Minggu, 24 Februari 2013

TELAAH SASTRA TIMUR TENGAH


Di millenium ke-3 ini banyak karya sastra roman dari timur tengah yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Karya roman itu relatif vulgar untuk masa sebelum ini dan jarang beredar ke dunia luar. Begitulah keterbukaan dunia, dampak dari budaya massa. 

Sore itu
Terjemahan dari :
That Afternoon
karya : Sembel Du Kosem

Kuhubungi Sefney Dorris untuk bertemu di kantor sore itu. Wanita belia itu mengiyakan dengan perasaan berat. Setidaknya, begitu yang tersirat dari komunikasi beberapa hari terakhir, layaknya pasangan mesra yang sedang dirundung soal pelik. ”Sudah Zel, kita cukupkan saja sampai di sini”, ungkap Sefney sejak tiga hari lalu. Aku selalu berkeras untuk bertahan. ”Tidak Sef, aku tidak mampu melupakanmu”, kataku selalu berdalih. Tak mudah melupakan sosok Sefney, rupawan berparas Lebanon, pemilik banyak talenta yang kerap menumbuhkan opini kekaguman setiap orang berkenalan dengannya.

Cintaku kepada Sefney sulit diukur dengan wujud apapun, begitupula sebaliknya. Banyak kisah romantis mendukung ketulusan cinta kami yang terbangun itu. Begitu indah, begitu hakiki dan semakin menguasai perasaan masing-masing. Terlebih lagi saat berdua beberapa minggu silam yang kami lalui di Venecia Appartement cukup membahagiakan, ”tak berbanding”, komentar  kekasihku itu berkali. Akupun menimpali dengan ucapan sama, penuh pengakuan. Suasana romantis ditambah dengan ekspresi ketangguhan cinta masing-masing seakan melupakan kami berdua punya pasangan lain. ”Rozel, belum laparkah engkau?”, tanya Sefney lembut sayang mengingat aku seharian tidak mencicipi sepotong pizzapun, makanan pokok negeri itu. Aku menggeleng, ”Kenikmatan ini melebihi segalanya”, balasku. Peluang menyiakan waktu seakan tertutup rapat oleh bongkahan besar cinta kami di musim liburan itu.

Pertemuan sore itu terlihat Sefney sedikit murung. Aku menegurnya mesra, sambutannya dingin tanpa ekspresi. Kuungkap perasaanku kepadanya, dia gelisah bercampur marah. Terkadang sedikit mengancam untuk tidak menemuiku lagi. Kuremas jemarinya, dia tak membalas kecuali memandangku jengkel. ”Sudah Zel, kita akhiri semua ini, lupakanlah,” ucapnya pelan. Aku tetap keras bertahan meyakinkan diri, dia milikku.

Kutatap dia lama-lama, kutarik lengannya. Dia berdiri melayani sedikit kesal, ”mengapa tak mengerti juga”, bentaknya pelan.”Tidak Sef, aku sangat mencintaimu.” Lantas kupeluk ia erat sekali, kucium kedua pipinya, keningnya, dan bibirnya juga. Perasaanku semakin tak menentu. ”Aku tak sanggup kehilangan engkau Sef,” mengiringi dekapan eratku jelang melepas. Kami duduk lagi di kursi semula, bersebelahan. Sesekali dia menatapku untuk kembali berpaling. Kami berdua menyambung cerita yang kurang berpihak kepada cinta besar termiliki. Kembali diam, hening tanpa komentar. ”Aku tersiksa Zel, tidak sanggup aku memelihara cinta besar ini”, gumamnya di sela-sela diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar