Rabu, 30 Januari 2013

PRAKTEK SEUMALOE


Praktek Seumaloe

Satu lagi cara pikir masyarakat pada umumnya, yakni mencari Seumaloe dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Seumaloe merupakan kata dalam bahasa Aceh yang dapat dipahami secara umum bagi masyarakat Aceh pesisir. Secara gamblang dapat diuraikan bahwa seumaloe merupakan pantangan bagi pihak tertentu. Orang-orang sering bilang seumaloe merupakan sosok yang memiliki kharisma terhadap sosok tertentu sehingga tidak boleh dilawan. Pembentukan kharisma ini bisa terjadi akibat termakan jasa yang tak terbalaskan, takluk dalam perselisihan, ketahuan berbuat salah, prestise keluarga yang lebih tinggi, dan lain sebagainya.  

Dalam prakteknya, tradisi seumaloe ini dirasakan lebih ampuh dan tuntas menyelesaiakan persoalan. Mudah dicontohkan, tatkala terjadi  persengketaan antar satu pihak dengan yang lainnya, sementara pihak yang satu merasa tertekan tanpa daya maka serta merta pihaknya mencari pihak lain yang dapat menetralisir bahkan menekan pihak lainnya. Pihak lain yang dicari tersebut yakni seumaloe yang merupakan pihak dianggap mampu melakukan segala kemungkinan yang terjadi akibat dari proses pembelaan atau pendamaian. Begitupula terhadap hal lain yang memerlukan sosok seumaloe.

Semula, orang menggunakan teknik seumaloe ini hanya untuk menyelesaikan persoalan sosial masyarakat kelas bawah. Karena diyakini ampuh menyelesaikan ragam persoalan maka teknik-teknik seumaloe ini mulai dimanfaatkan ke berbagai kepentingan. Untuk meminta proyek ke kepala dinas para rekanan sering menggunakan jasa seumaloe seperti Bupati, wakil Bupati, Sekda dan lain sebagainya, selaku pihak atasan kepala dinas yang bersangkutan. Jika seumaloe setingkat ini tidak mempan, rekanan mencari seumaloe lain yang lebih disegani bahkan ditakuti. Begitupula untuk keperluan lain seperti meluluskan anak ke sekolah tertentu, mendapatkan jabatan di pemerintahan, menjadi calon anggota DPR, dan banyak lagi kepentingan berbagai pihak yang menggunakan jasa seumaloe.

Di Bireuen, peranan seumaloe sudah berlaku sejak mekarnya kabupaten ini. Aku sendiri dipulangkan untuk  bekerja di kabupaten baru ini berkat kinerja seumaloe. Waktu itu Pak Hamdani Raden, bupati  perdana di Bireuen mengurus kepindahanku relatif sulit. Rekan-rekan bahkan pejabat di Aceh Utara cukup berat melepaskanku, tanpa alasan yang jelas. Namun kelihaian Pak Hamdani Raden dalam memanfaatkan Bang Mukhtar Raden sebagai seumaloe menghadapi Bupati Aceh Utara kala itu, surat pindahku pun ditandatangani. Secara tidak langsung aku mengenal tradisi seumaloe lewat Pak Hamdani Raden, yang memang bijak dalam menyikapi keadaan.

Sejauh dimanfaatkan untuk kepentingan umum, tradisi seumaloe ini relatif positif karena nilai yang terjadi kepada pemanfaatkan kharisma seseorang. Di tahun 1970-an ke masa sebelumnya, aku merasakan guru, guru mengaji, kepala desa, dan beberapa sosok di suatu tempat merupakan seumaloe bagi semua warga. Tak ada masyarakat yang berani menjawab tatkala sosok-sosok ini menegur pelanggaran yang dilakukan masyarakat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar