Sabtu, 16 Maret 2013

UNDAK-UNDAK BAITURRAHMAN


Undak-undak Baiturrahman

Mesjid Raya Baiturrahman, 1989

Undak-undak pada bahagian depan mesjid masih menjadi trend pada bangunan mesjid di Aceh. Banyak kalangan desainer mesjid di Aceh mengakui, bahwa undak-undak atau tombak layar berjenjang, merupakan tradisi arsitektur Eropa yang berkembang di awal abad-18, khususnya Belanda. Tradisi Eropa ini bukan untuk bangunan mesjid atau bangunan keagamaan lainnya, tetapi lebih digunakan untuk memperkuat ciri bangunan rumah tinggal atau ruko. Namun pada kenyataannya, setelah bentuk undak-undak ini terinfiltrasi ke Aceh pada bangunan Mesjid Raya Baiturrahman pada 1879, kemegahannya menjadi tolok ukur dalam tampilan mesjid baru pada umumnya.
Mesjid Agung Bireuen, 2013
Pada awal 2013, aku mengevaluasi kembali tentang penggunaan undak-undak pada mesjid kabupaten-kota di sepanjang lintasan jalan nasional Banda Aceh-Medan. Karena aku awam dalam istilah sentuhan arsitektur, tombak layar berjenjang ini aku namakan saja dengan Undak-undak Baiturrahman. Tidak jarang aku mampir shalat pada mesjid yang tengah dibangun dengan menggunakan langgam Undak-undak Baiturrahman sambil mencermati perbedaan kenikmatan pandangan dari beberapa. Ada yang indah menurutku serta beberapa komentar masyarakat pemerhati, setidak-tidaknya dalam ukuran ketertarikan komunitas awam sepertiku. Tidak sedikit pula yang kurang menarik dalam ukuran ketertarikan seperti di atas. Tentu aku berusaha menyimpulkan dari apa yang kusaksikan terhadap keberadaan mesjid berlanggam seperti ini dengan tujuan sharing bagi yang memerlukan. Perhatianku ini lebih kepada menjawab pertanyaan beberapa rekan yang tidak setuju terhadap pembongkaran bahagian depan atau keseluruhan dari mesjid hanya dengan alasan “kurang pas.” Kondisi kurang pas yang dimaksudkan ini lebih dapat diartikan kepada tidak menariknya mesjid tersebut setelah ekspresi undak-undak gagal meningkatkan daya tariknya. Kejenuhan dari kondisi akibat tingginya espektasi yang terjadi berdampak kepada bongkar, renovasi atau rehabilitasi  mesjid tertentu.
Undak-undak bangunan Eropa, 1800an
 Aku pernah menjadi panitia pembangunan mesjid di beberapa tempat di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Bireuen. Aku memperhatikan pada saat membahas masalah bentuk atau arsitektur mesjid tertentu, para panitia saling berdebat menurut pemahaman masing-masing.  Masing-masing melapor tentang indahnya suatu mesjid di daerah tertentu dan mengintervensi kelompok diskusi untuk mengkomodir pengalamannya. Dari beberapa kepanitiaan yang aku ikuti, setelah debat kusir berkelanjutan tanpa arahan yang jelas, terjadi friksi dalam panitia panitia tersebut dan tidak jarang pula panitia bubar sebelum desain mesjid terwujud. Umumnya, mereka berdebat tentang gerbang mesjid yang kebanyakan memilih bentuk Undak-undak Baiturrahman. Ada persoalan lain tatkala mesjid ber-undak Baiturahman itu mulai dibangun dan terlihat bentuknya, yakni penilaian tentang bentuk mesjid yang hadir di tempat itu. Tampilannya tidak seperti yang disaksikan pada mesjid lain bahkan Mesjid Baiturrahman sendiri. Artinya, undak-undak yang ter-mindset sarat kemegahan dan keindahan, tampil tidak seperti yang diharapkan. 
Mesjid Batuphat Timur Lhokseumawe, 2013
Dalam evaluasi tanpa dasar akademis yang aku lakukan, aku berkesimpulan sementara bahwa keindahan undak-undak sangat dipengaruhi oleh kondisi proporsional, kemiringan, keterpaduan antar elemen, ornamen, bahan dan mungkin saja masih ada beberapa yang lain. Meskipun begitu, hingga awal 2013, keinginan masyarakat tertentu, masih terobsesi membangun mesjid dengan mengacu kepada arsitektur Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, tanpa memperhatikan batasan keindahan yang harus dipenuhi.

Mesjid {Peureulak, 2013
Aku tertarik mencermati kasus ini sejak tahun 1990-an, lebih dikarenakan ketidak-setujuanku tentang membongkar untuk merehab mesjid yang tiada henti akibat ketidak-puasan jamaah tertentu. Konsekuensi perlakuan ini tentunya menggiring nafsu kepada kondisi pemborosan belaka. Sementara, konsep arsitektural yang dipersoalkan seputar kemegahan mesjid lewat tradisi Eropa yang memang terinfiltrasi dan berkembang di saat desain arsitektur mesjid di Aceh masih terkekang dalam bentuk-bentuk tradisional. 

Mesjid Caleue Pidie, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar