Rabu, 31 Juli 2013

PEMBODOHAN PUBLIK

Pembodohan Publik


Di pertengahan tahun 2013 ini, banyak poster-poster para calon legislatif mulai terpasang di berbagai sudut kota. Sebagian masyarakat mulai mengomentari tentang kondisi ini. Aku sering mendengar ocehan masyarakat di beberapa tempat, khususnya di warung kopi. Mereka mengomentari beberapa poster sosok tertentu yang pernah menjanjikan sesuatu pada musim pilkada lima tahun silam. Namun menurut masyarakat tertentu, para calon datang kembali dengan berbagai alasan, bahkan menginformasikan kelemahan partai lain tanpa mengurangi upaya perbaikan imej terhadap partainya. Dapat disinyalir dari ungkapan awam bahwa kondisi yang terjadi merupakan peristiwa rebut pencitraan lewat kepentingan terbungkus. Pergulatan kepentingan yang terjadi kerap juga menggunakan isu pencitraan lain yang diharapkan dapat menghadirkan suatu pembenaran terhadap kondisi masa lima tahun lalu. Di samping itu, kepentingan terselubung diniscayakan menggunakan masyarakat sebagai objek dari perseteruan. Tidak jarang pula upaya pembenaran yang dilakukan, menggiring kesimpulan pemikiran ke arah pembodohan di tengah masyarakat. Modus operandi yang biasa dilakukan antara lain pemutar-balikkan fakta, pengembangan isu tidak benar, penghujatan terhadap sosok tertentu dan lain sebagainya. Dari ke-semua modus tersebut, isu dominan yang dikembangkan adalah topik penggapaian finansial, seperti kemampuan para caleg membawa pulang dana pembangunan yang besar bagi daerahnya. Artinya metode penggalangan konstituen masih belum berubah dari musim pemilu lima tahun silam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar