Jumat, 19 Juli 2013

MENARA MESJID MATANG

Menara Mesjid Matang Geulumpang Dua


Menara Mesjid Raya Matang Geulumpang Dua,
kondisi pada 2007
Pada tahun 2000, aku diminta bantu Bang Yusri Krueng Panjo untuk membuat gambar menara Mesjid Raya Matang Geulumpang Dua, Bireuen. Tentu dengan konsekwensi amal selaku umat Muslim. Waktu itu ia menemui aku di ruang Kepala Bappeda yang ketika itu dipimpin Pak Aiyub Ahmad. Aku menyanggupi membuat gambar bangunan pelengkap mesjid itu sambil memberi gambaran tentang fungsi menara serta tata-letaknya. Karya itu bukan murni buah pikiranku, tetapi ada sharing dari Rachmat ketika ia membuat sketsa menara mesjid Kota Lhokseumawe. Dalam beberapa hari aku selesai membuat sketsa menara itu dengan penambahan di sana-sini sesuai permintaan panitia pembangunan mesjid kebanggaan warga Kecamatan Peusangan tersebut. Aku teringat Bang Hamami anggota Polsek juga datang bersama Bang Yusri untuk mengkritisi gambar agar ukuran ruang belajar anak-anak mengaji di lantai dasar diperkecil. Beberapa hari kemudian aku menyelesaikan gambar yang relatif sempurna dalam ukuran kesesuaian ide mereka dan aku. Selanjutnya, aku meminta si Nyanyak, bawahanku di Dinas Bina Marga untuk membuat gambar teknis beserta rencana anggaran biayanya. Sekira tahun 2002, menara itu akan dibangun, tahap  pemasangan bouwplank untuk pemancangan pondasi. Ada perbedaan pendapat sesama panitia seputar lokasi penempatan menara. Beberapa panitia selain Bang Yusri menemuiku untuk diskusi penempatan yang benar. “Kalau di sudut depan bagian timur belahan selatan, mesjid akan tertutup,” kata mereka yang aku lupa tentang sosok-sosok itu. Aku sepakat dengan mereka, namun tidak memberi komen keberpihakan khawatir terjadi friksi yang aku juga tidak suka. Pernah aku membisikkan kepada Bang Yusri, bahwa sebaiknya menara itu ditempatkan di arah barat belahan utara mesjid. Namun penempatan menara itu tetap dibangun di tempat sekarang. Setelah sosok menara itu terbangun beberapa tahun kemudian, banyak hal yang tidak sesuai dengan angan-anganku dari aspek estetika. Tetapi begitulah tampilan sebuah karya monumental yang seyogianya butuh sentuhan pengendali seni tatkala pembangunannya. Pada tahun 2007 aku datang bersama panitia dan Om Nawi (Hasnawi Hasan) untuk melihat penyelesaian bangunan yang tinggi menjulang di tengah kota sate itu. Aku memaknai proses ini merupakan pembelajaran mahal yang mesti dipesankan kepada para perancang masa depan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar