Kamis, 14 Februari 2013

PEKERJA RACHMATSYAH NUSFI


Pekerja Rachmatsyah Nusfi
Rachmat, 1983

Dia sosok keras hati untuk mempertahankan imej bahwa komunitas mahasiswa teknik merupakan mahasiswa unik. Dari tampilan urakan, kecerdasan, keterampilan, dan beberapa imej kejantanan harus melekat dalam diri mahasiswa teknik. Setidak-tidaknya begitu doktrin yang disampaikan Rachmat kepada setiap mahasiswa baru yang berdiskusi dengannya. Kalau semua berfikir objektif, Rachmat-lah yang layak menjadi simbol mahasiswa teknik.  Jauh dari kesan cengeng dan cukup mandiri untuk mengatasi masalah kegiatan mahasiswa pada masa itu. Hampir tiada kata tidak sukses dalam setiap kegiatan mahasiswa yang terlibat dirinya. Aku sendiri banyak mendapatkan motivasi dari Rachmat, khususnya dalam mencari uang lewat pembuatan spanduk dan membangun stand pameran. Tidak sedikit kawan-kawan dari Parte Buruh yang bergantung pada keputusannya untuk ikut bergabung. Suaranya lantang, keras dan tegas dalam mengelola kawan-kawan untuk mensukseskan berbagai kegiatan mahasiswa teknik.

Di setiap acara camping mahasiswa teknik, Rachmat selalu hadir dan menempatkan diri pada posisi mempersiapkan lokasi berikut spanduk yang dibuatnya. Tidak hanya itu, Rachmat juga tidak enggan melakukan kerja keras lainnya seperti menggergaji kayu, memasang tenda, memanjat pohon, dan lain sebagainya. “Harus sukses,” kata Rachmat tatkala membangun kawasan wisata pantai Ujong Batee. Di lingkungan kampus Unsyiah, goresan Rachmat mudah dikenal dan memberi dampak terhadap imej bahwa anak-anak teknik itu juga seniman. Kadang kala Rachmat menggunakan sepatu kulit sebangsa lars dengan jeans supak lengkap dengan oblong murahan, duduk di kantin. Rekan-rekan datang mendekat satu per-satu meramaikan tempat itu seraya memesan kopi pancung yang murah meriah.
Rachmat, 1983
Hampir dapat dipastikan setiap diadakannya kegiatan ekstra kurikuler, camping atau pesta kesenian kampus, Rachmat mesti diajak kompromi. Banyak logo kegiatan mahasiswa yang didesain Rachmat seperti logo Leha-leha, Leuser, majalah Kern dan lain sebagainya. “Meskipun banyak yang klaim bahwa karya itu bukan aku buat,” kata Rachmat di Jakarta, 26 Nopember 2011. Beberapa seniman kerap membantahku tentang kreativitas Rachmat di kampus dan menganggap aku terlalu fanatik terhadap Rachmat karena memang dalam setiap event aku selalu berada di bawah kendalinya. Tapi aku berani buktikan bahwa Rachmat banyak meninggalkan karya baik dalam bentuk fisik maupun non-fisik seperti imej kebersamaan. Banyak lagi kisah Rachmat selaku pekerja yang tidak tercatat sebagai kontribusi terhadap imej, bahwa kampus teknik memang keras.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar