Kamis, 11 Juli 2013

EKONOMI MANDIRI

Memikirkan Ekonomi Mandiri

Razuardi Ibrahim, Hamdan Sati
di jaringan irigasi Tenggulun 2013
Semula aku meyakini bahwa konsep otonomi daerah yang tebangun di republik ini akan membuat kabupaten-kota tumbuh cepat dibanding masa sebelumnya. Mind-set ini menyusup ke dalam pikiranku, setelah aku banyak mendengar paparan kawan-kawan selaku aparatur pemerintah pusat di berbagai pertemuan. Pantas kawan-kawan sesama aparatur yang bekerja di kabupaten-kota menyambut gembira keadaan ini. Namun perlahan aku cermati beberapa hal yang berubah dari sistem kepemerintahan di beberapa kabupaten-kota. Sejak tahun 2000, kreasi daerah membentuk instansi lokal cukup beragam, cenderung tidak sama antara satu dengan lainnya tanpa memperhitungkan kebutuhan stakeholders-nya. Selain itu, premordialisme tumbuh dengan leluasa dalam artian putra setempat harus menjadi pejabat di kabupaten setempat pula. Perebutan jabatan struktural semakin nyata tanpa mempertimbangkan tuntutan kompetensi dari aparatur yang bersangkutan. Hampir tidak ada kabupaten-kota yang mampu memperlihatkan tingkat pertumbuhan ekonominya sebagai dampak konsep otonomi yang telah dicanangkan, kecuali daerah-daerah tertentu yang memang sudah tumbuh sejak di era sentralistik sebelumnya. 
irigasi Tenggulun, 2013
Dalam liputan ke desa-desa bahkan terhadap sopir taksi di Jakarta, Bali, Bandung serta kota lainnya, aku dapatkan jawaban yang sama tentang perbandingan kenyamanan mereka hidup di beberapa era atau jaman.  Di tahun 2009, pernah terlintas kesimpulan dalam benakku, bahwa jika suatu kabupaten-kota gagal dalam mempertahankan kelangsungan ekonominya yang pro rakyat maka kabupaten-kota itulah yang menanggung resikonya. Di Bireuen aku pernah mengusung pendapat ini dengan membahas tentang kemungkinan gagal panen padi di sana. Usungan ini mendapat sambutan dari beberapa kawan selaku pemuka masyarakat sehingga kami sama-sama membangun pusat pembibitan padi di Paya Umpung, Peusangan Selatan. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar masyarakat dapat mendapatkan bibit padi yang murah dan mudah. “Kalau kita gagal panen atau tidak mampu menanam padi dengan murah, tidak satu-pun kabupaten—kota lain datang menolong,” kataku kepada mereka.  Di bulan Juni 2013, aku bercerita hal yang sama kepada beberapa kawan dari LSM Aceh Tamiang. Mereka juga sepakat dengan pendapatku dan bersedia membangun konsep ini di tengah masyarakat. Hingga hari ini, aku meyakini konsep ini bukanlah konsep berat yang sulit diaplikasikan. Hanya penyadaran sistem tentang pentingnya membangun ekonomi mandiri di masing-masing kabupaten-kota yang diawali dengan ketahanan ekonomi dasar, yakni kemudahan pangan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar