Minggu, 28 Oktober 2012

MUTASI PU 2006

Mutasi Kimpraswil 2006

Ir Zulkifli, Sp
Jelang akhir 2005, saat pak Mustafa A Glanggang menjabat Bupati Bireuen, aku pernah diarahkan untuk kembali memimpin dinas teknis sesuai bidangku, ke-PU-an. Waktu itu nama dinas teknis itu Kimpraswil, produk penggabungan Dinas Bina Marga yang pernah aku pimpin sejak tahun 2000 hingga 2001, Dinas Cipta Karya, dan Dinas Pengairan. Berita arahan itu aku terima dari Ir Saiful Anwar, timses Pak Mustafa saat suksesi pimpinan daerah pada 2002. Waktu itu aku masih menjabat Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop). Aku selalu menolak permintaan Saiful karena aku tidak berkenan jabatan yang aku emban sarat kepentingan politis, meskipun mungkin tidak demikian adanya. Akhirnya, pada 6 Desember 2005 aku dilantik menjadi Kepala Bappeda Bireuen menggantikan Dr Ir Adli Yusuf, M Sc.

Ir T Zahedi, MT
Selaku Kepala Bappeda, aku banyak berdiskusi tentang konsep Bireuen ke depan bersama Pak Mustafa, layaknya sejak aku di Disperindagkop. Banyak ide Pak Mus yang aku terjemahkan ke dalam strategi aplikatif, seperti Kawasan Industri Bireuen (KIB) dan beberapa yang lain.

Suatu kali, awal 2006, Pak Mus memanggilku, membicarakan tentang sosok pemimpin Dinas Kimpraswil seperti yang pernah dibicarakan Saiful beberapa waktu lalu. Seingatku, hari itu Jum’at pagi bertempat di ruang kerjanya di Meuligoe. Beliau menanyakan langsung kepadaku tentang sosok yang cocok menduduki jabatan Kepala Kimpraswil menggantikan Pak Darmawan. Aku menyarankan dua nama untuk maksud itu, yakni Ir Zulkifli, Sp dan Ir T Zahedi, MT. Alasanku, kedua dari mereka memiliki keterampilan teknis yang handal meskipun dalam pengalaman berbeda. Nama pertama ahli pengairan, sementara yang kedua ahli jalan dan jembatan. Tanpa pikir panjang, Pak Mus langsung menelepon kedua calon yang kuusul dan dalam sekejab kedua mereka hadir ke ruangan kerja tempat aku dan Pak Mus duduk.

Setelah beberapa menit bercerita ringan seputar kesehatan, Pak Mus langsung ke persoalan, rencana mutasi. Saat ditanya kesediaannya, kedua kandidat itu menolak dengan alasannya masing-masing. Zahedi yang kala itu menjabat sebagai Kabid Bina Marga beralasan, “belum pantas pak, masih ada Pak Zulkifli yang senior,” katanya. Sementara Zulkifli beralasan, belum mampu memimpin sebuah dinas. Aku dan Pak Mus berusaha meyakinkan mereka berdua agar salah satunya mau menggantikan kepala dinas yang sekarang. Jelang shalat Jum’at, sekira pukul setengah dua belas, Pak Mus menutup pertemuan itu, “coba kalian duduk bertigalah, jam lima sore saya sudah mendapatkan nama dari Pak Razuardi,” kata Pak Mus.

Seraya keluar ruang kerja Pak Mus, aku meminta mereka menemuiku setelah shalat Jum’at di rumah Ayah Liyas di Desa Geulanggang Teungoh, Bireuen, untuk membicarakan hal mutasi, kedua mereka menyetujui. Karena aku selalu shalat Jum’at di Mesjid Darul Istiqamah dekat rumah Ayah Liyas, tidak terlalu sulit untuk ketemu, apalagi di meja makan rumah itu sangat memungkinkan untuk rapat kecil.

Usai shalat Jum’at, kurang lebih setengah jam, Zulkifli dan Zahedi tiba dengan kendaraan berbeda. Ayah Liyas mempersilahkan masuk sambil mengarahkan ke meja makan, tempat aku asyik merokok dan minum kopi. Mereka menggeser kursi untuk duduk berhadapan denganku, sambil berkomentar tentang suasana shalat Jum’at di masing-masing mesjid. Aku mengangguk saja seraya berguyon juga menyahuti komentar mereka.

Dalam suasana santai dan penuh kelakar aku mengajak mereka menentukan siapa dari mereka yang bersedia jadi kepala dinas. Kedua mereka tetap dengan jawaban sama seperti di ruang kerja Pak Mustafa. Dialog yang tidak membuahkan hasil itu berjalan hingga setengah jam lebih, sementara jam sudah menjelang pukul tiga (15.00 WIB). Akhirnya, aku bersikap, “kalau saling tolak terus, saya tidak dapatkan jawaban untuk Pak Mus,” kataku. “Jadi sekarang, saya tentukan menurut usia sajalah. Siapa yang tua di antara kalian,” tanyaku. Zahedi menunjuk Zulkifli, yang memang usianya lebih tua satu tahun dari Zahedi. “Kalau begitu Pak Zul yang jadi kepala,” kataku singkat. Zulkifli tetap menolak, namun aku berkeras. Akhirnya, “tapi Pak Raju dan Pondi harus tolong saya terus lah,” kata Zulkifli dengan maksud menuntut dukungan dari aku dan Zahedi. Aku lega, tanpa pikir panjang selepas temu pisah pasca Jum’at-an hari itu aku meluncur ke Meuligoe, menemui Pak Mus.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar