Senin, 29 Oktober 2012

MEMBUKA USAHA DI BIREUEN

Jika Membuka Usaha di Bireuen
09072000
Usaha Air Kelapa Muda, Batee Glungku, 2007

“Usia kabupaten ini belum setahun. Namun geliat keinginan masyarakat untuk berusaha masyarakat di sektor rill cukup dapat dimaknai. Mereka yang hidup diperkotaan Bireuen dapat digerakkan sekurang-kurangnya dengan empat jenis usaha sektor rill, yakni usaha kuliner, fasilitas kesehatan, fasiltas pendidikan, dan penginapan. Kondisi saat ini memang belum memungkinkan untuk kegiatan itu karena masih dipengaruhi suasana tidak kondusif, sering mogok, dan lain sebagainya. Pilihan jenis usaha di atas lebih dimaknai dari letak perkotaan Bireuen yang berada di persimpangan antara beberapa kabupaten”.

Catatan di atas merupakan dialogku pada 9 Juli 2000 dengan Pak Hamdani Raden, Bupati Bireuen kala itu. Beliau menertawakanku, “jangan pikir itu, negeri masih sepi-sepi saja,” kata Pak Ham, panggilan akrab beliau. Tapi aku juga menyanggah, “liat saja Pak, nanti,” kataku juga bercanda. Aku bermaksud agar Pak Ham merelakan aku membuat desain jalan dua jalur di simpang empat Bireuen agar terlihat kinerja dinasku, Dinas Bina marga, walaupun anggaran kabupaten sangat minim.  Beliau sepakat, namun katanya, “nyang bek ka meuteu eoh keu beulanja, hana nyan”. Maksud Pak Ham dalam Bahasa Indonesianya adalah, “yang jangan cerita soal uang, tidak ada itu”.  Memang Pak Ham selalu berkelakar dalam diskusi dengan kami para kepala dinas.

Salah satu faktor yang membuat aku masih bertahan di Bireuen yakni keinginanku menyaksikan apa yang pernah aku sampaikan pada Pak Ham beberpa tahun silam.  Aku puas sekali manakala pada 2007 terlihat bertambahnya bank-bank baru di Bireuen, diawali dengan hadirnya Bank Mandiri melengkapi empat bank lainnya. Artinya bahasanku bersama Pak Ham pada tahun 2000 telah menjadi nyata.

Berlanjut, ke-empat usaha yang pernah kuceritakan dulu mulai bermunculan. Usaha kuliner tumbuh pesat di Matang Geulumpang Dua, kawasan timur perkotaan Bireuen. Sekolah-sekolah swasta juga mulai  menjamur, khususnya perguruan tinggi. Rumah sakit dan klinik pengobatan maupun bersalin juga tidak kalah dalam pertumbuhannya. Begitupula dengan hotel-hotel yang siap melayani para tamu untuk menginap di Bireuen, bertambah jumlahnya.

Suatu ketika di tahun 2008, aku ngobrol-ngobrol dengan Pak Ham dan aku ceritakan kisah lama tatkala aku bersamanya menjalani masa sulit, pada tahun 2000 hingga pertengahan 2002. Kusinggung tentang kisah empat usaha yang pernah kami diskusikan masa itu. “Pane jeut ta pateh barang kaho, watee nyan mandum boh leupieng,” katanya berolok-olok. Maksud Pak Ham, “mana boleh kita percaya sembarangan, waktu itu semua kelapa bolong”.  Meskipun berkelakar, aku mengevaluasi masa yang kuceritakan kepada Pak Ham dengan tumbuhnya empat sektor tadi kurang lebih enam sampai tujuh tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar