Sabtu, 05 Januari 2013

PELUKIS SAYEED DAHLAN

Aku sudah lama mengenalnya dan memanggilnya Waled. Ia Sayeed Dahlan, pelukis sejarah terbaik yang pernah memperoleh anugerah budaya. Aku dan dia pernah menyelesaikan reka rupa wajah Tun Sri Lanang, bangsawang Melayu yang konon kabarnya dimakamkan di Samalanga. Namun sebelumnya, aku segan kepada beliau karena dia lebih hebat dan kesohor dari pada aku. Suatu hari aku meminta dia melukis sejarah Kerajaan Jeumpa, dan iapun membaca banyak hikayat kuno tentang itu.Diceritakan oleh Sayed Dahlan, pelukis dan pemerhati sejarah dari Lhokseumawe. Pria kelahiran Panton Labu, Aceh Utara ini menceritakan bahwa pada tahun 149 H, tersebutlah Raja Jeumpa  bersama putrinya Mayang Seuludang. Putri jelita ini dinikahkan dengan Pangeran Salman dari Pesia, cucu Jafar Siddiq bin Muhammad Al Baqis bin Zainal Abidin bi Ali bin Abi Thalib.
Sayeed Dahlan, 2010

Lukisan karya Sayed Dahlan berjudul “Solmon Bireuen” yang artinya menuju kemenangan, digoreskannya ke atas kanvas berdasarkan naskah kuno dan beberapa hikayat seputar keberadaan Raja Jeumpa. Dikisahkan, ketika hendak berangkat ke Peureulak untuk menetap di sana, Pangeran Salman dengan Gelar Datuk Kabu. Raja Jeumpa ketika itu bertanya kepada menantunya Salman “Kemana engkau hendak pergi?”, Salman menjawab dengan bahasa Persia ”Solmon Bireuen (Menuju kemenangan)”

Perpisahan itu terjadi di sebuah sungai kecil diperbatasan kota. Salman bergerak menuju Peurlak bersama istri, anak-anaknya dan rombongan. Keempat anak Salman, yakni Syahir Nuwi penerus Kerajaan Jeumpa, Syahir Tanwi penerus Kerajaan Peurlak, Syahir Poli penerus Kerajaan Poli (Pidie), dan Syahir Doli penerus Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh. Keempat putra Salman tersebut digelar kaum Imum Peut di Aceh.  Anaknya yang ke lima seorang putri bernama Makhdum Syamsuri yang kawin dengan Sayid Ali Muktabar. Syahir Doli banyak menurunkan raja-raja di Kerajaan Aceh.

Sebagai putra Salman tertua, Syahir Nuwi menetap membangun negeri Jeumpa dengan pusat pemerintahannya di Blang Seupeung, di Kecamatan Jeumpa sekarang. Putri Salman yang bungsu menikah dengan Sayid Ali Mukhtabar, cicit Jafar Siddiq. Dari perkawinan itu lahirlah Maulana Syahir Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Peurlak (30 Muharram 225 H). Salman menyamarkan identitas Sayed dengan gelar Syahir yang diambil dari gelar kaum sebelah ibu, yakni Syahir Banu, Istri Sayidina Husin, yang terbunuh di Karbala. Penyamaran ini bertujuan untuk menyembunyikan identitas dari kejaran bani Abasysyiah. Nama keturunan Syahir juga disamarkan lagi menjadi Meurah yang asal nama ini diambil dari nama turunan sebelah Ibu, yakni dari Mayang Seuludang putri Raja Jeumpa yang bergelar Meurah. Setelah diberlakukan kepada beberapa generasi, pada akhir abad 16  gelar Meurah disamarkan lagi menjadi Teuku bagi pangeran-pangeran yang mengelola pemerintahan, sementara yang mengurus hukum Islam diberi Gelar Teungku. Kesemua gelar ini berasal dari keturunan Imum Peuet. Akhir abad 16 tersebut dikenal juga dengan masa pelarian Iskandar Muda dari penjara Darussalam akibat tuduhan  makar terhadap Sultan Mahmud. 
yiah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran sempalan dalam Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam Islam adalah aliran yang ajaran-ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah. Selanjutnya oleh karena aliran-aliran Syiah itu bermacam-macam, ada aliran Syiah Zaidiyah ada aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah, maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah yang sedang berkembang di negara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyah.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar