Selasa, 15 Januari 2013

PERKELAHIAN ANTAR KAMPUNG

Aku teringat kondisi anak-anak muda di tahun 1968, di Banda Aceh. Waktu itu usiaku sekitar 7 tahun. Aku diasuh oleh nenek dan kemudian disekolahkan oleh Pakwa Binsari setelah ayahku Razali Mahmud berpulang pada 25 Agustus 1966 di Sigli. Banyak rekan sebayaku yang tidak mau bersekolah waktu itu. Kalaupun ada yang bersekolah, mereka jarang mau menggunakan sepatu atau sandal. Setelah mereka menanjak  ke usia  14 tahun, mereka memilih bergabung dengan pemuda yang berusia jauh di atas kami. Menggunakan celana panjang merupakan perbedaan yang menyolok saat itu. Karena kami menggunakan celana pendek hingga akhir pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP), kira-kira berusia di atas 15 tahun. Aku melihat kawan-kawanku memilih bergabung dengan abang-abang yang sering bergerombolan di simpang masuk desa hanya untuk merasa eksis kala itu. Tidak jarang setiap anak dari desa lain datang ke desa tertentu diteriaki atau disorak sehingga anak muda asing tadi merasa ketakutan dan melapor ke kawan-kawan di desanya. Biasanya, setelah itu peristiwa berlanjut hingga perkelahian antar kampung. Kajadian ini kusaksikan hingga pertengahan tahun 1974, tatkala aku menduduki kelas I, SMP.  Persoalan lain yang mengundang perkelahian antar kampung kala itu yakni disebabkab hal sepele, paling dominan soal percintaan. Kala itu jika seorang pemuda Desa Lamprit mengunjungi teman wanita di Kopelma Darussalam, sewaktu pulang pemuda tersebut tidak jarang kena lemparan batu pemuda setempat. Puncak perkelahian antar kampung terbanyak di Banda Aceh di tahun 1969. Rivalitas antar kampung yang telah termindset dalam benak warga Banda Aceh ketika itu, yakni Kampung Blower dengan Seutui, Keudah dengan Merduati, Lamprit dengan Lampineueng, dan lain sebagainya. Pada tahun 1977, kondisi berangsur normal, perkelahian antar kampung jarang terdengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar