Minggu, 28 Juli 2013

SALAH SATU MINDSET

Mindset Kawan
 
Razuardi Ibrahim dengan tim Kfw-Gitec, 2008
Selesai ujian sarjana sebelum wisuda, 1988, aku masih bertekad untuk menjadi pekerja seni tanpa mencermati kelayakan hidup para seniman kala itu. Aku berkhayal, seniman mereupakan pekerja yang memuaskan orang lain lewat hasil karyanya. Sebagian besar para lulusan, khususnya yang se-angkatan denganku berkonsentrasi untuk menjadi pegawai negeri sipil. Terlebih mengherankan bagiku tentang sebagian besar kawan-kawan yang antri menunggu dibukanya testing pegawai Departemen Pekerjaan Umum, yang nota bene pegawai negeri pusat. Artinya, mereka juga menetapkan departemen PU merupakan lahan kerja pilihan yang cukup bergengsi di seantero negeri. Mereka saling menyembunyikan berbagai informasi, termasuk sosok pejabat tinggi di departemen itu yang bakal menjadi backing-nya. Mengetahui hal itu, aku semakin tidak menyukai keadaan. Untuk menyeimbangkan suasana hati yang lagi penasaran tentang animo kawan-kawan untuk bekerja di institusi bergengsi di republik ini, aku melakukan riset tak formal. Dua pertanyaan pokok aku persiapkan untuk mengungkap pola pikir yang bersemayam di benak mereka, yakni “apa alasan kalian jadi pegawai negeri?” dan “mengapa mesti bekerja di PU?”. Dari sepuluh orang yang aku tanyai, delapan puluh persen jawaban mereka rada sama. Sementara yang dua puluh persen lagi bercorak klise, yakni “ingin mengabdi kepada bangsa dan negara”. Jawaban yang umum dari mereka, pertama, jika menjadi pegawai negeri jaminan hari tua mereka sudah jelas, dapat pensiun. Kedua, tujuan mereka bekerja di Departemen PU, yakni agar suatu saat mereka dapat dipercayakan menjadi pemimpin proyek atau jabatan fungsional proyek lainnya. Sebenarnya, aku ingin melanjutkan pertanyaan lagi tentang, “untuk apa jadi pemimpin proyek ?”. Namun aku lupa untuk itu, terlanjur berangkat ke Lhokseumawe pada 26 Pebruari 1989, untuk suatu rencana bekerja di perusahaan swasta. Aku menemui Om Ridwan Mahmud berbincang tentang kemungkinan aku bekerja di PT Arun karena beliau salah seorang dari sepuluh manajer di perusahaan besar nasional tersebut. Beliau tidak keberatan namun menekankan tingkat kedisiplinan tinggi di perusahaan itu.  Dalam satu renungan, aku memupuskan niat itu, khawatir terjajah sepanjang hidupku karena mendapat peluang berkat bantuannya. Keesokan harinya, aku menemui Kepala Dinas PU Daerah Aceh Utara untuk berbakti saja di kantor itu sambil mengajar jika memungkinkan. Tanpa proses yang panjang aku langsung diterima pada 27 Pebruari 1989 dengan alasan di kantor belum memiliki se-orangpun sarjana teknik sipil. Ketika testing yang aku yakini formalitas belaka dan di tahun itu juga aku lulus karena para sarjana teknik sipil lebih tidak berkenan menjadi pegawai PU daerah. Setelah aku menjabat pemimpin proyek, 1994, aku mendapatkan jawaban tanpa harus me-riset lagi. Tidak kurasakan kenikmatan cita-cita seperti yang ter-mindset di benak kawan-kawan seperti jawaban pada riset informal beberapa tahun silam.    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar