Kamis, 14 Februari 2013

SERI FAKULTAS TEKNIK-23


Mengapa Alumni Kita

Mahasiswa Teknik camping lintas
angkatan dan jurusan 1983
Di tahun 2005, sebelum Rachmat hijrah ke Jakarta, aku pernah berbincang kepadanya tentang kebersamaan pasca kuliah di teknik. Waktu itu aku sering ketemu Rachmat di Mediatama Konsultan, milik Nazaruddin, atau populernya Bang Edt, mahasiswa angkatan 1976. Di ruang meeting yang representatif, aku sampai sore melihat Rachmat mendesain bangunan atas permintaan Bang Edt. Tidak jarang kawan lain datang membawa kopi dan pisang goreng ke tempat kami berkumpul, seperti Erick Kethang dan beberapa yanga lain. Aku kagum kepada Bang Edt meski tidak ku-ungkap, karena dia banyak mengajak kawan-kawanku bekerja di tempatnya.  Dia kuakui sebagai simbol mahasiswa Fakultas Teknik yang berani bertindak atas nama kebenaran. Wajar aku pikir, konsultan Bang Edt bertahan dengan mamajemen yang cukup baik.  Selain itu, Bang Edt tidak pernah enggan memberi data yang diperlukan kawan-kawan lain untuk keperluan perencanaan yang tiada sangkut pautnya dengan Bang Edt.  Pada hari pertemuan itu juga aku berkesimpulan bahwa Bang Edt masih seperti tatkala berstatus mahsiswa dulu.

Selepas corat-coret kertas, Rachmat memulai membuka diskusi kecil seputar keberadaan alumni. “Ada yang pongah juga, dan ada yang aku minta tampar,” kata Rachmat seraya menjelaskan kondisi tempat ia bekerja di Aceh Barat. Lalu Rachmat mengulas panjang lebar tentang kondisi alumni yang seakan acuh tak acuh terhadap kondisi kawan-kawan.  Bang Edt diam saja sambil senyum tanpa kata dan memang sosok Bang Edt tidak pernah memanaskan suasana. Namun demikian, para mahasiswa di bawah lettingnya banyak yang segan bahkan takut kepada Bang Edt, kecuali mahasiswa senior seperti Rachmat, mahasiswa angkatan 1977 .

Aku mencatat apa yang dikeluhkan Rachmat tentang kondisi alumni saat itu dan kusimpan untuk kubuktikan apa yang disampaikannya dulu. Meskipun apa yang diungkapkan Rachmat merupakan hal biasa di dalam lapangan kerja. Lantas Rachmat memerintahkan aku mengingat apa yang disampaikannya, “bila perlu kau catat,” katanya keras seperti biasa dia berbicara kepadaku. “Pertama, berebut jabatan sesama alumni, kedua tidak tampil dalam suatu desain engineering yang spektakuler,” katanya sambil mengatakan padaku,”coba tunjuk insinyur kita yang mana yang muncul dalam desain monumental.” Sebab mereka selalu, “mengagungkan kemewahan tertentu,” katanya berapi-api. Dalam kaitan dengan kampus, Rachmat lebih pesimis dan tidak terlalu banhyak berharap, karena, “tidak terkemas dalam satu ikatan yang pro produktivitas kampus dan tidak peduli almamater,” lanjutnya. “Sudah itu mana ada alumni kita yang  komentar tentang kondisi konstruksi,” sambungnya.

Aku menyimak tanpa bantah, memang aku tidak pernah membantah Rachmat sejak di kampus dulu. Namun dalam hati aku berharap ada ungkapan Rachmat yang mesti didiskusikan beberapa tahun mendatang. Bang Edt yang sesekali keluar masuk ruang tempat kami bertemu mendengar saja ocehan Rachmat juga tanpa bantah. Pemandangan serupa ini kerap aku saksikan tatkala kami masih tergabung dalam Parte Buruh, di mana Rachmat menghujat sosok tertentu Bang Edt mendinginkan bahkan memilih diam. Nopember 2012, aku berjumpa Rachmat di Jakarta untuk mengajaknya berpameran seni di Taman Sari, Banda Aceh. Dia diam dan berkomentar kecil,”ya jaman sudah berubah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar