Senin, 25 Februari 2013

ISKANDAR TSANI DAN ISKANDAR ZULKARNAIN


Iskandar Tsani, Keturunan Iskandar Yang Agung (356 SM-323 SM)

Dalam sejarah teturunan raja-raja Melayu, nama Iskandar Zulkarnain kerap disingung. Informasi tentang sosok ini turut melengkapi catatan sejarah Aceh masa pemerintahan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Diyakini bahwa Sulthan Aceh pasca Iskandar Muda (1607-1636 M) ini merupakan keturunan Iskandar yang Agung, kaisar Macedonia. Dalam legenda Islam, Iskandar yang Agung ini lebih dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnain. Dalam cerita di negeri Barat, sosok ini lebih populer dengan sebutan Great Alexander.

Bustanus Salatin, karangan Syeh Nuruddin Ar-Raniri mengulas banyak seputar kehadiran Iskandar Thani, putra Melayu mejadi pemimpin  Aceh setelah Iskandar Muda. ”Maka diketahui Raja Iskandar Muda dengan ilmu firasatnya, bahwasanya ialah Raja Diraja yang turun temurun dan ialah yang termasyhur namanya pada segala alam dan ialah anak cucu Raja Iskandar Zulkarnain. Maka seharusnya kuambil ia akan anakku”.  Demikian kutipan Bustanus Salatin, dalam penjelasan tentang alasan penetapan Iskandar Thani menjadi putra mahkota Kerajaan Aceh. Sulthan Aceh ini adalah putra Sulthan Ahmad, penguasa Pahang yang ditaklukan Iskandar Muda pada 1618 M. Dalam usia belia, ia bersama ibunya, Putri Pahang (Putroe Phang) dibawa ke Aceh sebagai tawanan. Namun ketentuan Tuhan Semesta Alam tak mampu dibendung makhluknya. Iskandar Thani putra Melayu ditakdirkan menjadi raja di negeri yang menawannya.

Tidak berlebihan, jika sosok Iskandar Agung yang kerap diceritakan turut mewarnai peradaban dunia ini, diulas lebih dekat sehingga cukup beralasan bagi para generasi untuk mengaitkan keberadaan kerajaan sekarang dengan masa lalu. Fitur ini relatif penting, mengingat pesan-pesan penaklukkan yang diperankan Iskandar Agung membangkitkan semangat serupa, seperti yang dilakukan Iskandar Tsani. Pengepungan kota Portugis, Lafamusa di Malaka pada 1640 M, menyiratkan Thani terobsesi oleh ketangguhan leluhur dalam upaya penaklukan itu.

Keterkaitan kisah antar sosok, antara Iskandar Thani pada abad ke-17 dengan Iskandar Agung yang melegenda sejak tiga abad sebelum masehi ini, acap memunculkan rasa keingintahuan banyak kalangan. Tentu dibutuhkan informasi untuk semua tentang kiprah keduanya, karena rentang waktu yang relatif jauh tersebut tidak luput dari bias zaman yang sarat kepentingan. Lazimnya, penyelamatan informasi lebih mampu dilakukan dengan proteksi silsilah yang juga merupaka tradisi para ahli waris suatu sistem kerajaan.

Iskandar Yang Agung, penakluk kesohor dari abad silam itu dilahirkan di Pello tahun 356 SM, ibukota Macedonia. Ayahnya, Raja Philip II dari Macedonia merupakan seorang yang visioner. Philip memperbesar dan mengorganisir Angkatan Bersenjata Macedonia serta mengubahnya menjadi kekuatan tempur handal di zamannya. Pertama kali penggunaan Angkatan Bersenjata pilihan ini, yakni tatkala ia menaklukkan daerah sekitar hingga sampai ke utara Yunani, kemudian berbalik ke selatan hingga menguasai hampir seluruh Yunani. Philip juga membentuk federasi kota-kota Yunani dan bertindak sendiri sebagai pemimpin. Begitupun, ragam sukses penaklukan mampu diraih, nahas tak dapat ditolak. Tatkala merancang penyerangan terhadap Kekaisaran Persia yang cukup luas, yang berada di sebelah timur Yunani, Philip terbunuh, dalam usianya yang baru mencapai empat puluh enam tahun.

Iskandar Agung berusia dua puluh tahun tatkala ayahnya wafat. Meskipun dalam belia, Iskandar tak menemui kesulitan untuk menggantikan tahta ayahnya. Memang jauh sebelumnya, Philip dengan cermat  melakukan persiapan untuk penggantinya, Iskandar. Sebagai sosok berbakat dalam memimpin dan berdisiplin tinggi, Iskandar sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman kemiliteran cukup lumayan.

Dalam hal pendidikan intelektual pun Philip tidak mengabaikannya. Guru buat Iskandar disediakan ayahnya seorang yang istimewa, yakni Aristoteles. Sosok guru paling disegani, cendikiawan dan filosof yang paling termasyhur di dunia masa itu.
Di Yunani maupun daerah-daerah belahan utara, penduduk yang ditaklukkan Philip memandang kematian Philip merupakan kesempatan bagus untuk menghalau dan menumbangkan kekuasaan Macedonia. Terindikasi wilayah taklukan mulai mempersiapkan aksi untuk melakukan perlawanan. Namun kenyataan bercerita lain, hanya dalam tempo sekira dua tahun bertahta, Iskandar mampu menumpas gejolak di kedua daerah itu.

Sesudah tuntas meredam gejolak dalam negeri, perhatian dialihkan untuk mewujudkan obsisi ayahnya, taklukkan Persia. Selama dua ribu tahun bangsa Persia menguasai wilayah yang amat luas, membentang mulai dari Laut Tengah hingga India. Kendati Persia tidak lagi berada dalam puncak kehebatannya, namun masih tetap merupakan lawan yang tangguh dan disegani. Di samping merupakan kekaisaran yang paling luas, Persia juga paling kuat dan paling kaya di muka bumi. Iskandar melancarkan serangan pertamanya ke Persia tahun 334 SM. Karena dia harus menyisihkan sebagian pasukannya di dalam negeri untuk memelihara dan mengawasi miliknya, Eropa. Iskandar cuma memiliki 35.000 balatentara yang selalu menyertainya tatkala dia melakukan petualangan berani matinya. Suatu jumlah kecil tak berarti jika dibandingkan dengan kekuatan Angkatan Bersenjata Persia. Di samping sejumlah kemalangan yang menimpanya, Iskandar juga meraih serentetan kemenangan dalam gempurannya terhadap pasukan Persia. Ada tiga faktor yang menjadi sebab Iskandar leluasa meraih kemenangannya. Pertama, pasukan yang ditinggalkan ayahandanya, Philip, betul-betul terlatih dan terorganisir baik, lebih baik dari pasukan Persia. Kedua, Iskandar sendiri seorang panglima perang yang genius, mungkin paling genius di sepanjang zaman. Ketiga, keberanian Iskandar sendiri. Meskipun dia memimpin pada tahap awal pertempuran berada di belakang garis front, keputusan Iskandar memimpin sendiri pasukan berkudanya, cukup memberi pukulan yang sangat menentukan. Keputusan ini merupakan cara yang penuh resiko, dan tak jarang Iskandar terluka dalam berbagai pertempuran. Dengan demikian, pasukannya menyaksikan langsung bahwa Iskandar betul-betul tidak kepalang tanggung menghadapi bahaya dan tak serta-merta membebankan risiko pada pundak orang lain. Hal ini memberi dampak langsung terhadap peningkatan moral prajurit yang cukup meyakinkan.

Selanjutnya Iskandar memimpin pasukannya menerjang Asia Kecil, menghajar habis pasukan kecil Persia yang ditempatkan di situ. Sukses di daerah penaklukan itu, dia bergerak menuju utara Suriah, menggilas pasukan besar Persia di kota Issus. Rampung di sini dia balik menyerbu ke arah selatan. Setelah terlibat pertempuran berat dan sulit sepanjang tujuh bulan, dia berhasil menaklukkan kota pulau Phoenicia Tyre yang kini bernama Libanon. Tatkala Iskandar sedang bertempur di Tyre, dia menerima pesan dari Raja Persia yang menawarkan separo kerajaannya untuk Iskandar asal saja Iskandar bersedia menyetujui perjanjian perdamaian. Salah seorang jenderal pasukan Iskandar, Parmenio, mengganggap tawaran bagus dan layak diterima. "Jika aku Iskandar, tawaran itu kuterima." Iskandar menjawab enteng komentar jenderal itu, "Begitu pula aku, andaikata aku ini bernama Parmenio."

Sesudah Tyre terkuasai, Iskandar meneruskan gerakannya ke selatan. Menyerbu Gaza dan wilayah ini bertekuk lutut setelah terjadi pertempuran selama dua bulan. Beda dengan Mesir yang menyerah tanpa pertempuran apa pun. Di saat menguasai Mesir, Iskandar menetap sebentar sekedar memberi waktu istirahat bagi prajurit-prajuritnya. Di negeri itu, kendati umurnya baru dua puluh empat tahun, dia diberi anugerah gelar Firaun, gelar raja-raja Mesir.  Sesudah dirasa cukup istirahat, Iskandar dan pasukannya bergerak lagi kembali ke daratan Asia. Dikobarkannya lagi pertempuran hidup-mati yang  sungguh mempertaruhkan reputasi di wilayah Arbela pada tahun 331 SM. Sejarah mencatat, dia sepenuhnya sudah melumpuhkan sebagian besar balatentara Persia dalam tahun itu.

Dalam suasana gemilang itu, Iskandar memboyong tentaranya ke Babylon dan menerobos masuk ke kota-kota Persia, Suso dan Persepolis. Raja Persia Darius III (bukan pendahulunya Darius Yang Agung) dibunuh oleh opsir-opsirnya di tahun 330 SM dengan tujuan agar tidak memaklumkan menyerah kepada Iskandar. Begitupun, Iskandar menggempur tuntas seluruh pertahanan Babylon dan membunuh pengganti Darius. Dalam pertempuran selama tiga tahun terakhir, tercatat Iskandar sudah menaklukkan semua belahan timur negeri Iran dan terus mendesak ke Asia Tengah.

Dengan segenap Kekaisaran Persia berada di bawah kekuasaannya, Iskandar selayaknya ambil keputusan kembali pulang ke negerinya dan mengorganisir daerah kekuasaannya. Tetapi, haus penaklukannya tak tertahankan lagi, dan dengan alasan itu pula dia meneruskan penyerbuannya ke Afganistan. Di situ dia giring tentaranya melintasi pegunungan Hindu Kush menuju India. Serentetan kemenangan besar direnggutnya di bagian barat India hingga ianya bermaksud melanjutkan serangan ke bagian timur India. Tetapi, pasukannya sudah terlalu letih akibat bertempur bertahun-tahun, dan menolak meneruskan penyerbuan. Memahami kondisi, akhirnya Iskandar kembali ke Persia.

Sesudah kembali ke Persia, Iskandar menghabiskan waktu sekitar setahun mengorganisir tentara dan wilayah kekaisaran yang dikuasainya. Iskandar dibesarkan dalam keyakinan bahwa kebudayaan Yunani adalah satu-satunya kebudayaan yang unggul dan terbaik. Semua bangsa yang bukan Yunani adalah bangsa barbar. Keyakinan seperti itu tentunya tersebar luas di seluruh alam pikiran dan dunia Yunani, bahkan Aristoteles sendiri berpendapat begitu. Terlepas dari keberhasilannya menumpas habis tentara Persia, Iskandar menyadari bahwa bangsa Persia bukanlah bangsa barbar. Orang-orang Persia bisa saja sama mampu dan sama pandai dengan orang Yunani. Oleh karena itu Iskandar berniat untuk menggabungkan kedua kekaisaran itu jadi satu. Dijelmakannya pembentukan gabungan budaya dari kerajaan Graeco-Persia dengan dirinya sendiri sebagai penguasa. Tersirat pengakuan bahwa bangsa Persia merupakan partner sederajat dengan bangsa Yunani dan Macedonia. Implementasi kolaborasi dua kekaisaran berjalan sukses sehingga banyak orang Persia terekrut ke dalam angkatan perangnya. Iskandar mengadakan pesta besar, yang  disebutnya dengan peristiwa "Perkawinan Barat dan Timur". Ketika itu ribuan tentara Macedonia secara resmi mengawini puteri-puteri Asia. Dia sendiri, walaupun sudah mempersunting istri seorang gadis bangsawan Asia sebelumnya, kawin lagi dengan puteri Darius.

Menyadari angkatan perang semakin tangguh, Iskandar bermaksud melakukan tambahan penaklukan yang sudah diorganisir kembali. Dia bermaksud menaklukkan Arabia, serta wilayah-wilayah yang terletak di belahan utara Persia. Dia berencana menduduki India dan menyerbu Roma, Carthago serta negeri seputaran laut tengah. Betapapun rencana itu sudah tersusun, yang jelas tak ada penaklukan-penaklukan berikutnya. Di awal bulan Juni tahun 323 SM tatkala Iskandar berada di Babylon, tiba-tiba dia terserang demam tinggi dan meninggal dunia sepuluh hari kemudian. Saat itu umurnya belum lagi mencapai tiga puluh tiga tahun. Iskandar tidak menunjuk penggantinya, dan segera sesudah dia tiada mulailah terjadi perebutan kekuasaan. Dalam pergumulan ini, bundanya, istrinya, anak-anaknya semuanya terbunuh. Kerajaannya tercabik-cabik akibat perebutan di antara para jenderalnya. Karena Iskandar mati dalam usia amat muda dan tak pernah terkalahkan, banyak spekulasi apakah gerangan yang akan terjadi andaikata usianya panjang. Apabila dia membawa pasukannya menyerbu dan menaklukkan daerah-daerah sebelah barat laut tengah, besar kemungkinan dia akan berhasil, dan dalam hal ini seluruh sejarah Eropah Barat akan mengalami perubahan besar-besaran.

Wilayah Kekaisaran Iskandar Yang Agung

Iskandar seorang tokoh yang teramat dramatis dalam sejarah, sehingga karier dan pribadinya tetap jadi sumber kekaguman. Bukti-bukti kesuksesan kariernya cukup dramatis dan banyak kisah bermunculan menyangkut namanya. Dan jelas sekali sudah menjadi ambisinya menjadi penakluk terbesar sepanjang jaman. Selaku pejuang individual, pada dirinya tercakup kemampuan dan keberanian. Sebagai seorang jenderal, dia teramat ulung, karena selama sebelas tahun pertempuran, tak sekali pun terkalahkan. Bersamaan dengan itu, dia seorang intelektual yang belajar di bawah asuhan Aristoteles dan menguasai sajak-sajak Homer. Dalam hal merealisir gagasan bahwa bangsa yang bukan Yunani tidaklah mesti bangsa barbar, jelas menunjukkan bahwa pikirannya punya daya jangkau lebih jauh ketimbang sebagian besar pemikir-pemikir Yunani saat itu. Di lain pihak, Iskandar memiliki pandangan cupet. Meski berulang kali dia menghadapi risiko dalam pertempuran, dia tidak mempersiapkan penggantinya. Keteledoran inilah yang menjadi penyebab begitu cepat kerajaannya hancur berantakan setelah dia tutup usia.


Iskandar  berwajah rupawan, dan dia bermurah hati kepada musuh yang dikalahkannya. Di lain pihak, dia juga seorang "egomaniac" dan bertabiat kejam. Pada suatu peristiwa, ketika terjadi pertengkaran, sementara dirinya dalam keadaan kurang kontrol, dia membunuh teman akrabnya, Clertus, seorang yang pernah menyelamatkan jiwanya. Dalam jangka panjang, pengaruh terpenting dari penaklukan yang dilakukan Iskandar adalah mendekatkan kebudayaan Yunani dengan Timur Tengah, sehingga masing-masing mendapat faedah untuk menambah dan mempertinggi kebudayaan masing-masing. Selama dan  sesudah masa keberadaan Iskandar, kebudayaan Yunani dengan cepat tersebar ke Iran, Mesopotamia, Suriah, Yudea, dan Mesir. Meskipun masa sebelum Iskandar, kebudayaan Yunani memang sudah merasuk ke daerah-daerah ini tetapi berjalan lambat. Iskandar menyebarkan pengaruh kebudayaan Yunani ke India dan Asia Tengah, daerah yang belum terjamah sebelumnya. Dalam masa abad Hellenistik (abad-abad segera sesudah langkah-langkah Iskandar) gagasan timur, khususnya gagasan keagamaan tersebar ke dunia Yunani. Dengan kebudayaan Hellenistik ini, terlihat Yunani lebih dominan, namun tanpa disadari  pikiran timur cukup besar mempengaruhi Roma.

Dalam perjalanan kariernya, Iskandar mendirikan lebih dari dua puluh satu kota baru. Termasyhur dari semua itu adalah Alexandria (Iskandariah) di Mesir yang relatif cepat menjadi kota terkemuka di dunia, serta merangkap sebagai pusat budaya dan pendidikan yang termasyhur. Kota lainnya seperti Herat dan Kandahar di Afganistan juga berkembang jadi kota-kota penting. Begitulah keterkaitan kisah tiga Iskandar yang menghiasi cerita tanah Serambi Mekah. Iskandar Muda dan Iskandar Tsani terobsesi akan kebesaran nama Iskandar Yang Agung, Sang Penakluk, di dataran Eropa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar