Rabu, 17 Oktober 2012

ROMAN LEWAT LAGU

Lirik Roman Dalam Lagu

Di tahun 1950-an, lirik lagu yang berkembang masih diwarnai dengan semangat patriotisme. Hal ini disebabkan semangat perjuangan dan proklamasi Indonesia termindset ke seluruh aspek masyarakat, tidak terkecuali para komponis sekalipun. Namun demikian, bukan berarti lirik-lirik roman tidak mendapat tempat dalam ungkapan lewat lagu. Ada juga lagu-lagu cinta pada masa itu, tetapi dengan bahasa  santun dan terbungkus dalam sastra yang menghindari ungkapan tabu, yang tidak boleh didengar semua usia. Lirik serupa ini banyak ditulis oleh komponis besar Indonesia , salah satunya Ismail Marzuki. Sebagai contoh, bagaimana Ismail Marzuki menyatakan isi hatinya lewat lagu Juwita Malam,

tak jemu-jemu mata  mata memandang,
aku namakan dikau juwita malam

Banyak lagi lagu lainnya yang mengungkap dalam bahasa santun seperti di atas. Tradisi ini bertahan sekitar belasan tahun saja. Pertengahan tahun 1960-an, lirik lagu sedikit terbuka mengungkap suasana hati romantis yang dulunya disebut lagu-lagu asmara. Meskipun pada saat itu masih banyak juga lagu-lagu romantis yang bertahan dengan bahasa perumpaan seperti yang pernah dilantunkan Lilis Suryani dengan lirik,

Semalam hati kurisau
Mengenang dikau
Kasihku seorang

Atau lagu yang di nyanyikan Erni Djohan dengan lirik,

Mengapa ku tak boleh
Berkawan dengan tetangga
Aku belum milikmu
Hanya kawan biasa

Atau lagu karya dan dinyanyikan Titik Puspa dengan ungkapan lebih berani seperti,

Kekasihku marah-marah
Kekasihku marah-marah
Minta cium pipi yang kanan
Aku geli, ha, ha ,ha

Di Banda Aceh, lagu karya Titik Puspa ini banyak kritikan dari para orang-orang tua dan guru-guru masa itu, akhir tahun 1060-an. Anak-anak  ditegur dan dilarang menyanyikan lagu itu. Alasannya, lagu itu tidak pantas didendangkan karena ada kata cium yang masih tabu untuk diucapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar