Minggu, 28 Juli 2013

INSINYUR LANGKA

Tatkala Insinyur Langka

 
Razuardi Ibrahim, Awee Geutah
2009
Di paruh akhir tahun 1980-an, aku berkunjung ke kantor PU Aceh menemui beberapa alumni senior di sana. Tujuanku, memohon agar dapat diizinkan menjalani kerja praktek (KP) di salah satu proyek yang berada di bawah kepemimpinan seniorku itu. Relatif sulit menemui mereka sehingga aku dan beberapa teman memilih duduk memperhatikan para senior lain hilir mudik di kantor itu. Tanpa teguran dari beliau-beliau itu meskipun aku bersama rekan berusaha melempar senyum setiap kali mereka lewat. KP merupakan mata kuliah yang diwajibkan di Fakultas Teknik setelah kami menyelesaikan beberapa SKS yang dipersyaratkan. Tentu aku kecewa dengan pemandangan itu berikut timbul niat kurang baik terhadap mereka. Minimal aku melakukan itu dengan doa agar mereka merasakan juga penderitaan seperti-ku yang datang dari jauh, menumpang sepeda motor kawan sesama mahasiswa KP. Terkesan mereka memperlihatkan kesombongan di hadapan kami tentang jabatan yang disandangnya selaku pengelola proyek nasional, pimpro, pimbagpro dan lain sebagainya. Kami diperintahkan oleh petugas di kantor itu untuk kembali besok hari dengan jadwal yang tidak ditentukan. Memang sarjana teknik waktu itu cukup langka dan menjadi kebanggaan para orang tua, terlebih lagi para mertua. Aku masih ingat orang-orang itu dan berjanji tanpa sumpah untuk mengevaluasi ketangguhan mereka di bidang teknik sipil, di suatu saat. Di tahun 1995, niat itu terkabulkan, aku juga menjabat pemimpin proyek di tingkat kabupaten. Beberapa dari mereka bertemu denganku dalam rapat-rapat khusus ke-PU-an di Banda Aceh. Aku berdialog untuk berkesimpulan kala itu, mereka lebih mengutamakan kecerdasan dalam memperbincangkan besaran biaya proyek dari pada memaknai konsep proyek yang sedang dikelolanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar