Selasa, 23 Oktober 2012

TIMSES DAMAI

-->
Kantor Timses Berdampingan
09062012
Kantor Timses Damai, 2012

Musim pilkada Bireuen priode 2012-2017 tiba. Para pasangan kandidat yang telah yakin untuk meu-launching diri semakin berbenah memenuhi kebutuhan, paling tidak untuk mendongkrak prestise. Salah satu kebutuhan yang paling bergengsi adalah kantor atau sekretariat, tempat para pihak berkepentingan menemui manajemen timses atau kandidat. Setiap kandidat paling sedikit harus memiliki satu kantor, sementara pasangan calon yang memiliki finansial kuat kantor timses bisa lebih dari satu. Berikut fasilitas lain seperti kendaraan mewah yang banyak.

Aku dan Husaini hanya memiliki satu kantor timses di jalan Medan-banda Aceh, Desa Pulo Ara, Bireuen. Itupun sumbangan para simpatisan yang sejak awal bersimpati kepada pasangan kami, Husaini-Razuardi (Husra). Semula, sebagian rekan rada keberatan kantor timses Husra di tempat itu karena bersebelahan langsung dengan Kantor Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Alasan sebagian rekan tersebut cukup dapat diterima karena mereka mendengar saudara Murdani, kader PPP, juga akan maju sebagai kandidat musim pilkada ini.

Ada diskusi kecil di antara aku, Husaini, serta beberapa pekerja di timses Husra. Namun aku mendengar Husaini berkeras sesuai dengan saranku agar kami tidak menciptakan persaingan yang tidak perlu sesama kandidat. “Jadi tidak masalah kantor bersebelahan,” kata Husaini.  Puluhan anak buah Husaini yang terkesan sangar menuruti pesan yang disampaikan.

Beberapa minggu setelah kami mengaktifkan kantor timses Husra, anggota timses pasangan  Hamdani Raden-Murdani datang hendak memasang baliho besar setara baliho Husra yang lebih dulu terpasang. Malam itu mereka sedang menuggu rekan untuk memasang baliho itu yang lumayan beratnya. Madi, penjaga kantor Husra beserta beberapa yang lain turut membantu.

Kondisi yang luar biasa ini berlanjut hingga ke hari-hari berikutnya. Tatkala anggota timses Hamdani-Murdani mengadakan rapat dengan kunjungan sepeda motor yang lumayan banyak, mereka saling berkoordinasi tentang penggunaan areal parkir di depan kantor Husra, begitupula sebaliknya.

Suatu malam, aku bertemu Murdani tatkala sama keluar kantor menunggu jemputan. Kami saling menyapa dan disaksikan para timses masing-masing. Suatu hal kurasakan malam itu, yang kudapati dari pertanyaan beberapa rekan Husra tentang sikapku dan Murdani.  Aku puas sekali karena mereka bertanya serupa itu dan aku mampu meyakinkan mereka bahwa pilkada bukanlah fasilitas untuk membangun permusuhan. Isu pertemuanku dengan Murdani berikut penjelasannya menjadi bahasan setiap kali rapat di kantor Husra. Suasana itu kupahamkan sebagai upaya pencerdasan bagi rekan-rekan agar tidak perlu memikirkan atau merancang persaingan negatif dalam pilkada. Sesekali mereka bertanya juga kepadaku tatkala terjadi debatan kecil di antara mereka dengan topik, “untuk saat ini kita harus menutup diri dari pihak berseberangan”. Aku menjawab seraya membangun pemahaman, bahwa semua kandidat adalah putera-putera terbaik menurut pendukungnya yang mempunyai hak sama dalam pilkada. “Persoalan menang kalah bukan urusan kita,” kataku singkat.

Ada keuntungan lain yang datang dengan sendirinya, yakni para peminta sumbangan atau pendukung yang berpura-pura, tidak leluasa membual di Kantor Husra, begitu pula sebaliknya. Memang ada juga beberapa yang terjebak dengan kondisi ini. Beberapa petualang yang baru keluar dari kantor Hamdani-Murdani dan menyeberang ke Kantor Husra, ditegur oleh Madi setelah diberitahukan petugas kantor sebelah. Ada juga yang bersembunyi takut dilihat sehingga baru keluar kantor tengah malam setelah sepi.

Ternyata besebelahan kantor memberi pembelajaran tersendiri bagi para petualang. Belenggu ketidak-jujuran cukup menyiksa mereka. Pembelajaran lain juga tidak kalah pentingnya, yakni saling menghargai sesama timses membangun kejujuran sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar