Senin, 22 Juli 2013

PLAGIAT DAN KARAKTER MASA DEPAN

Hubungan Plagiat Dengan Karakter Masa Depan

Razuardi Ibrahim bersama pengajar FT Unsam Langsa
23 Juni 2013, dalam syukuran penegerian
Aku cermati dan menyusuri perjalanan beberapa kerabat yang mengaku menjiplak tugas akhir dari kerabat lainnya. Biasanya, tindakan ini berupa pengambilan karangan, pendapat dan lain sebagainya karya orang lain untuk dijadikan seolah-olah karangan atau pendapat sendiri,  misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Kebiasan plagiat memang telah lama dibicarakan kalangan intelektual. Prilaku menjiplak karya cipta orang lain, khususnya di bidang tulisan ilmiah, merupakan perbuatan tercela dalam dunia pendidikan. Terlebih lagi, karya hasil pemikiran pihak lain dipublikasikan oleh orang-orang tertentu sebagai hasil kerja keras plagiator tertentu. Tentu perlu kajian latar belakang tentang sosok plagiat tertentu agar perjalanan tercela ini dapat terhenti. Bukan suatu kemustahilan tatkala diteliti tentang proses pembelajaran sosok plagiator tertentu, banyak hal yang mesti dikoreksi, seperti pada masa kuliah kerap melobi dosen, menyontoh tatkala ujian, melobi personal bidang studi untuk menambah jumlah SKS dan lain sebagainya. Umumnya, plagiator tidak percaya diri untuk menghadirkan ide, takut dipersalahkan.  
Razuardi Ibrahim bersama mahsiswa FT Al Muslim
usai sidang sarjana, 30 Juni 2013
Aku melakukan pencermatan terhadap prilaku beberapa kerabatku mahasiswa Fakultas Teknik yang berkiprah di birokrasi, sejak masa kuliah hingga sepuluh tahun pertama di millenium ke-tiga ini. Aku dapati sosok-sosok sampel plagiator berikut penelusuran karakter dalam proses pembelajaran seperti diceritakan di atas. Memang masih terdapat deviasi dalam penetapan sampel-sampel dimaksud, namun dapat diusung ke dalam pendekatan ilmiah sehingga standar penetapan sosok expart dapat terkontribusi dari proses. Mereka hanya berpredikat sebagai sosok pelaku pembusukan karakter bagi yang dianggap pesaing di luar kemampuan teknis masing-masing. Kondisi ini cukup mengganggu bagi sosok generasi baru expart yang sedang tumbuh dan dianggap sebagai pesaing. Hal ini perlu dipahami para pihak untuk membangun karakter bangsa secara umum, melalui perlindungan psikis para generasi baru yang penuh percaya diri, khususnya di bidang ke-tekniksipilan. Aku membahas hal ini dalam ragam diskusi bersama beberapa rekan sesama pengajar, dengan kesimpulan sementara bahwa keberlanjutan yang terjadi sebagai suatu kondisi alamiah manakala peluang untuk itu tetap terbuka. Oleh karenanya, perlu melakukan langkah estafet terhadap pesan buruk tindakan plagiat kepada generasi baru meskipun hambatan ini masih terlalu besar untuk dihadapi. Katakan pada mereka, "percaya diri lebih utama dari sekadar menyelesaikan proses pembelajaran".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar