaranya, Pahang, Johor, Aru (Pulau Kampai), Perlak, Pattani dan Samudera Pasai.
Kondisi ini telah membuat Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah, gundah dengan keadaan buruk yang diderita oleh negeri-negeri Islam. Dia lantas memproklamirkan kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1512 M. Semula misinya untuk menyatukan negeri-negeri kecil seperti Tamiang, Aru, Passai dan Pedir. Karena dengan aliansi kerajaan Islam ini, akan menjadi kekuatan besar untuk berperang melawan  Portugis yang menjajah dataran Malaka dan Sumatera.
Waktu terus bergulir, akan tetapi perjuangan menyatukan negeri gagasan Sultan Aceh pertama kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, yakni Sultan Alaidin Riayatsyah Alqahhar, Sultan Alaidin Mansyursyah, Saidil Mukammil dan Iskandar Muda. Sejak berdiri hingga zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Acheh Darussalam berhasil menjalin hubungan luas. Selain memiliki persahabatan dengan negeri-negeri di nusantara, juga berhasil membuka hubungan bilateral ke timur tengah serta Asia Timur. Di antaranya Turki, Maroko, India dan Persia.

Selain itu juga termasuk negara non Islam dataran Eropa, sehingga Kerajaan Aceh cukup disegani di seantero dunia. Kondisi itu menjadi ancaman paling besar bagi Portugis yang masih menguasai Malaka. Karena peperangan terus dilancarkan ke kubu-kubu pertahanan bangsa penjajah itu. Berkat perjuangan keras, akhirnya satu persatu negeri dapat direbut kembali dari kafir Portugis. Bintan, Kedah, Johor, Pahang dan Trenggano mampu dikuasai Iskandar Muda.
Namun, peperangan itu terlalu banyak merenggut korban jiwa menyebakan populasi rakyat Aceh merosot tajam. Sultan berinisiatif membawa rakyat dari negeri yang telah dikuasai, untuk dipindahkan menetap di Aceh. Termasuk ketika berhasil menghancurkan Batu Sawar di Negeri Johor pada 1613. Hampir semua penduduk di negeri ini, beserta petinggi kerajaan bermigrasi ke Aceh, di antaranya Raja Husein (Iskandar Thani), Puteri Kamaliah (Putroe Phang) dan Bendahara (Perdana Mentri) Tun Muhammad yang cukup dikenal memiliki keteguhan iman dan budi pekerti luhur.
Karena Sultan Iskandar Muda bertekad mengembangkan ajaran Islam di kawasan pesisir timur, maka Tun Muhammad lalu diangkat menjadi Raja Samalanga pertama guna memperluas kepemimpinan sultan. Serta menyebarkan Islam di timur Aceh. Kemudian pada 1615 M, Tun Sri Lanang resmi menjadi raja perdana negeri Samalanga.
Pada zaman pemerintahannya, kerajaan itu berhasil mengembangkan Islam di pesisir utara hingga kawasan timur Aceh. Selain ahli tata pemerintahan, dia juga dikenal sebagai punjangga melayu melalui karya besar yang dituangkan dalam kitab Sulalatus Salatin (Pertuturan Segala Raja-raja).

Kitab fenomenal ini berhasil dirampungkan ketika ditawan di kawasan Samudera Pasai. Karya tulis Tun Sri Lanang itu, menjadi goresan sejarah yang masih tersisa dari kegemilangan kerajaan Islam Samalanga. Kemudian negeri kecil di kawasan ujung barat Kabupaten Bireuen ini, diperintah oleh keturunannya yakni Tun Rembau yang dikenal T Tjik Di Blang Panglima Perkasa.
Titisan Tun Sri Lanang ini menjadi Ampon Chik Samalanga, sesuai silsilah keluarga Ulee Balang itu seluruhnya mengenakan gelar Bendahara sebagai identitas kebangsawanan. Sampai Mayjen T Hamzah Bendahara yang menjadi putera terbaik Indonesia di era akhir 60 an silam.

Selain itu, keturunan Tun Sri Lanang juga kembali ke Johor dan menjadi petinggi kerajaan negeri ini, hingga menguasai negeri melayu seperti Selangor Darul Ihsan, Pahang, Johor dan Trenggano. Mereka adalah keturunan Tun Abdul Majid yang menjadi Perdana Menteri (Bendahara) Johor, Lingga dan Pahang Riau tahun 1688-1697 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar