Jumat, 05 Juli 2013

HUT KESEBELAS ATAM

Budaya Baju Safari
 
Razuardi Ibrahim bersama pejabat ATAM
pada HUT KE-11 ATAM, 2 Juli 2013, tidak dalam pakaian safari

Hingga  saat ini masih terlihat orang-orang tertentu suka menggunakan stelan safari dalam mempertahankan ekslusivisme-nya. Stelan safari atau baju safari, sebenarnya jenis pakaian resmi tertentu, bercirikan warna seragam kemeja dan celana yang digunakan para pemimpin satuan kerja atau kantor. Kerah stelan pakaian ini mirip jas namun dengan lengan yang pendek. Pada bahagian depannya terdapat empat saku, yakni dua di bahagian atas dan dua di bahagian bawah. Jika ada sosok tertentu memakai stelan ini di tengah kerumunan orang maka sasaran dugaan, orang inilah pemimpinnya. Begitupula, jika ada orang-orang tertentu yang bukan elite memakai baju safari, ianya dipandang aneh dan gila jabatan. Tidak kudapatkan informasi tentang alasan nama stelan pakaian ini dinamakan safari karena masih ada pihak tertentu yang menamakannya dengan istilah jas pancung. Aku hanya teringat pakaian ini mulai ramai dipakai pada tahun 1977, di musim Pemilu Ke-3 Indonesia. Para Camat diberi fasilitas mobil merek VW kodok berwarna oranye lengkap dengan pakaian safari-nya. Mobil VW jatah para camat inipun populer disebut dengan nama Ve We Safari. Acara hiburan yang mengorbitkan banyak artis top papan atas di TVRI-pun di namakan Aneka Ria Safari. Jika tidak berlebihan, dapatlah disimpulkan sementara bahwa kata safari me-nasional di Indonesia pada tahun 1977. Kesimpulan ini beranjak dari awal kata safari itu digunakan atau pertama kali aku dengar yakni di tahun 1971, pada masa Pemilu Ke-2. Usiaku ketika itu baru memasuki 10 tahun dan gemar menonton hiburan kampanye. Di masa itu berbagai pelosok kabupaten-kotamadya ramai dikunjungi Tim Safari Golkar. Namun demikian, baju safari telah berjasa dalam memperkenalkan para elit di jamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar