Selasa, 23 Oktober 2012

RACHMATSYAH NUSFI

Rachmatsyah Nusfi (Seniman yang Insinyur)

Ideologi  yang  hakiki sebenarnya adalah ideologi  yang mampu menggerakkan komunitas tertentu  ke arah produktifitas positif hingga komunitas itu  menjadi puas.  Begitu  kira-kira definisi sederhana sebuah cita-cita  dari sebagian pekerja seni di Banda aceh, ibukota prvinsi Aceh yang  dulunya  bernama Kutaraja.  Seperti  kota-kota lain di  Indonesia  bahkan dunia, kota inipun  dihuni kelompok-kelompok pekerja seni  yang  menganut paham serupa dari ideologi di atas.

Karya seni telah  dikenal  di dunia  selama ratusan tahun. Setiap karya  seni  mengekspresikan  gaya yang unik untuk memberikan  kepuasan tersendiri serta mempengaruhi  imajinasi para  pemerhatinya.  Para seniman abad modern telah mampu berimprovisasi untuk menembus  batasan  yang  diberikan  oleh  inspirasi klasik seniman terdahulu.

Rachmatsyah Nusfi, Jakarta, 2012
Sebagai salah satu   sarana  berekspresi, lukisan tak hanya mampu menghibur para pengunjung yang menyaksikannya.  Jauh dari itu, lukisan telah memberi  kenikmatan kepada  yang  melihat dan  menghayatinya.  Adalah filsof kontemporer  yang juga  seorang insinyur, Munizar Yahya dari  Syiah Kuala yang  mempelajari  hubungan  antara  lukisan, perasaan  dan kenikmatan.  Dia berkesimpulan  bahwa, terjadinya komunikasi antara  lukisan   dengan perasaan yang melihat  adalah suatu proses ke arah  kenikmatan. Bukanlah kenikmatan biasa, melainkan kenikmatan  atas lukisan yang  melarutkan perasan di dalamnya.

Dialah  Amat atau Rachmat, lengkapnya  Rachmatsyah Nusfi, salah seorang  dari  penganut paham sederhana ini,  begitu pengakuannya.  “…… yang  penting  aku bisa berbuat, dan orang  lain bisa menikmati, ……. habis,…….  Perkara  ada rejeki atau tidak  urusan nanti,….”, demikian  komentarnya  satu ketika  saat ia diminta  tolong  menghias  panggung pertunjukan oleh sekelompok ibu-ibu  yang lagi kebingungan  menyongsong acara.  Pernyataan lugas yang  lahir dari ketulusan seorang  Rachmat memberikan  makna tersendiri bagi  kemajuan karya  seni yang  sudah dibuktikan melalui  ide dan karyanya yang tergolong monumental. 
Karyanya yang diminati para pembangun mesjid di awal abad 21 ini adalah Kubah Rahmat, yang didesainnya untuk Islamic Centre, Kota Lhokseumawe, Aceh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar