Sabtu, 06 Juli 2013

ATMOSFIR DEFENSIF

Atmosfir Defensif

Di pertengahan tahun 2013, aku mendengar untuk mengamati suatu kondisi  keterkaitan antara aparatur dengan masyarakat dan dunia usaha. Menurut informasi masyarakat, ada suatu tradisi kehidupan masyarakat yang tergolong destruktif, yakni kebiasaan adu domba  sesama (provokatif). Keadaan ini berkembang akibat kebiasaan respon yang tinggi dari masyarakat itu sendiri terhadap berbagai isu yang muncul. Oleh karena kepedulian ini berwujud respon  kecurigaan, kesyirikan, persaingan dan lain sebagainya maka tradisi adu domba telah dimaklumi sebagai suatu keniscayaan. Hal ini menjadi persoalan tatkala pemakluman tradisi sudah merambah ke dalam sistem pola pikir pemerintah berikut aparaturnya. Tidak mustahil akibat pemakluman keniscayaan, terbentuklah kelompok-kelompok defensif untuk penyelamatan eksistensi masing-masing. Tidak saja di lingkup aparatur, tetapi terjadi juga di dua aktor pembangunan lainnya, yakni masyarakat dan pelaku usaha.  Biasanya, kelompok ini terbentuk atas dasar hubungan emosional atau premordialisme. Di lingkup aparatur kelompok defensif terus berkembang hingga memunculkan konsep senioritas. Tidak cukup dengan itu, kreativitas pertahanan kelompok di lingkup aparatur menuntut kehadiran doktrinasi bagi para junior. Jika kelompok ini mampu menyusup dan mempengaruhi kebijakan para pengambil kebijakan daerah maka atmosfir birokrasi yang terbentuk tidak mempunyai arah dan mengambang. Dampak domino dari keadaan ini cukup kuat untuk menjadi alasan terhadap kondisi pengkotak-kotakan di tengah masyarakat dan dunia usaha. Pemunculan sosok pemimpin di jajaran birokrasi produk tekanan saling dukung, pada dasarnya untuk mengamankan kepentingan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar