Minggu, 28 Oktober 2012

MUKHTAR RADEN


Bang Tar Raden
Mukhtar Raden
Nama lengkapnya Mukhtar Raden, meninggal tahun 2001 dan dikebumikan di Desa Cot Trieng, Bireuen. Beliau merupakan tokoh Golkar asal Bireuen yang pernah menjabat selaku Ketua DPRK Aceh Utara. Sosok ini cukup dermawan dan mampu meberi solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat waktu itu. Bang Tar merupakan tokoh yang memaksa aku pulang ke Bireuen untuk menjabat Kepala Dinas Bina Marga pada saat pemekaran. Semula aku merasa berat untuk pindah ke Bireuen karena aku meyakini bahwa daerah baru cukup lengkap masalah yang dihadapi. Namun pernyataan Bang Tar waktu itu cukup member semangat bagiku yakni, “meunyoe ken droe teuh soe pikee keu Bireuen nyan,” katanya. Pak Hamdani Raden, adik kandung Bang Tar yang kala itu menjabat sebagai Bupati Bireuen pertama,  mempertanyakan kepada beberapa orang tentang hubunganku dengan Bang Tar. Memang banyak yang tidak terungkap tentang hubunganku dengan tokoh ini. Selain Bang Tar kerabat adik ayahku, Ridwan Mahmud, menejer di PT Arun Lhokseumawe, aku pernah membantunya saat didemo masyarakat Mbang Aceh Utara awal tahun 1999. Masyarakat Mbang mendemo Golkar karena jalan dan jembatan ke lokasi mereka sangat buruk dan tidak bisa dilalui. Bang Tar memerintahkan kepala dinasku untuk meninjau ke lapangan bersama beberapa rekan DPRK Aceh Utara. Aku ingat hari itu Sabtu, aku bersama rekan dinas Pekerjaan Umum menuju lokasi karena kepala dinas menulis memo agar aku yang menindaklanjuti permintaan DPRK. Semula aku kecut juga karena kondisi waktu itu tidak menentu dan cukup mencekam seperti kerap diberitakan koran. Namun aku merasa cukup kasihan kepada Bang Tar karena tidak ada rekan lain yang membelanya dalam mengakomodir tuntutan masyarakat itu, terindikasi yang ikut ke lapangan denganku hanya Salahuddin Ghafur dari partainya.  Selain Salahuddin Ghafur hanya Pak Amiruddin Lakoe dari fraksi ABRI yang ikut bersamaku ke lapangan.
Belum sampai di Mbang, di lokasi jembatan yang hanya terbuat dari empat potong batang kelapa, aku melihat ratusan orang dengan parang di tangan. Kami turun karena perintah dari pemimpin kelompok itu untuk melihat jembatan. “Lihat, bagimana kami bisa lewat,” kata pemimpin mereka denga suara cukup lantang. Salahuddin Ghafur membalas, “kan sudah saya bilang supaya jembatan ini segera dibangun,” katanya dengan maksud aparatur dinaslah yang bertanggung jawab. Aku memerintahkan staf dinas untuk melihat peta lokasi seraya berujar,”jembatan ini memang akan dibangun tahun ini, hanya menunggu tender,” kataku meyakinkan mereka meskipun tidak demikian. Lalu aku menemui pimpinan kelompok itu dengan menawarkan agar mereka mengerjakan jembatan darurat di situ. Orang berkacamata, Bang Leman namanya, setuju dengan usulku sembari menanyakan kapan mereka mengambil gambar dan anggarannya. “Di DPRK hari Senin,” kataku singkat sambil berfikir agar aku menyiapkan gambar serta anggaran sesegera mungkin. Hari itu aku pulang ke rumah jam delapan malam, sesuai permintaan kelompok itu melihat seluruh prasarana mereka yang rusak parah.   
Keesokan harinya, Minggu, sekira pukul setengah sepuluh ketika aku rehat di rumahku Komplek Padang Sakti Permai, Paloh, Lhokseumawe, tiba-tiba mobil dinas BL 3 K berhenti di depan rumah. Aku mengintip dari jendela tertutup gorden. Aku terkejut juga karena Bang Tar selaku ketua DPRK didampingi Salahuddin Ghafur datang menggedor pintu. Tatkala aku membua pintu Bang Tar menyela, “saya pikir kalian kemana hingga malam belum pulang juga,” katanya.  Bertiga kami membahas tindak lanjut besok tatkala masyarakat Mbang datang ke DPRK. Begitulah sepenggal cerita antara aku dan Bang Tar yang jarang diketahui orang, dan aku merasakan tanggungjawab Bang Tar terhadap diriku cukup besar, tatkala aku menyikapi persoalannya. Semoga perhatian Bang Tar kepada masyarakat Aceh Utara masa itu menjadi amalan di sisi Allah SWT.

2 komentar:

  1. assalamu'alakum pak razuardi
    cerita yg sangat membanggakan, saya sebagai anak beliau mengucapkan bnyak terima kasih atas kepercayaan selama ini.. trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. alaikum salam, makasih syahril, ada satu motto penting dalam hidup, generasi yang handal yakni generasi yang menghargai karya generasi sebelumnya.

      Hapus